Soal PKM, Pemkot Semarang Akan Evaluasi Apakah Diperpanjang Atau Tidak

Nusantara  SELASA, 19 MEI 2020 , 13:07:00 WIB | LAPORAN: TAKHRODJIE

Soal PKM, Pemkot Semarang Akan Evaluasi Apakah Diperpanjang Atau Tidak
RMOLJateng. Sepekan jelang berakhirnya pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) di Kota Semarang, Pemkot Semarang akan mengevaluasi menyeluruh untuk menentukan diperpanjang atau tidak.

"Kita masih punya waktu satu minggu lagi, artinya masih mungkin diperpanjang dan tidak," ujar Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, Selasa (19/5/2020).

Tapi ujar Hendi, panggilan akrab Wali Kota itu menyatakan kalau dilihat dari trend nya ada sebuah optimisme, semua bisa diatasi sepanjang masyarakat berdisiplin dengan SOP kesehatan.

"Selama masyarakat disiplin SOP kesehatan, kenakan masker kemanapun, jaga jarak, rajin cuci tangan ada optimisme," tambahnya.

Namun lanjut Hendi, kalau dilihat dari angka penderita Covid-19 yang hingga saat ini masih sekitar 50 pasien, masih masuk zona merah.

"Sehingga masih bisa kita diskusikan lebih lanjut, mungkin Jumat atau Sabtu kita akan rapatkan bersama untuk menentukan PKM diperpanjang atau tidak," tandas Hendi.

Disinggung mulai ramainya pusat perbelanjaan seperti pasar dan mall serta swalayan, Hendi menegaskan kembali kepada kedisiplinan masyarakat.

"Disetiap kali kesempatan, saya selalu sampaikan, garda terdepan memutus rantai penyebaran Covid-19 adalah kedisiplinan masyarakat, kita mau kena (Covid-19) atau tidak. Kalau tidak mau kena harus disiplin. Sementara tim medis menjadi garda terakhir yang menentukan apakah Anda bisa disembuhkan atau tidak," terangnya.

Sholat Idul Fitri Di Rumah

Sementara soal sholat idul fitri, Hendi menghimbau kepada masyarakat untuk mematuhi fatwa MUI dan Kemenag untuk sholat idul fitri di rumah.

"Fatwa MUI, Menteri Agama,  ditingkat pusat untuk sholat Id di rumah, kita bagian yang dibawah harus ikut. Masyarakat juga kami himbau ikuti fatwa MUI dan aturan dari Menteri Agama," pinta Hendi.

Untuk pengawasan Hendi menyerahkan ke masing-masing takmirnya, apalagi sudah jelas di dalam Perwal 28 Tahun 2020 mengenai PKM, bahwa pembatasan kegiatan beribadah disesuaikan dengan fatwa MUI, tokoh agama dan lembaga keagamaan.

"Kalau mereka mengatakan orang beragama tapi tidak taat sama fatwa para tokoh agamanya masing-masing, justru akan menjadi pertanyaan bagaimana pemahaman agama mereka," tandasnya.

Terakhir Hendi juga mengatakan, pada moment lebaran tahun ini, karena masih dibawah pandemi Covid-19, pihaknya tidak membuka acara open house maupun anjangsana.

"Silaturahim bisa dilakukan dengan cara apapun, gunakan teknologi untuk sarana anjangsana. Kita yakin, pasti akan kembali pada situasi normal," pungkas Hendi. [jie]

Komentar Pembaca