Inovasi Plastik Dari Kulit Singkong Mahasiswa UKSW Raih Medali Di Kancah Internasional

Pendidikan  RABU, 19 FEBRUARI 2020 , 17:30:00 WIB | LAPORAN: PRAMUDO WICAKSONO

Inovasi Plastik Dari Kulit Singkong Mahasiswa UKSW Raih Medali Di Kancah Internasional
RMOLJateng. Inovasi dari tiga mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga membuat plastik dari kulit singkong.

Hasil inovasi tersebut berhasil meraih medali perak pada ajang Thailand Inventor’s Day 2020” di Bangkok International Trade and Exhibition Center (BITEC), Bangkok, Thailand yang berlangsung pada 2-6 Februari 2020 lalu.

Uniknya, ketiga mahasiswa tersebut berbeda jurusan program studi.

Mereka adalah I Gede Kesha Aditya Kameswara, M Sulthan Arkana, mahasiswa program studi Kimia Fakultas Sains dan Matematika (FSM), serta Pambayun Pulung Manekung Stri Sinandang mahasiswi prodi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM).

Kesha Aditya mengatakan, pembuatan plastik dengan bahan kulit singkong karena lebih ramah lingkungan. Di dalam kulit singkong juga terkandung sekitar 60% polisakarida berupa pati yang belum banyak dimanfaatkan.

"Terlebih Indonesia sebagai salah satu produsen singkong terbesar di dunia dengan kapasitas produksi mencapai 21 juta ton setiap tahun. Selain itu pengolahan kulit singkong sebagai bahan utama pembuatan bioplastik karena memiliki keberlangsungan yang baik, atau mudah terurai," ujarnya Rabu (19/2).

Produk bioplastik yang diberi nama "CASPEEA: A Bioplastic Made from Cassava Peel Wastage to Combat Plastic Waste Crisis Worldwide” ini diklaim memiliki ketahanan terhadap beban hingga mencapai 15 Mpa. Sedangkan produk bioplastik lainnya hanya dapat menahan beban sebesar 9 Mpa.

"Untuk plastik biasa yang diproduksi oleh pabrik dapat menahan beban berkisar 20 hingga 30 Mpa, hal ini membuat kami yakin kalau produk bioplastik yang kami hasilkan mampu bersaing dengan plastik biasa, kami menjamin bahwa produk ini food grade meskipun ada campuran bahan kimia," ungkapnya.

Ia menambahkan, kelebihan bioplastik ini adalah dapat terurai sebesar 34,56% selama tiga hari waktu penimbunan di dalam tanah. Sedangkan produk kompetitor hanya sebesar 18%, sementara plastik biasa tidak dapat terurai sama sekali.

"Proses produksinya dilakukan dengan cukup sederhana, tidak perlu alat yang canggih, hanya merendam kulit singkong ke dalam larutan garam CR (Cyano Reduction) untuk menghilangkan sianida yang terdapat pada kulit singkong, kemudian proses berikutnya adalah mengeringkan sekaligus menghaluskan kulit singkong tersebut hingga bentuknya berubah menjadi tepung,” paparnya.

Langkah selanjutnya, tepung kulit singkong kemudian dicampurkan dengan asam laktat untuk meningkatkan ketahanan terhadap panas. Lalu campuran tersebut dicuci dengan aseton untuk memperoleh butiran bioplastik.

Kemudian butiran dicampurkan dengan polivinil alkohol (PVA) dan bahan penambah lainnya untuk memproduksi bioplastik yang memiliki nilai kuat tarik yang tinggi.

Tim CASPEEA menjadi salah satu wakil Indonesia dalam ajang kompetisi yang diikuti  500 peserta dari 23 negara.

"Kami akan menguji produk, CASPEEA juga memiliki potensi menjadi pupuk karena bahan dasarnya mengandung mikromolekul yang dapat dijadikan pupuk kompos,” tandasnya.

Sementara itu, Dekan FSM UKSW, Adi Setiawan mengapresiasi hasil karya ketiga mahasiswa ini, terlebih produk yang mereka ciptakan bisa bermanfaat bagi banyak orang.

"Sebagai insan yang ditempa dengan konsep creative minority di UKSW, kami berharap mereka dapat menjawab berbagai permasalahan dan tantangan yang ada di masyarakat, serta mampu memberikan manfaat bagi sekitar,” pungkasnya. [hen]



Komentar Pembaca