Pendidikan Alternatif Bagi Anak Putus Sekolah

Opini  JUM'AT, 22 NOVEMBER 2019 , 14:50:00 WIB

Pendidikan Alternatif Bagi Anak Putus Sekolah

Ilustrasi/net

PENDIDIKAN merupakan salah satu faktor penting yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan. Setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak.

Hal tersebut sudah ditetapkan pada Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 yang berbunyi Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”.

Diera sekarang ini anak-anak Indonesia masih banyak yang belum mendapatkan pendidikan hingga akhir.
 
Mereka yang tidak melanjutkan pendidikannya karena berbagai faktor dapat berdampak pada pengetahuan yang dimiliki.

Dengan adanya pendidikan yang memadai justru seharusnya anak Indonesia dapat menjalankan pendidikan hingga tingkat akhir, tetapi masih saja ada anak yang pendidikannya putus ditengah jalan.

Faktor ekonomi keluarga sering dijadikan alasan putusnya pendidikan anak. Usia dimana seharusnya mereka mengenyam pendidikan, justru digunakan untuk membantu mencukupi ekonomi keluarga.
 
Apakah itu menjadi sebuah kabar baik? Bukankah hak untuk mendapatkan pendidikan sudah diatur dalam Undang-undang? Selama ini, masih banyak anak " anak yang seharusnya mengenyam pendidikan, justru mereka memilih membantu untuk mencukupi ekonomi keluarga.

Mereka yang memilih tidak melanjutkan sekolah demi membantu kedua orang tuanya untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Akibatnya, hal tersebut membuat anak menjadi pribadi yang kurang akan pengetahuan.  

Berdasarkan data dari UNICEF, faktor ekonomi menjadi alasan utama penyebab anak putus sekolah.

Dari 20 persen keluarga termiskin hampir lima kali lebih mungkin untuk anak tersebut tidak mendapat atau masuk sekolah dasar dan menengah pertama, dibandingan 20 persen dari keluarga terkaya.

Najeela mengatakan bahwa UNICEF mengungkapkan bahwa status ekonomi keluarga memiliki dampak yang paling signifikan pada kehadiran anak-anak usia sekolah dasar dan menengah pertama (IDN Times, 26/01/2019).
 
Bukan hanya dari faktor ekonomi yang menjadi penyebab anak putus sekolah. Ada faktor lain yang menjadikan anak tidak sekolah adalah kondisi anak yang memiliki keterbatasan atau disabilitas.

Sebanyak 2,45 persen dari penduduk Indonesia, yaitu 6.008.661 orang adalah penyandang disabilitas (IDN Times, 26/01/2019).

Diera sekarang masih banyak orang tua yang menghiraukan pendidikan bagi anak penyandang disabilitas. Hal tersebut membuat data anak tidak sekolah atau putus sekolah menjadi bertambah.
 
Secara keseluruhan, jumlah anak Indonesia yang tidak bersekolah mencapai 4.586.332. TNP2K mengungkap bahwa konsentrasi terbesar dari anak Indonesia yang tidak bersekolah atau putus sekolah berada di Provinsi Jawa Barat, dengan angka 958,599 anak.

Disusul oleh provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, masing-masing di angka 677,642 dan 609,131 anak.

Data yang dimiliki Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemdikbud) mengungkap angka partisipasi kasar jenjang pendidikan menengah mencapai 88,8 persen pada tahun ajaran 2018/2019 (Tempo.co, 23/07/2019).
 
Dalam menanggapi hal ini Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tergerak untuk memberikan motivasi dan pengarahan terhadap anak putus sekolah.

Tindakan tersebut sudah laksanakan di Surabaya. Dalam kegiatan tersebut diharapkan anak putus sekolah menjadi lebih baik dan memiliki motivasi dari diri sendiri untuk kembali melakukan kewajibannya yaitu belajar.

Semua orang diberikan kesempatan yang sama untuk sukses, siapa pun orangnya dan dari mana asal kedua orang tuanya.

Asalkan orang itu tidak menyerah dengan keadaan dan terus bekerja keras, mereka pasti diberi jalan oleh Tuhan.(Republika.co.id, 15/02/2019).
 
Anak-anak putus sekolah biasanya bekerja sebagai pengamen, pedagang asongan, atau bahkan mengemis.

Jika mereka sudah sibuk dengan pekerjaannya lalu bagaimana mereka bisa mendapatkan pendidikan? Walaupun bukan pendidikan formal yang didapatkan. Pekerjaan yang mereka lakoni kerap membahayakan diri mereka dan beresiko. Terkadang banyak dari mereka terjaring oleh razia Satpol PP dan harus menanggung akibatnya.
 
Tidak harus dengan pendidikan formal yang mereka dapat, bisa jadi dengan pendidikan alternatif atau pendidikan non formal.

Anak yang putus sekolah atau tidak sekolah setidaknya diberikan pendidikan alternatif guna menambah pengetahuan dan keterampilan, agar nantinya mereka memiliki softskill yang dapat digunakan dalam mencari pekerjaan.
 
Sekolah publik pilihan yang biasa disebut dengan sekolah terbuka atau sekolah jarak jauh dapat dijadikan solusi bagi anak putus sekolah, karena sekolah publik pilihan merupakan lembaga pendidikan dalam penyelenggarannya dibiayai oleh negara seperti sekolah negeri.

Bedanya dengan sekolah negeri, sekolah ini memiliki program unggulan khusus untuk menggembangkan bakat anak, dan diharapkan anak-anak memiliki keunggulan dalam bidang yang mereka tekuni.
 
Pendidikan alternatif yang dapat dilakukan atau diberikan salah satunya dengan mendatangkan relawan sosial dan memberikan pendidikan dasar pada anak putus sekolah.

Dengan dilakukannya kegiatan tersebut secara terus menerus, mereka akan terbiasa dengan pendidikan dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Walaupun mereka harus membantu ekonomi keluarga, tetapi mereka juga tetap mendapatkan pendidikan. [***]

Valentina Asih Dwi Kurnianingrum
Jurusan Teknologi Pendidikan
Universitas Negeri Semarang (UNNES)



Komentar Pembaca
Kerja Bakti Polisi Membersihkan Masjid Agung Demak
Protokol Kesehatan

Protokol Kesehatan

SENIN, 10 AGUSTUS 2020 , 11:43:00

Program Sehati Pertamina

Program Sehati Pertamina

KAMIS, 23 JULI 2020 , 14:27:00