Pemkot Semarang Revisi Perwal Pembatasan Sosial Berskala Besar

Daerah  KAMIS, 07 JANUARI 2021 , 15:31:00 WIB | LAPORAN: LIA DINA YUNITA

Pemkot Semarang Revisi Perwal Pembatasan Sosial Berskala Besar
RMOLJateng. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi akan melakukan revisi perwal menyikapi ketetapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dari pusat.

"Melihat perkembangan ini maka pemkot akan mengimplementasikan kebijakan pemerintah pusat melalui revisi perwal PKM kita, sebenarnya beberapa kegiatan sudah diatur dalam PKM tapi selama dua minggu kedepan mulai 11-25 januari beberapa akan kita sesuaikan," kata Hendi, Kamis (7/1).

Hendi sapaan akrabnya, aturan Work From Home (WFH) dari pemerintah pusat mengisyaratkan 75% PNS. Sedangkan, WFH kondisi  di Semarang saat ini hanya 50%.

Alhasil, nanti akan disesuaikan menjadi 75%, sesuai dengan aturan pemerintah pusat.

"Tapi jika di beberapa dinas jumlah ASN atau non ASN nya tidak banyak dan tidak bisa menerapkan 75% WFH maka kami akan mengatur pengurangan jam kerja yakni masuk jam 08.00 dan jam layanan sampai jam 14.00," jelasnya.

Sedangkan untuk sistem belajar mengajar, di Kota Semarang saat ini untuk tingkat TK, SD, SMP memang masih menerapkan belajar daring.

"Kebutuhan pokok beroperasi dengan kapasitas kita tetap sesuaikan dengan apa yang terjadi hingga saat ini. Lalu operasional tempat perbelanjaan, tempat makan dan mall mulai hari senin 11-25 Januari kita sepakati tutupnya jam 19.00, hanya saja untuk restoran, tempat hiburan, PKL jika awalnya PKM sampai jam 23.00, untuk PSBB ini hanya sampai jam 21.00. Dan fokus kita adalah pada pembatasan kapasitas pengunjung, jika aturan pusat 25%, kami ambil kebijakan kapasitas maksimal 50%," terangnya.

Untuk aturan di bidang konstruksi, akan tetap beroperasi dengan prokes yang ketat, dan sejauh ini Kota Semarang sudah melakukan hal itu. Apalagi, tambah Hendi, saat ini kegiatan konstruksi yang sesuai dengan APBD memang belum berjalan.

Tempat ibadah saat ini kapasitas maksimal 50% dan ini sesuai dengan PKM yang lama, namun akan lebih dipertegas dengan menerapkan SOP kesehatan.

"Fasum dan kegiatan sosbud diminta dihentikan, kami di pemkot untuk kegiatan seperti seminar, dialog, diskusi selama dua minggu ke depan kita minta ditunda. Untuk pernikahan tetap diperbolehkan namun hanya prosesi akad saja dan tetap mematuhi protokol kesehatan," tuturnya.

Terkait moda transportasi sejauh ini masih tetap berjalan, bahkan BRT milik Pemkot juga masih mengikuti kebijakan pusat yakni dengan pembatasan penumpang, pemeriksaan suhu tubuh dan selalu menggunakan masker.

"Untuk ruas jalan kami perkirakan sekitar sembilan ruas jalan yang akan di tutup selama dua minggu ke depan, kecuali ruas jalan di simpang lima dan letjen suprapto ini tidak kita tutup 24 jam tapi kita tutup jam 21.00-06.00, sedangkan tujuh ruas jalan yang lain tutup 24 jam selama kurun waktu dua minggu," ungkapnya.

Simpang Lima dan Letjen Suprapto tidak ditutup 24 jam karena dinilai banyak pelaku usaha seperti PKL dan restoran yang berada disekitar jalan tersebut hingga pukul 21.00.

"Untuk tempat hiburan dan restoran yang melanggar sanksinya adalah penutupan atau pembubaran kegiatan, sanksi berikutnya jika 2-3x masih membandel nanti izin usahanya bisa kita tinjau ulang,” pungkasnya. [hen]

Komentar Pembaca
BINCANG SEHAT • Memandang Pandemi Dari Kacamata Relawan
Saat-saat HRS Dipindahkan

Saat-saat HRS Dipindahkan

KAMIS, 14 JANUARI 2021 , 21:15:00

Ribka Tjiptaning: Tolak Vaksin Covid 19

Ribka Tjiptaning: Tolak Vaksin Covid 19

SELASA, 12 JANUARI 2021 , 20:50:00

Penangkapan Tersangka Pengedar Uang Palsu Di Semarang
Peluncuran UKMmu Oleh OJK Jateng

Peluncuran UKMmu Oleh OJK Jateng

JUM'AT, 27 NOVEMBER 2020 , 18:31:00

Gelar Perkara Kasus Pembunuhan Wanita Di Semarang

Gelar Perkara Kasus Pembunuhan Wanita Di Semarang

JUM'AT, 20 NOVEMBER 2020 , 13:44:00