Ini Cerita Michele, Warga Purbalingga Yang Sempat Terjebak Di Kota Wuhan

Daerah  SELASA, 18 FEBRUARI 2020 , 10:41:00 WIB | LAPORAN: PRAYITNO

Ini Cerita Michele, Warga Purbalingga Yang Sempat Terjebak Di Kota Wuhan
RMOLJateng. Michele Yemima (21) warga Perumahan Palm Estate, Kelurahan Penambongan, Purbalingga, kini merasa bahagia bisa berkumpul dengan kedua orang tuanya.

Dia sempat terjebak selama 13 hari di kota Wuhan, saat pemerintah China mengisolasi ibukota Hubei itu mulai 24 Januari 2020 akibat serangan virus Corona.
 
Selama 13 hari, saya bersama teman-teman rasanya sangat mencekam. Saya sempat mengirim pesan kepada orang tua saya dan meminta doa restu agar selamat dan diberi ketabahan,” tutur Michele Yemima yang didampingi ayahnya Agus Slamet Budijanto di rumahnya, Selasa (18/2).
 
Dirinya mendapatkan beasiswa dari  Pemerintah China untuk belajar di Jilin International studies university di Kota Changchun Provinsi Jilin.

Michele meninggalkan Indonesia menuju Beijing China pada Agustus 2018. Setahun belajar Bahasa Mandarin di University of International Business and Economics (UIBE) Beijing, Michele lulus dan melanjutkan kuliah S1 di Jilin International studies university di Kota Changchun Provinsi Jilin. Michele tinggal di asrama mahasiswa.
 
Pada musim liburan bulan Januari lalu, bertepatan dengan musim dingin. Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Agus Slamet Budijanto dan Anna Laurie Ngantung itu memanfaatkan waktu luangnya untuk berwisata kesejumlah kota di wilayah Selatan China yang udaranya lebih hangat. Pada 14 Januari, Michele memulai perjalanan mengunjungi beberapa kota.
 
Michele mengunjungi beberapa kota. Pada 20 Januari, Michele tiba di kota Wuhan untuk mengunjungi kawan-kawannya dari Indonesia. Di kota Wuhan itu, Michele menginap di asrama mahasiswa dan diaspora Indonesia.
 
Baru sehari di Wuhan, Michele dihubungi kawan di Changchun agar segera meninggalkan Kota Wuhan, menyusul merebakanya virus Corona.

Mengikuti saran kawannya, hari itu juga Michele memesan tiket pesawat. Michele mendapat tiket untuk penerbangan pada 24 Januari.  

Sehari  sebelum  penerbangan, pemerintah China ternyata menutup kota Wuhan. Sejak 23 Januari, tidak boleh ada orang masuk dan keluar dari Wuhan. Jadi saya ikut terjebak di kota itu,” ujarnya.
 
Akibatnya, Michele bersama teman-temannya harus bertahan di asrama itu. Michele bersama kawan diaspora Indonesia bekerjasama dalam semua urusan logistik. Mahasiswa laki-laki bertugas belanja barang kebutuhan  yang kemudian dimasak oleh kawan-kawan perempuan dengan menggunakan kompor listrik di kamar.  

Kami sempat  panik karena logistik menipis. Banyak toko tutup karena libur Imlek dan musim dingin. banyak yang keluar kota. Apalagi ada ancaman virus Corona,” ujarnya.
 
Sambil bertahan, Michele dan kawan sesama WNI di asrama menggabungkan perbekalan logistik masing-masing.

Di samping ada bantuan dari KBRI di Beijing sebesar 285,5 Yuan atau senilai Rp560 ribu per orang seminggu.  

Uang itu dikumpulkan dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan bersama. Selama terkurung di asrama, memasak makanan Indonesia. Sayuran bisa dibeli di pasar. Ditambah banyak mahasiswa yang membawa kecap dari Indonesia,” ujar alumni SMA Negeri 2 Purbalingga itu.
 
Selama bertahan di Wuhan, Michele dan kawan-kawannya tetap terhubung dengan keluarga dan kerabat di tanah air. Michele terus melaporkan kondisi terkini kepada orangtuanya di Purbalingga.
 
Hingga tibalah saat Pemerintah Indonesia mengirim tim untuk menjemput WNI dari seluruh pelosok Provinsi Hubei pada 2 Februari 2020.  Michele menjadi salah satu diaspora Indonesia yang ikut dievakuasi dan menjalani observasi di Pulau Natuna. [hen]

Komentar Pembaca