RUU Cipta Kerja Dapat Dorong UMKM Berkembang Di Masa Pandemi Covid-19

Daerah  JUM'AT, 25 SEPTEMBER 2020 , 16:36:00 WIB | LAPORAN: PRABOWO

RUU Cipta Kerja Dapat Dorong UMKM Berkembang Di Masa Pandemi Covid-19
RMOLJateng. Para pengusaha membutuhkan regulasi yang mendukung perkembangan UMKM di masa pandemi Covid-19.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Semarang, Arnaz Agung Andrarasmara, hal tersebut dapat tertuang dalam RUU Cipta Kerja.

Menurutnya, saat ini pertumbuhan UMKM di Kota Semarang naik 2-3% dari tahun sebelumnya.

Hal tersebut didorong fenomena para pekerja di perusahaan lalu dirumahkan, sekarang beralih menjadi pengusaha pemula.

"Kemarin Rabu, saya sampaikan dalam webinar Komitmen RUU Cipta Kerja pada Usaha Kecil dan Menengah yang kami gelar. Sekarang ini yang perlu dilakukan adalah upaya mendorong regulasi pro UMKM, khususnya dalam hal permodalan," kata Arnaz, di Semarang, Jumat (25/9).

Arnaz menambahkan, pengusaha juga memerlukan pendampingan dari pengusaha yang sudah berhasil kepada mereka yang akan merintis usaha seperti UMKM.

Menurutnya, kelemahan pengusaha baru termasuk UMKM adalah pada sisi perilaku administrasi. Kata dia, jika mereka tidak bisa menggabungkan antara perilaku kewirausahaan dengan perilaku administrasi usaha, akan sulit berkembang.

"Jadi harus seimbang, RUU Cipta Kerja meringankan peijinan-perijinan dan ini akan melahirkan pengusaha-pengusaha baru. Namun butuh pendampingan dari pengusaha yang sudah jadi. Kalau tidak, misal muncul 10 pengusaha baru tapi tidak didampingi dengan benar yang rontok juga," jelasnya.

Sebelumnya Juru Bicara Kementerian Keuangan, Yustinus Prastowo mengatakan, UMKM memiliki peranan besar pada perekonomian nasional. Kata dia, UMKM menyumbang 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dan menyerap 97 persen tenaga kerja.

"Namun itu berbanding terbalik dengan layanan finansial yang diperoleh sektor UMKM. Porsi kredit UMKM dari perbankan hanya 19,6%. Dan itu sebagian besar dari bank-bank BUMN. UMKM yang mampu terlibat dalam rantai perdagangan di Asia Tenggara juga cuma 6,3 persen," kata Yustinus.

Menurut Yustinus, selama pandemi, sektor usaha kecil dan menengah terdampak hingga mencapai 84 persen. Dalam catatan Kementerian Keuangan, paparnya, tiga sektor usaha kecil dan menengah yang paling terdampak wabah adalah sektor akomodasi dan makan-minum (92,47%), sektor transportasi dan pergudangan (90,34%), dan sektor lainnya (90,34%).

Dia menilai tujuan pokok klaster UMKM dalam RUU Cipta Kerja, adalah untuk meningkatkan kemudahan, lebih memberdayakan, dan meningkatkan perlindungan terhadap Usaha Mikro Kecil dan Menengah.

"Upaya pemberdayaan UMKM yang terdapat dalam RUU Cipta Kerja tidak bertujuan hanya parsial, tapi hendak membangun ekosistem dengan regulasi yang bagus, berkepastian hukum. RUU Cipta Kerja tidak hanya menyentuh perizinan, tapi juga permodalan, sistem pembayaran, dan juga kemitraannya dengan usaha besar," tuturnya.

RUU Cipta Kerja juga dipastikan akan memberi berbagai insentif untuk pemberdayaan UMKM. Insentif tersebut berupa pengurangan pajak penghasilan, subsidi biaya perizinan, hinggga insentif kepabeanan.

"RUU Cipta Kerja juga memastikan kegiatan usaha sektor UMKM ini dapat dijadikan jaminan untuk memperoleh kredit program. Jadi, paradigma ketentuan-ketentuan UMKM dalam RUU Cipta Kerja menurut hemat kami sangat bagus. Jelas ada keberpihakan, dan kongkrit menjawab kebutuhan saat ini," tutupnya. [hen]

Komentar Pembaca
Foto: Taman Kota

Foto: Taman Kota

RABU, 16 SEPTEMBER 2020 , 14:52:00

Wisuda Drive Thru di UPGRIS Semarang

Wisuda Drive Thru di UPGRIS Semarang

SABTU, 29 AGUSTUS 2020 , 12:14:00

Alat Berat Eksplorasi Alam

Alat Berat Eksplorasi Alam

SABTU, 26 SEPTEMBER 2020 , 15:09:00