Oknum Perwira Korem 073/Makutarama Berpangkat Kapten Dilaporkan Ke POM Salatiga

Hukrim  SELASA, 02 FEBRUARI 2021 , 18:51:00 WIB | LAPORAN: ERNA YUNUS B

Oknum Perwira Korem 073/Makutarama Berpangkat Kapten Dilaporkan Ke POM Salatiga
RMOLJateng. Seorang Perwira Korem 073/Makutarama dengan inisial Kapten AK dilaporkan ke Detasemen Polisi Militer (Denpom) IV/3 Kota Salatiga oleh seorang warga Tingkir, Salatiga, WN, Selasa (2/1).

WN didampingi ibu angkatnya, AKBP (P) Rugaya Renwarin SH MM serta guru spiritualnya Pengasuh Ponpes An Nur Gus Ali Munafah Spdi Candirejo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.

Dikatakan AKBP (Pur) Rugaya Renwarin yang juga mantan Wakaporles Salatiga, pelaporan ini pangkalnya dari sebuah kerjasama yang dilakukan Kapten AK dengan WN senilai Rp 50 juta.

Dalam perjalanan kerja sama itu, Kapten AK melakukan pembatalan sepihak tanpa ada pemberitahuan di awal.

Fatalnya, pembatalan sepihak ini berujung kerugian besar dialami WN. Pasalnya, WN harus menguras keuangannya untuk membayar ganti rugi ke pihak ketiga.

"Kerugian bukan cuma materi puluhan juta yang dialami anak saya sebagai pelapor, bahkan anak saya harus sampai menata keuangan hingga 8 bulan nyambi ngojek, anter paket, nyopiri orang ke luar kota untuk bisa menghidupi 6 anak angkatnya," ujar AKBP (Pur) Rugaya Renwarin, saat ditemui usai mendampingi WN di Denpom 3/Salatiga, Selasa (2/2).

Yang disayangkan, ungkap AKBP (Pur) Rugaya Renwarin yang juga Dosen di dua universitas ternama di Salatiga ini, oknum Kapten AK tidak memiliki itikad baik dalam menyelesaikan masalah ini,  bahkan mengeluarkan ancaman ketika persoalan ini diteruskan ke Komandan Danrem 073/Makutarama nasib pekerjaan WN akan tamat.

"Yang bersangkutan sempat menyelipkan uang Rp 1 juta ke pintu rumah WN di daerah Tingkir Salatiga tengah malam. Apa pantas seorang perwira menyelesaikan masalah dengan cara seperti itu. Benar-benar tidak menghargai wanita dan menyepelekan warga sipil," paparnya.

Ditambahkan Pengasuh Ponpes An Nur Gus Ali Munafah Spdi Candirejo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang dari persoalan ini pembelajaran bagi oknum memiliki yang  pangkat bisa menghargai sesama manusia. Terutama warga sipil.

"Mengapa saya terlibat dan turun langsung dalam perkara ini, karena ini berkaitan dengan 6 anak angkat yang ikut dizholimi. Enam anak angkat ini empat diantaranya yatim piatu yang berada di bawa pengasuhan saya," paparnya.

Gus Ali menegaskan, tidak akan meminta ganti rugi apa pun tapi cukup sikap gantle seorang perwira dengan pangkat Kapten meminta maaf.

"Bukan justru keluar ancaman terhadap warga sipil. Ingat setelah tidak lagi menjabat akan kembali ke masyarakat biasa," tegas Gus Ali. [jie]

Komentar Pembaca
Nanam Padi Tidak Harus Di Sawah

Nanam Padi Tidak Harus Di Sawah

SENIN, 22 MARET 2021 , 09:47:00

Kesibukan Pekerja Saat Setahun Pandemi Covid-19
Ucapan Selamat Dengan Karangan Bunga

Ucapan Selamat Dengan Karangan Bunga

KAMIS, 25 FEBRUARI 2021 , 14:08:00