Demokrasi Semprul

Catatan Jayanto  MINGGU, 08 NOVEMBER 2020 , 20:05:00 WIB | OLEH: JAYANTO ARUS ADI

Demokrasi Semprul

Jayanto Arus Adi

 Demokrasi itu dari sononya berasal dari dua kata, demos dan kratos. Demos dalam bahasa Yunani artinya rakyat, dan kratos adalah pemerintahan. Jadi demokrasi bisa dimaknakan pemerintahan rakyat.

Kalau melihat konsepnya sudah luar biasa. Tapi atas nama politik distorsinya jadi malang megung tidak karuan. Konsep pemerintahan rakyat yang menahbiskan suara rakyat adalah suara tuhan vox populi vox dei, jelas gak sembarangan.

Lhaaah, lantas mengapa demokrasi kita jadi dlap dlup. Apa yang salah dengan itu semua? Jawaban yang gampang, sabar namanya juga sedang berproses, ini transisi yang harus dilewati.

Itu penjelasan kelas begawan, negarawan. Tapi kalau penjelasan kaum kodok ngorek ungkapannya ya, wudhelmu kuwi, cangkemu suwek. Lha bagaimana tidak, konsep ketatanegaraan kita telah dibongkar pasang sedemikian rupa. Filosofi yang dirungkepi bukan memijakkan diri dari otentisitas nilai nilai luhur yang ada.

Sebenarnya kalau tidak urik dan julik, biarkah transisi reziem ke reziem berjalan natural dengan ngugemi filsafat mikhul duwur mendhem jero selesai. Tapi yang terjadi rebyek pakai perang paregreg. Tokoh panutannya Ken Arok. Waduuh ya ciloko.

Inilah yang rusak. Apalagi partai sebagai kendaraan juga malah jadi menjadi pelanggeng oligarkhi politik. Maciaveli segala cara dihalalkan.

Ampun ampun. Tak perlu disebut, tapi saya yakin publik tahu. Sikap rakus ingin berkuasa terus membuat atmosfir menjadi keruh. Seperti kelakuan sejumlah kepala daerah yang sama sekali tak menunjukkan keteladanan. Bagaimana tidak, mending kalau prestasinya bagus, tapi mereka bernyali melanggengkan kekuasaan kepada keluarganya.

Andai istri atau anaknya punya kapasitas dan kapabilitas masih mending, tapi kalau niatannya demi melanggengkan kekuasan, ya jelas semprul. Inilah demokrasi semprul. Dus bukan vox populi vox dei.

Sebenarnya kalau sampai praktek seperti itu terjadi posisi kita di mana. Ya kita ikut bersalah, betapa tidak karena uang Rp 50 ribu, hati nurani digadaikan. Itu khan semprul to?!

Maka demokrasi iti bukan perkara mudah. Demokrasi bukan seperti bercinta dengan pelacur, tapi lebih rendah dan buruk dari padanya. Camkan itu jangan gampang menjual murah pilihan. Maju tak gentar membela yang bayar adalah embrio awal korupsi.

Artinya kerusakan itu ada andil kita atau sampean sampean jaga.

Lihat juga, bagaimana kelakuan tak pantas dipertontonkan para tokoh yang sama sekali jauh dari sikap negarawan. Untuk dapat berkuasa rela keluar dari partai besutannya sendiri. Ingat kejadian seperti itu bisa terjadi karena dia haus kekuasaan, atau karena korban politik uang. Karena terhadap jabatan jadi silau dan kalap.

Andai Pak Harto tidak larut dengan kekuasaan yang digenggamnya, namun sadar dan tersistematisasi menciptakan kaderisasi sekaligus mengestafetkan dia akan menjadi tokoh besar dunia. Indonesia sendiri jga tidak perlu mengalami setback.
Dalam konteks ini Golkar perlu digugat lagi atas kecerobohan sikap politiknya ketika itu.

Dan fenomena ini mesti jadi renungan dan pelajaran bagi partai penguasa, seperti PDI Perjuangan. Ingat demokrasi yang disokong janganlah demokrasi semprul. Patronage terhadap ketua umum mesti diposisikan secara rasional. Megawati perlu segera mematangkan kaderisasi agar chaos tidak terjadi.

Pelajaran yang sama perlu kita petik pada kemelut di PAN. Naif, tragis dan begitu paradoksal, seorang founding father partai justru dituding sebagi biang rontoknya elektabilitas. Sontoloyo bener ini.

Pendeknya 2024 adalah momentum strategis sekaligus kritis bagi perjalanan demokrasi bangsa ini. Akankah suksesi nasional mampu berjalan smoth atau sebaliknya jadi perang paregreg.

Om Bowo, sang menhan akankah menjadi old crak yang maju lagi. Masih adakah energi dan nyali serta masuk MURI karena maju jadi capres untuk keempat kalinya.

Wuaaah wuaaaah.

Kesepakatan Batu Tulis yang konon mengamanatkan paket Bowo-Puan masihkah layak jual??  Lepas layak atau tidak Om Bowo perlu menakar dan bercermin diri. Tapi kalau tokoh maju lagi ya monggo saja.

Akhirnya menutup catatan demokrasi semprul rasanya kita perlu menaruh hormat dan memetik keteladanan pada dua tokoh besar bangsa ini, yaitu Bung Hatta dan HB IX. Kedua beliau ini menempatkan nurani sebagai pertimbangan politiknya. Jaman mencatat kiprah beliau dan menutupnya dengan tinta emas.

*Jayanto Arus Adi - Wartawan Senior, Pemimpin Umum RMOL Jateng, dan  Pokja Hukum Dewan Pers.


Komentar Pembaca
Langkah Negarawan Achmad Purnomo

Langkah Negarawan Achmad Purnomo

MINGGU, 07 JUNI 2020

Lockdown Saja Sampai Tuwek

Lockdown Saja Sampai Tuwek

SENIN, 20 APRIL 2020

Rekomendasi Gibran, Moral Vs Akal

Rekomendasi Gibran, Moral Vs Akal

RABU, 26 FEBRUARI 2020

BUMD versus BUMG

BUMD versus BUMG

SABTU, 22 FEBRUARI 2020

Langkah Ahimsa Seorang Sri Puryono

Langkah Ahimsa Seorang Sri Puryono

SABTU, 26 OKTOBER 2019

Mboten Ngapusi, Mboten Korupsi

Mboten Ngapusi, Mboten Korupsi

RABU, 18 SEPTEMBER 2019

Anies Baswedan Positif Covid-19

Anies Baswedan Positif Covid-19

SELASA, 01 DESEMBER 2020 , 11:51:49

Copot Baliho Habib Rizieq Tak Berizin oleh Satpol PP Kota Semarang
PROMO - UNDANGAN WEBINAR INTERNASIONAL

PROMO - UNDANGAN WEBINAR INTERNASIONAL

KAMIS, 19 NOVEMBER 2020 , 10:58:48

Arus Lalin Di Tol Kalikangkung Semarang

Arus Lalin Di Tol Kalikangkung Semarang

RABU, 28 OKTOBER 2020 , 18:16:00

Tradisi Maulid Nabi Di Kaliwungu Kendal

Tradisi Maulid Nabi Di Kaliwungu Kendal

RABU, 28 OKTOBER 2020 , 19:39:00

Suasana Pusat Oleh-Oleh Khas Semarang Saat Libur Panjang