Tolak Tali Asih, Keluarga Mbah Lukitah Tuntut Perbaikan Layanan RSUD Kartini

Kesehatan  SELASA, 24 MARET 2020 , 16:12:00 WIB | LAPORAN: MUHAMMAD OLIEZ

Tolak Tali Asih, Keluarga Mbah Lukitah Tuntut Perbaikan Layanan RSUD Kartini
RMOLJateng. Pihak keluarga almarhumah Mbah Lukitah menolak uang tali asih dari RSUD Kartini Jepara.

Langkah tersebut dilakukan karena pihak keluarga tak ingin nasib yang dialami lansia pemegang Kartu BPJS kelas III ini terulang lagi.

Mereka hanya menuntut adanya perbaikan layanan kesehatan dari rumah sakit pelat merah ini, khususnya kepada warga kurang mampu di Kota Ukir.

Pihak RSUD Kartini ternyata diam-diam sudah dua kali memberikan tali asih untuk keluarga almarhumah Mbah Lukitah.

Pertama kali diberikan kepada Sasmono, yang sebenarnya tidak tahu apa-apa terkait insiden yang dialami Mbah Lukitah. Kedua, tali asih disampaikan kepada cucu almarhumah Mbah Lukitah, Lia yang memang ikut mendampingi lansia itu bahkan saat menghembuskan nafas terakhir di pelataran parkir RSUD Kartini.

Lia mengatakan "utusan" RSUD Kartini datang ke rumahnya yang ada di Desa Mambak Kecamatan Pakisaji untuk memberikan tali asih terkait peristiwa yang dialami neneknya.

Hanya saja uang tali asih sebesar Rp3 juta itu ditolaknya. Alasannya yang diinginkan pihak keluarga memang bukan uang, namun perbaikan layanan kesehatan di rumah sakit milik pemerintah itu.

"Kami tidak ingin ada ewuh pakewuh jika tali asih itu diterima. Kami hanya ingin jangan sampai ada lagi warga yang nasibnya seperti Mbah Lukitah. Sebab berdasar testimoni warganet banyak yang mendapat layanan kesehatan tak maksimal saat berobat di RSUD Kartini," kata Lia didampingi perangkat Desa Mambak, Abdul Rosyid, Selasa (24/3/2020).

Menurut Lia, banyaknya kesaksian dari pasien maupun keluarganya yang isinya menyatakan tidak puas dengan RSUD Kartini menunjukkan ada persoalan serius yang harus dibenahi oleh jajaran internal rumah sakit pelat merah ini.

Pihaknya berharap perbaikan layanan kesehatan tersebut benar-benar nyata sehingga RSUD Kartini bisa menjadi kebanggaan warga Jepara.

"Bukan malah sebaliknya. Ini momentum yang tepat untuk perbaikan itu. Harus ada perbaikan layanan dan SDM mulai dari UGD hingga ruang perawatan RSUD. Semoga tak hanya RSUD, namun juga bisa diterapkan untuk seluruh layanan kesehatan di Jepara," harapnya.

Lia juga berharap agar pegawai hingga manajemen RSUD Kartini yang lalai memberikan layanan kesehatan yang maksimal harus dikenai sanksi. Hal itu penting agar ada efek jera karena kesehatan termasuk hal layanan dasar.

"Kalau memang RSUD Kartini dianggap sudah tak layak silahkan pemkab segera membuat rumah sakit baru yang lebih representatif," tandasnya.

Sementara itu, anggota Dewan Pengawas RSUD Kartini Jepara Zaenuri Thoha belum bisa dikonfirmasi terkait upaya perbaikan layanan yang sudah dan perlu dilakukan oleh jajaran rumah sakit pelat merah ini. Saat dihubungi via layanan WA menunjukkan nada aktif namun tidak ada jawaban. [jie]





Komentar Pembaca