Mendulang Rupiah Dari Kreasi Nail Art

Lifestyle  RABU, 25 MARET 2020 , 12:20:00 WIB | LAPORAN: HENDRATI HAPSARI

Mendulang Rupiah Dari Kreasi Nail Art
RMOLJateng. Siswi SMKN 1 Salatiga mengisi sekolah dari rumah dengan berkreasi lewat nail art.

Nail art atau seni menghias kuku adalah salah satu keterampilan tangan yang berfungsi untuk mempercantik kuku. Uniknya, hasil karya para siswi ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sekolah tapi juga membantu perekenomian keluarga.

Salah satu siswa SMKN 1 Salagiga Melia Setia Dora (18) menuturkan, ia dan teman-temannya dari jurusan Tata Kecantikan menjalani masa libur dengan mengerjakan 'nail art'. Tujuan awalnya untuk mengisi mata pelajaran (mapel) Prodak Kreatif dan Kewirausahaan.

"Kami memang tidak diberi tugas dalam bentuk soal-soal. Justru dengan tugas kerajinan ini, membuat kami tidak jenuh selama diwajibkan berada di rumah guna menghindari penyebaran covid-19," ungkap Dora, ditemui di kediamannya di Jalan Taman Pahlawan No.30 RT 16/RW 03 Salatiga, Rabu (25/3).

Anak kedua dari dua bersaudara pasangan Yuni Puji Astuti dan Setiyono ini mengaku dalam proses pembuatan 'nail art' tidak banyak kesulitan.

Mereka dapat arahan langsung guru pembimbing melalui WhatsApp atau telepon. Selain itu, guru tersebut mengunjungi rumah-rumah para siswa guna mengecek langsung.

Dalam proses pembuatan 'nail art', ditambahkan Rossa Hasna Shafira (16) siswi SMKN 1 Salatiga asal Dusun Krajan 1 RT 01 RW 02 Tegaron, Banyubiru, Kabupaten Semarang memang perlu ketekunan.

"Kunci dari 'nail art' ini adalah ketekunan dan kesabaran. Selain semua bahan dasarnya berukuran kecil, keterampilan saat menghias tak kalah rumit," ujar Rossa.

Bahan yang digunakan meliputi plastik sintetis, kutek, berlian atau hiasan, glitter, kikir, kuas serta lem khusus kuku palsu untuk memasang. Sebanyak 10 kuku palsu yang dibuat untuk 10 jari, satu siswi bisa membuatnya dengan kisaran 30 menit.

"Jadi, dalam sehari bisa membuat 80 biji kuku palsu. Tahu-tahu sudah sore saja waktunya," terangnya.

Namun, tak disangka tugas sekolah ini mampu mendulang rupiah. Kuku palsu dibuat lengkap dengan hiasannya dijual masih sebatas online. Sedangkan, harga yang dipasarkan pun, cukup terjangkau yakni berkisar Rp20-50 ribu.

"Yang biasa hingga hiasan. Harga juga dilihat dari tingkat kesulitan dalam membuat," tambah Yunita Salma Puja Dewi  (16) bertempat tinggal di Dewi Sartika 5 RT 05 RW 04, Mijen Gedanganak, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang.

Konsumennya bervariasi mulai dari mahasiswa, calon pengantin hingga pekerja yang ingin mempercantik kuku.

Guru pembimbing jurusan Tata Kecantikan SMKN 1 Salatiga Neny Sulistiyanto mengungkapkan, tugas yang diberikan tidak harus dalam bentuk soal.

"Melainkan dalam bentuk tugas membuat siswa enjoy (senang)," katanya.
Di SMKN 1 Salatiga sendiri, memang mempunyai jurusan Tata Kecantikan masuk Mapel Produk Kreatif dan Kewirausahaan. Pemantauan dilakukan setiap hari, setiap kesulitan siswa akan dibantu guru.

"Dan lewat 'nail art' ini dibuat selama masa libur karantina Corono. Dalam berkelompok pun kami terapkan untuk tetap menjaga jarak aman antaa siswi satu dengan yang lain. Serta, jumlahnya pun, tak banyak satu kelompok 4-5 orang siswi," katanya.  

Hal senada disampaikan Kepala sekolah SMKN 1 Sriyanto. Pekerjaan atau tugas yang diberikan sekolah pun sifatnya menghibur dan tidak membuat anak tertekan dengan situasi yang menegang seperti saat ini.

"Bisa berkarya walaupun dalam situasi yang membosankan dan tidak menegangkan, menjadi kunci pengajar di SMK 1 Salatiga meningkatkan kualitas pendidikan anak didik. Selain itu, membantu orangtua karena mereka mengantongi uang saku sendiri," katanya. [hen]



Komentar Pembaca