Diskusi Cegah Radikalisme Di Kampus, Ini Kata Nusron Wahid

Nusantara  SELASA, 04 AGUSTUS 2020 , 13:52:00 WIB | LAPORAN: PRABOWO

Diskusi Cegah Radikalisme Di Kampus, Ini Kata Nusron Wahid
RMOLJateng. Anggota DPR RI, Nusron Wahid, mengatakan terdapat beberapa tahap seseorang sebelum diketahui terpapar radikalisme.

Hal tersebut dia sampaikan dalam Zoominar diskusi dengan tajuk 'Pencegahan Radikalisasi di Lingkungan Perguruan Tinggi' yang digelar oleh Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Menurut dia, seseorang yang terpapar radikalisme bisa dilihat mulai tahap sejak pemikirannya, kemudian sikap ibadahnya, lalu gerakan propaganda yang diikuti atau dilakukan, dan yang paling berbahaya adalah mengangkat senjata.

"Yang pertama itu adalah Fikrah atau pemikirannya, kemudian Amaliah atau ibadahnya, lalu Harakah atau gerakannya. Nah, Harakah ini dibagi dua antara tahap gerakan propaganda atau yang angkat senjata," kata Nusron, Selasa (4/8).

Nusron menerangkan pada tahap awal, seseorang biasanya melakukan pengakuan atas kebenarannya dan menafikkan kebenaran orang lain. Dia menilai pada fase itu, kelompok maupun seseorang masih terkesan biasa saja.

Kemudian, mulai mempertentangkan antara sunah dan tradisi. Banyak yang menentang tradisi leluhur. Itu ciri-ciri kedua.

"Lalu Harakah, yang pertama adalah propaganda. Mempertentangkan negara dengan syariat agama, menafikkan konsep negara. Yang paling ekstrim adalah mengangkat senjata," paparnya.

Nusron Wahid mengatakan tempat-tempat persebaran radikalisme bisa saja berada di organisasi rohani islam (rohis), asistensi agama islam, asrama-asrama yang terindikasi radikal.

Untuk itu, Nusron Wahid mengusulkan agar pihak kampus memperbanyak organisasi keagamaan yang mencerminkan sikap toleransi dan nasionalisme.

"Kalau untuk kerja panjangnya, ya mulai sejak SMA. Kampus harus punya data mana SMA terbanyak yang masuk, kemudian mitigasi di kalangan mahasiswa, dan nanti rehabilitasinya ya saat di lingkungan profesional," tambah dia.

Sementara itu, Direktur Pusat Studi Radikalisme dan Terorisme Unnes, Ali Masyhar Mursyid, menerangkan kalau dulu radikalisme dilampiaskan dengan serangan fisik saat ini menyerang pola pikir masyarakat.

Menurutnya, rekrutmen radikalisme kalau dulu yang disasar adalah buruh pabrik atau pengangguran, saat ini lebih menyasar mahasiswa.

"Mahasiswa cenderung lebih kritis terhadap pemerintah, labil, dan melek IT jadi terkesan serba instan," katanya.

Dia menambahkan tiga komponen yang perlu diawasi adalah masjid fasilitas kampus, Unit Kegiatan Mahasiswa, dan kos-kos binaan.

"Kos binaan itu, mahasiswa baru ditawari masuk kos gratis. Biayanya dari alumni. Itu menjadi rekrutmen yang luar biasa," tutupnya. [jie]





Komentar Pembaca
Protokol Kesehatan

Protokol Kesehatan

SENIN, 10 AGUSTUS 2020 , 11:43:00

Foto: Taman Kota

Foto: Taman Kota

RABU, 16 SEPTEMBER 2020 , 14:52:00

Wisuda Drive Thru di UPGRIS Semarang

Wisuda Drive Thru di UPGRIS Semarang

SABTU, 29 AGUSTUS 2020 , 12:14:00