Polisi Serahkan Data Pendemo Pelajar Ke Disdik Dan Sekolah

Pendidikan  RABU, 14 OKTOBER 2020 , 19:30:00 WIB | LAPORAN: ADITYA ILYAS SAPUTRA

Polisi Serahkan Data Pendemo Pelajar Ke Disdik Dan Sekolah
RMOLJateng. Aksi demontrasi menolak omnibus law UU Cipta Kerja di kawasan Patung Kuda Arjuna Wiwaha, Jakarta Pusat/RMOL

Polda Metro Jaya bakal memberikan data 900 pelajar yang ditangap dalam kerusuhan unjuk rasa menolak omnibus law UU Cipta Kerja pada Selasa kemarin (13/10) kepada Dinas Pendidikan dan pihak sekolah.

Dengan begitu, sekolah bisa turut serta membantu proses edukasi kepada siswanya agar tidak berbuat anarkis. 

"Kami akan sampaikan ke sekolah-sekolahnya bahkan ke Disdik agar bisa membantu edukasi pada mereka-mereka ini," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus di Mapolda Metro Jaya, Rabu (14/10).

Keputusan ini diambil tak lepas dari sikap anarkisme yang diperlihatkan para pelajar. Sebab, ketika kerusuhan terjadi, mereka seolah tak memiliki rasa takut. Para pelajar ini bahkan berani melempari petugas dan merusak fasilitas umum.

Selain itu, polisi juga meminta keterlibatan orang tua harus ditingkatkan. Para orang tua diwajibkan mengawasi segala kegiatan anak-anaknya, supaya tidak terhasut melakukan aksi anarkis.

"Hampir setiap kali ditanya orang tuanya rata-rata mengatakan tidak tahu anaknya melakukan seperti ini. Kita mengedukasi kepada para orang tua dan keluarganya agar ayo sama-sama kita mengawasi anak-anak kita ini," tegas Yusri.

Sementara itu, Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyerukan dan meminta semua elemen masyarakat apapun latar belakangnya tidak melibatkan anak-anak dalam aksi menolak Undang-Undang Cipta Kerja yang baru disahkan DPR RI.

Pasalnya sepanjang aksi menolak UU Cipta Kerja ditemukan fakta bahwa ribuan anak yang tidak mempunyai kepentingan ikut dalam demostrasi menolak UU RI Cipta Kerja di berbagai daerah.

Yang memprihatinkan anak-anak berstatus pelajar tersebut disinyalir didatangkan dari berbagai daerah untuk saling lempar dengan aparat keamanan dalam aksi demonstrasi untuk menciptakan situasi memanas dan gaduh,” ujar Ketua Komisi nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait, dalam keterangannya, Rabu (14/10).

Arist menjelasan banyak anak-anak yang diamankan aparat kepolisian sebelum sampai pada arena domonstrasi mengaku bahwa mereka dikerahkan melalui sistim pesan berantai menggunakan media sosial. Mereka juga tidak tahu apa yang diperjuangkan.

"Kami hanya diperintakan berkumpul disatu tempat lalu disediakan kendaraan dan ada juga yang harus berjuang menumpang truk secara berantai," kata Arist mengutip pengakuan seorang anak yang diamankan di Polda Metro Jaya.[dit]



Komentar Pembaca
Foto: Taman Kota

Foto: Taman Kota

RABU, 16 SEPTEMBER 2020 , 14:52:00

Wisuda Drive Thru di UPGRIS Semarang

Wisuda Drive Thru di UPGRIS Semarang

SABTU, 29 AGUSTUS 2020 , 12:14:00

Alat Berat Eksplorasi Alam

Alat Berat Eksplorasi Alam

SABTU, 26 SEPTEMBER 2020 , 15:09:00