Menteri Pertanian : Stok Bulog Melimpah, Tidak Lagi impor Tapi Ekspor

Nusantara  SENIN, 30 SEPTEMBER 2019 , 13:41:00 WIB | LAPORAN: ALMIRA NINDYA

Menteri Pertanian : Stok Bulog Melimpah, Tidak Lagi impor Tapi Ekspor
RMOLJateng. Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman, inspeksi langsung stok beras di Gudang Beras Bulog (GBB) Telukan Divre Surakarta, memastikan stoknya berlimpah.

Amran dan rombongan menyaksikan gudang Bulog penuh terisi beras 4500 Ton, bahkan gudang sudah tidak cukup menampung beras lagi sehingga harus pinjam pakai gudang.

"Tahun 2019 kita sudah swasembada dan berdaulat. Menurut FAO kriteria swasembada bila impor 10 persen dari stok nasional, Alhamdulilah stok kita banyak dan melimpah, dan tidak perlu impor," ungkap Amran saat melakukan inspeksi ke gudang Bulog Telukan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Senin (30/09).

Amran menyampaikan stok gudang Bulog di daerah lain, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, NTT, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Selatan sudah harus sewa gudang untuk menampung produksi pangan kita.

Lebih lanjut Amran membandingkan, dulu saat swasembada di tahun 1984 penduduk Indonesia 100 juta lebih, namun hari ini penduduk Indonesia 260 juta lebih dan kita mampu swasembada.

Pada tahun 1984 kita swasembada dengan impor sekitar 414.000 Ton. Ditegaskan tahun 2019 idak ada lagi impor bahkan ekspor produk pertanian 5 tahun terakhir meningkat hingga 9 juta ton.

"Kita harus tetap menjaga keberhasilan ini, transformasi pertanian tradisonal ke pertanian modern ini mutlak dilanjutkan, mengembangkan lahan rawa menjadi lahan pertanian baru dalam program SERASI, dan program lainnya. Ketahanan pangan identik dengan ketahanan negara, maka pangan menjadi strategis," tandasnya.

Taufan Akib, Kepala Divre Bulog Jawa Tengah, juga membenarkan jika gudang penuh berlimpah stok beras.

"Ada 30 komplek gudang  Bulog di Jawa Tengah, yang berada di subdivre Surakarta, subdivre Pati, subdivre Semarang , subdivre Pekalongan dengan stok 186.000 Ton. Khusus gudang di Sukoharjo ada 2 gudang terdiri 4500 Ton cbp, gabah 400 Ton," ungkap Taufan.

Taufan juga menjelaskan jika berlimpahnya stok beras dikarenakan pertanian saat ini sudah mengarah ke pertanian modern sehingga lebih efesien.

"Harga gabah petani dengan pengolahan combine harvester harganya Rp.5.150 - Rp. 5.200 per kg. sedangkan jika pengolahan manual harga Rp.5.000, selisihnya hingga 200 rupiah. Keuntungan menggunakan combine  harvester, gabahnya lebih bersih dan bisa langsung masuk karung. Petani lebih untung karena alat ini meminimalisir beras terbuang," tambahnya. [jie]





Komentar Pembaca