Ganjal Laju Kemiskinan Di Tengah Wabah Corona

Opini  SELASA, 11 AGUSTUS 2020 , 14:38:00 WIB

Ganjal Laju Kemiskinan Di Tengah Wabah Corona
KONDISI wabah virus corona berdampak serius disemua sektor. Kegiatan ekonomi cenderung melambat bahkan minus. Baru-baru ini, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi nasional kuartal II mencapai angka "5,32 %.

Di Jawa Tengah bahkan pertumbuhan ekonomi kuartal II berada pada "5,94 %. Lesunya pasar nasional juga terlihat, banyak pedagang mengeluh sepi akibat pendemi ini dan sektor industri yang merumahkan karyawannya.

Kondisi ekonimi semacam ini akan meningkatkan kemiskinan secara masif. Bank Dunia memprediksi akan ada 5,5 juta sampai 8 juta orang di Indonesia yang jatuh dalam kemiskinan karena pandemi ini.

Penambahan jumlah orang miskin baru itu disebabkan penurunan agregat pendapatan rumah tangga serta hilangnya pekerjaan untuk 2,6 juta-3,6 juta orang.

Wabah covid-19 membuat masyarakat Indonesia semakin sulit mencari nafkah. Pekerja di beberapa sektor sangat terdampak seperti transportasi dan konstruksi.

Pada bulan Maret 2020 berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Jawa Tengah mencapai 3,98 juta orang (11,41 persen), bertambah sebanyak 301,5 ribu orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada September 2019 yang berjumlah 3,68 juta orang (10,58 persen).

Jika tidak diganjal, laju kemiskinan akan terus menggelinding mencapai dua digit dimana tahun 2019 lalu sudah berada di angka 9,46 % (persen).

Dengan skenario terburuk menurut prediksi Bank Dunia, angka kemiskinan bisa mencapai 34 juta orang secara nasional.

Namun, semua proyeksi buruk itu bisa diredam dengan kebijakan yang tepat. Program jaring pengaman sosial yang disalurkan dalam bentuk bantuan sosial harus dievaluasi.

Bantuan pemerintah difokuskan pada penggerakan ekonomi dan peningkatan daya beli masyarakat. Bantuan tunai untuk mereka yang dalam keadaan ekonomi stadium IV (sulit makan) dan pembangunan inprastuktur padat karya untuk menyerap tenagakerja yang selama ini kesulitan memperoleh pekerjaan ditengah pandemi.

Selain lewat bantuan sosial, pengentasan warga dari kemiskinan mesti dilakukan melalui perbaikan kualitas sumber daya manusia dan peningkatan skala ekonomi usaha mikro, kecil, dan menengah.

Pemerintah harus menggerakan sektor pertanian (padi, palawija dan perikanan) dan sektor UMKM. Produktivitas sektor pertanian yang tidak mengalami penurunan di masa pandemi ini perlu didukung proses pemasarannya (marketing) melalui on line shop, mengingat kontak fisik di masa pandemi ini sangat riskan dengan penularan virus.

Suntikan modal usaha untuk UMKM agar pelaku usaha kecil mampu survive (bertahan) dan tetap berproduksi ditengah badai pandemic.

Tidak hanya meningkatkan angka kemiskinan, masa pandemi covid-19 ini juga memperlebar ketimpangan pengeluaran masyarakat.

Jurang ketimpangan pada akhir tahun ini juga bisa kian dalam pada sektor tenaga kerja dan pendidikan.

Kondisi ini dipengaruhi kesenjangan akses teknologi informasi dan komunikasi antara kelompok atas dan bawah.

Masyarakat kelas menengah-atas masih bisa bekerja dan beraktivitas dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi.

Sebaliknya, kendala dihadapi masyarakat kelas menengah-bawah yang tidak memiliki akses. Penduduk kelas bawah tidak bisa mengapitalisasi peluang yang muncul di masa pandemi covid-19.

Ini karena sebagian besar bekerja di sektor informal yang memerlukan kehadiran fisik dan tidak bisa secara virtual. [***]

Suparman, S.ST, M.M
Fungsional Statistisi Muda di BPS Kab. Pati

Komentar Pembaca
Protokol Kesehatan

Protokol Kesehatan

SENIN, 10 AGUSTUS 2020 , 11:43:00

Robot Ikut Wisuda Daring Di Undip Semarang

Robot Ikut Wisuda Daring Di Undip Semarang

SELASA, 28 JULI 2020 , 15:37:00

Foto: Taman Kota

Foto: Taman Kota

RABU, 16 SEPTEMBER 2020 , 14:52:00