Mudun Lemah, Tradisi Jepara Yang Masih Dilestarikan Hingga Kini

Budaya  MINGGU, 31 MEI 2020 , 13:58:00 WIB | LAPORAN: MUHAMMAD OLIEZ

<i>Mudun Lemah</i>, Tradisi Jepara Yang Masih Dilestarikan Hingga Kini
RMOLJateng. Selain tradisi sedekah laut atau pesta lomban yang lazim digelar setiap sepekan pasca Idul Fitri, masyarakat Kabupaten Jepara juga memiliki tradisi lain yang rutin digelar setiap bulan Syawal.

Salah satunya yakni tradisi mudun lemah. Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur warga ketika perkembangan anak sudah mulai bisa berjalan.

Hal ini salah satunya dilakukan oleh pasangan Ridwan (31) dan Rokhis Amaliyah (28). Mereka menyelenggarakan tradisi mudun lemah ini di kediamannya yang berada di RT 9 RW 2 Desa Sowan Lor, Kecamatan Kedung, Jepara, Minggu (31/5).

"Ini melaksanakan tradisi leluhur masyarakat Jawa. Mudun lemah untuk anak kedua saya," kata Ridwan.

Dijelaskan, buah hatinya yang bernama Izzah Nailal Inayah itu kini sudah berumur 1,5 tahun dan mulai belajar berjalan.

Dengan digelarnya tasyakuran berwujud tradisi mudun lemah ini, diharapkan dapat memberi keberkahan dan kemudahan pada anak saat mengarungi hidup.

"Tujuannya semoga diberi kemudahan, kesehatan, dan keselamatan," harapnya.

Adapun prosesi mudun lemah ini, yakni diawali dengan tasyakuran bersama tokoh agama setempat. Kemudian dengan bantuan orang tua, sang anak akan dibantu menaiki tangga yang terbuat dari tebu.

Selanjutnya, sang anak akan didudukkan di atas gemblong yang terbuat dari ketan, serta ditutup dengan sangkar anyaman bambu secara simbolis.

Barulah setelah itu acara puncak, yakni tokoh agama menebar aneka pecahan uang. Pecahan uang ini akan diperebutkan oleh masyarakat sekitar.

Salah satu tokoh agama desa setempat, Amin Dimyati Al Hafid mengungkapkan, tradisi ini sudah dijalankan leluhur masyarakat Kota Ukir secara turun temurun.

Selain di bulan Syawal, sebenarnya bisa dilakukan kapan saja tergantung kemampuan orang tua. Namun diutamakan di bulan-bulan baik, salah satunya Syawal.

"Tradisi ini dilakukan setelah anak lepas dari ayunan. Saat anak ngambah (menginjak) bumi. Sehingga dititipkan kepada Allah agar diberi keselamatan," urainya.

Terkait puncak acara berupa menebar aneka pecahan uang untuk diperebutkan warga, menurutnya, yakni sebagai rasa syukur sekaligus simbol agar kelak rezki anak juga lancar.

"Uang ditebar ke atas itu maksudnya supaya rezekinya lancar, seperti hujan yang turun," imbuhnya. [jie]






Komentar Pembaca
Fasilitas Umum Tandon Air

Fasilitas Umum Tandon Air

KAMIS, 04 JUNI 2020 , 16:42:00

Perjalanan Kereta Barang Dalam Kondisi Pandemi Covid-19
Salat Jumat Jelang New Normal Di Semarang

Salat Jumat Jelang New Normal Di Semarang

JUM'AT, 29 MEI 2020 , 13:00:00