Mari Berguru pada Orang Desa

Catatan Jayanto  KAMIS, 10 JUNI 2021 , 09:41:00 WIB | OLEH: JAYANTO ARUS ADI

Mari Berguru pada Orang Desa
Sajak Kunthul Munyuk

Kamu bilang aku ndeso, aku bilang biarin, emang iya kenapa?
Desa itu buatku taman sari, wajah asri, wajah luhur Indonesia
Sayang, wajah wajah itu banyak berubah, seperti kisah kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandange
Kali kali tempat aku mandi,
airnya tak bening lagi, yuyu ilang, apalagi kuthuk dan udang. Ingat rekaman masa itu, gogoh ucheng, ngirik, mancing, duuuuuh luaaar biasa.


***

Penthongan ku sudah lama juga tak ditabuh atau dipenthongi lagi
Doro muluk
Rojopati, gobyog
Tak terdengar lagi
Lapuk kumuh dikerubuti laba laba…

Surau, masjid sepi
Yang riuuh pangkalan ojek
dan warung warung kopi untuk ngrumpi dan kongkow
Kenduri dan kerja bhakti tak diminati..
Yang muda seperti menghindar..
Yang ada tetua saja, dus suasana hampa.
Kamu bilang aku ndeso, aku bilang biarin.
Dibilang kunthul munyuk juga tidak ada
Ya, aku ndesa, kau sebut kunthul munyuk tidak ada, desa itu sangkan paran
Rumaku jiwaku..
Susuh peradaban, legenda kehidupan
Kami bersaksi tentang gemah ripah loh jinawi
Guyub sekuyup kuyupnya
Kangen sekali kampungku yang dulu
Ngundho layangan di galengan sawah
Tomprang doro
Sembari nyanyi cempe cempe undangne baret gedhe tak upahi duduh tape....
Mak jleb rasanya
Itu sepotong kisah
Tentang madesan, bukan ndeso
Madesan itu value, tentang budaya, tentang etos dan jatidiri
Kamu bilang aku ndeso, aku jawab sekarang biarin
Bukan sekadar ndeso, aku abdi dalem dari desa ini
Kembaraku susuri jagad
Memantapkan ke mana laku harus bermuara
Muaraku tidak di laut
Tapi kembali ke kampung, desaku
Tempat aku lahir, hidup dan tumbuh
Sungguh itu cita cita
Desalah tempatku berumah dan berpulang
Hanya sebelumnya ingin kujejaki dunia dari ujung ke ujung
Dan kukatakan dengan nyaring, tempat terindah itu di sini, di dalam hatiku sendiri  
             *****   

Kutipan sajak Kuntul Munyuk di atas, sesungguhnya merupakan fragmen tentang fenomena globalisasi. Betapa saat ini dunia benar benar tidak lagi berbatas, dalam konteks jarak dan waktu. Teknologi telah merekatkan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, begitu pun sebaliknya. Sulit dipahami nalar, ketika itu kita yang berdomisili pada belahan dunia lain, dapat dipersatukan atau dipertemukan dengan mereka yang berada di belahan yang lain lagi.

Fenomena dalam konteks di atas, secara psikologi dan sosiologis telah melahirkan kharakter atau kepribadian yang multi. Ya, multi karena merangkum beragam dimensi yang kompleks dengan segala corak dan implikasinya. Sampai di sini, lalu ke mana muara dari globalisasi ini? Benarkah globalisasi itu menyatukan, atau sebaliknya membuat fragmentasi. Betapa tidak, kita tengok dinamika peradaban yang mengiringi perjalanan kita. Masih lekat di benak kita masing masing, bagaimana kota dan desa menapakkan eksistensinya secara saling mengisi, atau komplementary.

Lebih menegaskan, ketika itu desa dipersepsikan sebagai perdikan dengan khasanah kulturalnya yang guyub kental oleh kebersamaan juga kuyub laku spritualnya. Itu Desa, sementara kota menjadi representasi wilayah manca nagara yang heterogeny secara sosial, politik, budaya juga ekonominya. Prototype inilah maka kota termanifestasi budaya yang sublim karena terlahir oleh prima interpares.

Modernitas yang menggaut dalam proses riil di masyarakat terpersonifikasi oleh masyarakat kota. Sebaliknya masyarakat desa secara simbolik berujud pada tata nilai agraris, sehingga lekat dan menyatu dengan alam.

Televisi dan kendaraan bermotor menjadi virus awal yang mengoyak tatanan adem dengan segala gaduh, juga gegar budaya yang mendorong paksa tata nilai baru. Warga desa kebingungan memutuskan apa yang menjadi prioritasnya. Membeli televisi yang hidup sepanjang hari meski bahasanya tak mereka pahami, membeli kendaraan bermotor sekadar untuk pajangan rumah sementara atap bocor tak diperbaiki, hingga terjebak pertikaian akibat beda pilihan partai yang sesungguhnya tak mereka kenali.

Setiap dinamika meminta ongkos terjadinya kehilangan-kehilangan. Juga karena banyak substansi dan nuansa wajah akhir 70-an” ternyata tetap kita jumpai pada hari-hari ini, terutama yang menyangkut seberapa matang kesiapan sosial budaya masyarakat kita dalam melayani tabrakan langsung” dengan arus yang kita agung-agungkan sebagai kemajuan.

Kuntul munyuk bukanlah entitas, namun lebih merupakan profil generasi gamang yang terlahir oleh fenomena masa mengambang. Ya, mengambang karena pijakan ideologisnya tidak konkret, sehingga fanatisme atau goal yang merupakan das sollen dari semangat zaman nyaris luput. Itulah yang dimaksud dari terminology kuntul munyuk dalam konteks di atas.

Sekarang eranya sudah lebih maju, lebih komplikatif, lebih pelik, karena bukan saja terlahir di era globalisasi, namun masuk pada situasi transisi yang tak pernah usai. Capaian yang terjadi sesungguhnya adalah tapakan sementara, karena muara dari segenap proses mengalami metamorfosa yang tidak pernah berakhir.

Sayang, ironis bin cilaka atas nama modernisasi, globalisasi, dan kemajuan teknologi sekat yang membedakan desa dan kota sekarang nyaris tidak kentara. Jatidiri, kharakter dan juga kultur telah teracak oleh mesin zaman yang bernama kapitalisme. Simak kini bagaimana peradaban modern semua telah merecoki masyrakat dan saudara saudara kita yang ada di desa.

Desa yang menjadi jantung pertahanan budaya sekaligus identitas peradaban tentang Indonesia dibombardemen neokolonialisme bernama kemajuan teknologi. Sekali waktu menepi dan renungkan sejenak betapa desa mengalami krisis. Spiritualisme terkoyak, budaya terpasung, dan akhirnya kemiskinan menjadi realitas massal.

Ketika Surau atau Langgar sepi, anak anak muda berkeliaran di pangkalan ojek, atau warung warung menebalkan hedonism. Ladang dan sawah tak tergarap karena naluri agraris telah tercerabut. Kecenderungan jamak seperti ini, siapa yang mesti mempertanggungjwabkan buah modernisasi. Siapa juga mesti bertanggung jawab ketika petani susah mencari pupuk, sementara kios pulsa ada di mana-mana??

Siapa juga menjadi bapak asuh warung warung kelontong di desa desa, ketika pasar modern, dengan tambahan mart mart menggedor di uluh hati masyarakat desa. Ibaratnya pertandingan tinju, sangatlah tidak fair, warung warung kecil harus berkompetisi dengan arogansi kapitalisme dengan mart mart tadi.

Tragisnya regulasi yang melindungi rakyat kecil agar tak tergilas oleh mesin kapitalis tadi nyaris tidak ada. Komoditas pertanian tidak ada tempat di sini. Ini bukan hoaks, tetapi benar benar terjadi, sementara jeruk dan jambu atau buah local tidak ada, namun buah buah impor justru tersedia. Kepada siapa rakyat kecil, atau petani mengadu??

Mari berguru pada orang desa, seperti kata Emha Ainun Nadji, modernisasi tak ubahnya balap sepeda di velodrome sana. Kita tidak tahu, siapa di depan, siapa di belakang? Analogi sarkastis fenomena ini boleh jadi adalah balap motor GP yang diikuti Pedrosa atau Valentino Rosi. Ketika kita tidak mengikuti dari awal susah untuk mengetahui siapa yang di depan atau memimpin lap lap yang sudah berjalan.

Bergurulah pada sejarah. Kita tidak perlu malu menjadi bangsa Indonesia, dengan jatidirinya. Buat apa malu, bukankah nenek moyang kita mampu melahirkan mahakarya seperti Candi Borobudur. Peradaban dibangun karena ketamakan dan ambisi semata.

Akhirnya sebagai penutup, sesungguhnya sebaik baiknya kemajuan adalah proses yang mengulang ulang. Dunia berjalan dari tiada, ada dan kembali tiada lagi. Setiap zaman melahirkan pemimpin, dan setiap pemimpin ada masanya. Kita hormati dialektika itu, jangan sejarah berulang dengan tragedinya, otoritarianisme akan melahirkan peoper power, angkara murka akan menghadirkan ratu adil, juga jahiliah yang kemudian melahirkan nabi.

Ahhhh kenapa jadi nglantur ke mana-mana. Sekali lagi mari berguru pada orang desa. Karena mereka sesungguhnya cermin zaman. Bercerminlah padanya, seperti lirik lagu Desaku yang kucinta. Jangan usik kedamaian biar menjadi oase abadi hingga akhir menutup mata.

Jayanto Arus Adi Pemimpin Umum RMOL Jateng, Pokja Hukum Dewan Pers, Ketua JMSI, dan Anggota Dewan Pertimbangan Unnes.

Komentar Pembaca
Selamat Datang (calon) Presiden Ganjar
Memaknai Titah Megawati

Memaknai Titah Megawati

KAMIS, 03 JUNI 2021

Presiden Republik Medsos

Presiden Republik Medsos

JUM'AT, 28 MEI 2021

Duuuh, Gibran Rakabuming

Duuuh, Gibran Rakabuming

SELASA, 23 FEBRUARI 2021

Assalamualaikum Eisti - Ali

Assalamualaikum Eisti - Ali

SENIN, 15 FEBRUARI 2021

Kurusetra Pilpres 2024

Kurusetra Pilpres 2024

JUM'AT, 29 JANUARI 2021

Masjid Kontainer

Masjid Kontainer

SELASA, 27 APRIL 2021 , 14:59:00

Perawatan Tanaman

Perawatan Tanaman

RABU, 28 APRIL 2021 , 18:04:00

Tabur Bunga Untuk Korban Kapal Selam Nanggala KRI 402