Monumen Pasar Nongko, Kisah Heroik Pertempuran Empat Hari Di Solo

Nusantara  MINGGU, 09 AGUSTUS 2020 , 16:44:00 WIB | LAPORAN: DIAN TANTI BURHANI

Monumen Pasar Nongko, Kisah Heroik Pertempuran Empat Hari Di Solo
RMOLJateng. Peristiwa Serangan Umum Empat Hari Di Solo, lokasinya kini ditandai dengan bangunan Monumen Pasar Nongko. Lokasi tersebut menjadi saksi bisu sejarah perjuangan warga Solo yang dipelopori pemuda dan pelajar usia belasan tahun dalam mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.

Monumen tersebut sebagai penanda pernah terjadi pertempuran besar melawan tentara Belanda dalam Agresi Belanda II di Solo yang berlangsung selama 4 hari dari tanggal 7-10 Agustus 1949. 

Dalam rangka memperingati Pertempuran 4 Hari di kota Solo dan tragedi kemanusiaan pada tanggal 9 Agustus 1949, kerabat Mangkunegaran Solo gelar acara doa bersama sama dan mengheningkan cipta juga membersihkan Monumen Pasar Nangka.

"Sekaligus untuk mengenang korban jiwa dalam peristiwa pertempuran di kawasan Pasar Nangka," jelas Satyotomo, salah seorang Kerabat Mangkunegaran Solo, Minggu (9/8).

Satyotomo sebut dari keterangan dari  salah satu dari putra pelaku sejarah pertempuran di pasar Nangka sebut kawasan tersebut menjadi lokasi pertempuran yang menjadi basis gerilyawan.

Dimana mereka bisa bergerak cepat usai menyerang tentara Belanda dengan melarikan diri di gang-gang kecil yang ada di wilayah tersebut.

"Disana banyaknya gang-gang kecil untuk menyelamatkan diri," paparnya.

Saat itu para pejuang berhasil melawan pasukan Belanda dan membakar tank milik Belanda yang membuat tentara Belanda marah membabi buta kemudian menyerang para pejuang dan warga di seputaran Pasar Nangka.

Pada tanggal 9 Agustus 1949 para pejuang yang sedang berada di kampung Pasar Nangka diserbu oleh tentara Belanda. Salah satu korbannya adalah adik dari R.M. Sartomo seorang kerabat Mangkunegaran yang juga merupakan adik kandung Mr Sartono.

Mr Sartono adalah anggota delegasi RI dalam melakukan perundingan dengan Belanda. Kelak beliau terpilih sebagai Ketua Parlemen Indonesia yang pertama.

Sementara itu, salah satu tokoh Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) Sumartono Hadinoto sangat mengapresiasi acara doa bersama untuk mengenang jasa  mereka yang gugur dalam pertempuran selama 4 hari dari tanggal 7-10 Agustus 1949.

Dimana  salah satu korbanya adalah satu orang Thionghoa, yang merupakan seorang penjual bakmi. Dengan gagah berani membantu para pejuang bukan hanya logistik namun juga angkat senjata. Hingga akhir hayatnya juga berkorban nyawa demi bumi pertiwi.

"Indonesia lahir dengan Bhineka tunggal Ika dan sejak awal berdiri adalah dari berbagai suku dan agama di Indonesia," imbuhnya.

Sumartono yang juga seorang tokoh Thionghoa, secara pribadi berharap kepada generasi muda penerus bangsa, meski belum bisa berkontribusi banyak tetapi tetap  harus menjaga Pancasila dan Bhinekanya.

"Karena ini satu-satunya Dasar Negara kita yang tidak bisa diganggu gugat," tegasnya. [jie]








Komentar Pembaca
Protokol Kesehatan

Protokol Kesehatan

SENIN, 10 AGUSTUS 2020 , 11:43:00

Foto: Taman Kota

Foto: Taman Kota

RABU, 16 SEPTEMBER 2020 , 14:52:00

Wisuda Drive Thru di UPGRIS Semarang

Wisuda Drive Thru di UPGRIS Semarang

SABTU, 29 AGUSTUS 2020 , 12:14:00