Cara Asik Belajar Matematika, Mahasiswa Kudus Ciptakan Monopoli Bertema Budaya

Pendidikan  KAMIS, 23 JULI 2020 , 19:04:00 WIB | LAPORAN:

Cara Asik Belajar Matematika, Mahasiswa Kudus Ciptakan Monopoli Bertema Budaya
RMOLJateng. Empat orang mahasiswa Universitas Muria Kudus menciptakan alat pembelajaran matematika menarik.

Pengunaan alat ini menyerupai monopoli. Bahkan, tema monopoli yang dibuat mahasiswa Kudus ini juga mengenalkan budaya Kota Kretek.

Permainan yang dibuat mahasiswa Kudus ini diberi nama Monopoli Matematika (Politika), untuk materinya bisa disesuaikan dengan mata pelajarannya. Artinya bisa digunakan untuk anak usia sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP)dan sekolah menengah atas (SMA).

"Cara bermain sama, tapi materinya bisa dirubah," kata salah satu mahasiswa pembuat alat, Vany Diah Puspita Sari, Kamis (23/7) siang.

Awalnya, permainan tersebut dibuat oleh empat orang mahasiwa Kudus sebagai tugas kuliah. Empat  orang tersebut yakni Vany Diah Puspita Sari, Miqdam Maulana, Shinta Herawati, dan Arung Nugroso Sumarno Putra. Permainan tersebut bisa lebih fleksibel digunakan, apalagi materinya dibuat sesuai keinginan karena bisa diubah.

Bahkan sudah ada SD yang memesan Monopoli Matematika sebanyak tujuh buah untuk pembelajaran di sekolah. SD tersebut tertarik membeli karya Mahasiswa Kudus ini karena materi bisa digunakan untuk membantu proses belajar mengajar matematika, apalagi dengan cara bermain.

"Menggunakan metode permainan ada keasyikan tersendiri bagi peserta didik, sehingga akan tertarik dan mudah untuk menerima, mengamati dan memahami pelajaran yang dipelajari," terangnya.

Permainan tersebut dibuat mahasiswa Kudus dari triplek dan dibentuk menjadi kotak, bagian atas terdapat gambar-gambar dan juga kartu. Ada tiga jenis kartu yang disiapkan, kartu dengan pertanyaan mudah, sedang dan berat.

Penentuan pertanyaan tersebut tergantung saat siswa melempar dua dadu yang disiapkan dalam permainan. Setelah dadu tersebut berhenti dan menunjukkan nilainya maka peserta didik memulai permainan dengan diawali dari start.

Setiap pemberhentian, peserta didik melihat level/ hukuman/ bebas berhenti, yang terdapat dalam monopoli tersebut. Kemudian peserta didik mengambil soal yang sesuai dengan level yang didapatkan/ mengambil hukuman jika pada nomor tersebut yang mendapatkan hukuman.

Jika peserta didik menjawab dengan benar, pada level 1 akan mendapatkan poin 5, jika di level 2 akan mendapatkan poin 10, dan jika menjawab benar di level 3 akan mendapatkan poin 15. Jika peserta didik menjawab salah, maka poin dikurangi 1.

"Kami buat semenarik mungkin, biar lebih enjoy, jadi belajarnya mengasikkan," ujarnya.

Dari permainan tersebut, banyak manfaat yang didapatkan, baik guru maupun siswa. Guru bisa mempermudah dalam penyampaian materi dan target pembelajaran bisa maksimal. Karena dengan permainan pembelajaran akan mudah dimengerti.

Sementara untuk siswa, bisa untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar peserta didik, meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan masalah. Lalu meningkatkan kemandirian peserta didik dan menumbuhkan semangat dalam pembelajaran yang diberikan oleh guru.

"Kami membuat monopoli matematika memang melihat kondisi siswa, masih banyak yang kurang suka matematika karena dirasa sulit," imbuhnya. [hen]

Komentar Pembaca
Foto: Taman Kota

Foto: Taman Kota

RABU, 16 SEPTEMBER 2020 , 14:52:00

Wisuda Drive Thru di UPGRIS Semarang

Wisuda Drive Thru di UPGRIS Semarang

SABTU, 29 AGUSTUS 2020 , 12:14:00

Pemberkatan Pernikahan di Gereja Golden Gate Community Church (G2CC) Semarang