Pembenahan UT Di Era Sekarang

Opini  KAMIS, 05 DESEMBER 2019 , 11:17:00 WIB

Pembenahan UT Di Era Sekarang

ilustrasi/net

KEMAJUAN ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya teknologi informasi dan komunikasi (ICT), berkembang sangat pesat. Kemajuan ini tentu saja berpengaruh terhadap berbagai bidang kehidupan, termasuk di dalamnya pendidikan.

Salah satu penerapan ICT dalam pendidikan adalah adanya  pendidikan jarak jauh Universitas Terbuka. Seringkali kita masih menganggap remeh Universitas Terbuka atau orang biasa menyebutnya dengan UT. Pandangan-pamdangan negatif tersebut misalnya saja kuliah di UT hanya membuang-buang uang karena biaya pendidikannya mahal, ketika lulus ijazahnya tidak diakui, ketika masuk kuliah di UT mudah namun lulusnya akan susah dan berbagai spekulasi negative lain tentang UT.

Mungkin beberapa persepsi tersebut ada yang benar, tetapi tentu saja tidak semua persepsi yang beredar di masyarakat tentang UT itu semuanya benar. Kebanyakan selama ini masyarakat mempunyai pandangan yang salah terhadap kualitas dari proses belajar dan mengajar di UT.
Universitas Terbuka (UT) adalah Perguruan Tinggi Negeri ke-45 di Indonesia yang diresmikan pada tanggal 4 September 1984, berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 41 Tahun 1984. Proses belajar mengajar di UT dibagi menjadi 3. Pertama adalah TUTON atau Tutorial Online. Kedua adalah Tutorial Tatap Muka (TTM). Dan ketiga adalah belajar mandiri. Bahan ajar di UT pun telah terstandarisasi dengan baik bahkan sudah sesuai dengan ISO 9001 dan ICDE.
Dalam pendidikan jarak jauh terlebih pada UT, tentunya tidak asing dengan  pembelajaran melalui jaringan Internet atau yang lebih dikenal dengan e-learning. E-learning mengacu pada belajar dengan menggunakan sarana komputer yang berbasis pada teknologi Internet.
Bukan menjadi hal yang baru bahwa dalam penerapan e-learning di Indonesia masih memiliki beberapa kendala.  Hal tersebut tentunya menjadi penghambat belajar mahasiswa di Universitas Terbuka. Minimnya akses infrastuktur penunjang pendidikan dinilai menjadi kendala utama pengimplementasian Pendidikan Jarak jauh Universitas Terbuka di seluruh Indonesia, khususnya daerah terdepan, terluar dan tertinggal.
Dilansir dari  Republika.co.id (26/9), Rektor UT Ojat Darodjat menyebutkan, setidaknya ada 2 kendala utama yang menjadi perhatian pemerintah yaitu belum meratanya akses point di berbagai daerah dan minimnya pengetahuan literasi digital terutama di daerah perbatasan dan 3T. Akses itu penting karena ketika bicara tentang PJJ masih terkait dengan akses pendidikan yang ada diperbatasan yang masih kesulitan untuk mengakses cyber atau vitual,” jelas Ojat di kampus UT Pusat, tangerang Selatan.   Selain itu, kendala yang juga dihadapi menyangkut faktor individu. Hal ini sesuai dengan pendapat Bandalaria (2003) yang mengemukakan bahwa terdapat tiga masalah utama yang menghambat partisipasi mahasiswa dalam belajar online. Pertama, dispositional problems, yaitu masalah yang mengacu pada pribadi mahasiswa, seperti sikap, rasa percaya diri, dan gaya belajar.

Kedua, circumstantial problems, yaitu masalah yang berkaitan dengan kondisi khusus seperti lokasi geografis, ketersediaan waktu, dan sebagainya. Ketiga, technical problems, yaitu masalah yang berkaitan dengan hardware dan program software yang digunakan dalam belajar online. Terkait dengan motivasi belajar, kepercayaan seseorang terhadap rasa mampu diri akan menentukan tingkat motivasi mereka. Rasa mampu diri akan mempengaruhi sejauh mana mereka berusaha dan tekun dalam melakukan suatu hal.
Mengingat kekurangan-kekurangan dalam belajar di Universitas Terbuka, tidak lantas pihak kampus UT diam saja. Mahasiswa UT secara terus menerus diperkenalkan terhadap pemanfaatan teknologi dan peduli terhadap inovasi dalam pendidikan.

Dilansir dari penelitian yang dilakukan oleh Dewi Padmo dan Siti Julaeha (2007) menyarankan beberapa langkah yang dapat dilakukan kampus  antara lain sosialisasi tentang manfaat e-learning dan jaringan internet dalam proses belajar, penyediaan panduan pemanfaataan e-learning dan jaringan internet, pemberian bimbingan dalam memanfaatkan e-learning dan jaringan Internet di setiap UPBJJ-UT. Apabila mahasiswa kurang memiliki rasa kepedulian dan kemampuan untuk dapat melaksanakan inovasi tersebut, inovasi tersebut tidak akan dapat diterapkan dengan optimal.
Dikutip dari penelitian yang dilakukan oleh Welli Yuliatmoko (2017:198) bahwa Kesibukan menjadi alasan yang paling banyak dikemukakan mengapa mahasiswa tidak aktif berpartisipasi dalam Tuton”.

Hal ini sangat tertentangan mengingat salah satu sasaran pembelajaran di UT adalah memberikan kesempatan kepada mereka yang karena kesibukannya itulah masih tetap ingin mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan lanjut. Untuk itu solusi individu dari setiap mahasiswa diperlukan guna mendukung upaya peningkatan kualitas pendidikan di UT.   Niat untuk belajar juga harus diimbangi dengan usaha dan kerja keras. Tindakan yang dapat dilakukan oleh mahasiswa UT adalah dengan meningkatkan penyediaan waktu untuk mempelajari hal-hal teknis dan konsultasi teknik dengan orang lain dalam menggunakan e-learning serta meningkatan kemampuan dalam menggunakan komputer dan internet. Persepsi bahwa yang penting lulus” harus dihilangkan pada setiap mahasiswa. Akan sangat disayangkan apabila bisa lulus tetapi tidak ada kompetensi atau keahlian yang dimiliki.
Peningkatan kesadaran pentingnya menempuh pendidikan tidak terkecuali di UT dari setiap mahasiswa juga harus didukung oleh kebijakan-kebijakan kampus UT yang bersifat membangun persepsi dan tindakan mahasiswa untuk belajar dan tutor dalam mengajar.

Misalnya saja dengan menyediakan kemudahan akses mahasiswa terhadap media pembelajaran baik video, audio, media interaktif maupun media-media lainnya. UT harus mengemas bagaimana agar media pembelajaran dibuat bersifat eksploratif, up to date, dan  menarik mahasiswa dengan tetap memperhatikan kemudahan dan keefektifan dalam menggunakannya. Hal semacam itu akan meningkatkan motivasi mahasiswa UT dalam belajar baik secara online maupun tatap muka.

UT sebagai lembaga pendidikan jarak jauh (PJJ) tentu tidak hanya memberikan pelayanan secara tatap muka tetapi juga menyediakan pelayanan jarak jauh yaitu melalui internet. Dikutip dari Lis Setiawati  & Raden Sudarwo (2012) bahwa, Pelayanan yang tersedia sekarang adalah sistem ujian online (SUO), pengaduan atau keluhan melalui internet/web-site, penyediaan media inovasi pembelajaran yang disebut guru pintar online (GPO).”

Berkenaan dengan pernyataan terdebut, maka UT harus selalu memberi pengawasan dan peningkatan kualitas layanannya terutama pada bidang akademik baik untuk Tuton maupun TTM. Masukan atau bahkan kritikan dari pengguna atau pelanggan yang tidak lain adalah para mahasiswa harus disikapi dengan baik. Masukan dan kritikan dari pelanggan dapat menjadi sumber petunjuk bagaimana UT melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas layanannya.
Perkembangan dunia komunikasi dan informatika menuntut mahasiswa untuk memahami dan menggunakan internet sebagai salah satu sarana dalam mendapatkan informasi dan pengetahuan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Malta (2012), bahwa kecakapan tentang internet diukur dari tingkat kemahiran mahasiswa menggunakan internet dan frekuensi mengaksesnya.

Sebaran tingkat kecakapan mahasiswa UPBJJ-UT Banda Aceh tentang internet, yaitu: pada kategori rendah sejumlah 23,9%, kategori sedang sejumlah 53,7%, dan pada kategori tinggi sejumlah 22,4%.
Dari uraian data di atas sudah menjadi hal penting bahwa untuk bisa mengakses internet dengan mudah sebagai upaya penguasaan TIK maka diperlukan adanya fasilitas internet yang memadai. Untuk itu  UT dapat lebih banyak memberikan kesempatan pengalaman belajar kepada mahasiswa tentang internet.
Kualitas tutor juga harus diperhatikan oleh pihak UT dengan menggunakan sumber daya manusia yang benar-benar siap. Siap dalam hal ini adalah tutor yang mampu mengelola proses pembelajaran secara baik, menguasai teknologi khususnya dalam pembelajaran melalui internet. Jika hal ini belum dapat dipenuhi, maka pihak UT harus melakukan perbaikan dan peningkatan akses teknologi dan sumber daya manusia serta adanya kegiatan pelatihan harus dilakukan secara maksimal dan benar.
Kita bebas memilih dimanapun kita belajar baik di perguruan tinggi negeri, swasta, bahkan hingga UT. Masyarakat tidak akan pernah bertanya bahkan peduli dimana kampus kita, berapa nilai IPK kita, bahkan hingga judul skripsi. Yang dibutukan masyarakat hanyalah aksi nyata kita untuk mereka.

Pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara lah yang menjadi nilai guna kita sebagai pribadi yang berpendidikan. Untuk itu UT masih perlu melakukan perbaikan-perbaikan demi meningkatkan kompleksitas pendidikan jarak jauh. [***]
Septi Handayani Mahasiswa Universitas Negeri Semarang



Komentar Pembaca
Protokol Kesehatan

Protokol Kesehatan

SENIN, 10 AGUSTUS 2020 , 11:43:00

Foto: Taman Kota

Foto: Taman Kota

RABU, 16 SEPTEMBER 2020 , 14:52:00

Wisuda Drive Thru di UPGRIS Semarang

Wisuda Drive Thru di UPGRIS Semarang

SABTU, 29 AGUSTUS 2020 , 12:14:00