Film Dragon Dance Tuai Pujian Di GKFP 2018

Lifestyle  SELASA, 27 NOVEMBER 2018 , 12:53:00 WIB | LAPORAN: RENDRAS CAVA

Film <i>Dragon Dance</i> Tuai Pujian Di GKFP 2018
RMOLJateng. Kabupaten Kudus boleh berbangga memiliki bibit-bibit sineas muda yang siap terjun di industri perfilman.

Sepuluh pelajar dari kota Kretek ini berhasil membuat film dokumenter berdurasi sepuluh menit yang diikutkan dalam ajang Gelar Karya Film Pelajar(GKFP) 2018” yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Bahkan, film pendek dokumenter berjudul Dragon Dance” yang mengangkat kearifan budaya lokal dengan mengangkat cerita barongsai berhasil menuai banyak pujian.

Nilai-nilai positif yang tertuang dalam film ini membuat jajaran juri GKFP 2018 memasukkan Dragon Dance ke dalam 12 besar film kategori dokumenter dari 314 film pendek yang terdaftar di lomba ini.

Menariknya lagi, film Dragon Dance menjadi satu-satunya nominasi yang berasal dari pelajar SMP, padahal nominasi lainnya merupakan karya dari pelajar sekolah tingkat atas.

Film Dragon Dance bersaing ketat dengan 23 karya pelajar SMA dari berbagai daerah di Indonesia.

Anggi Frisca, salah satu juri GKFP 2018, mengatakan, memberi apresiasi pada film Dragon Dance yang masuk dalam nominasi dan mampu bersaing dengan karya-karya para pelajar diatasnya.

Mereka ini sangat berpotensi sekali menjadi sineas yang berbakat apalagi diusia mereka yang masih muda. Saya sudah nonton filmnya dan kemasannya juga sudah bagus menarik. Dari sekian film yang ada, Dragon Dance memiliki penilaian tersendiri bagi para juri,” katanya.

Bahkan, film besutan Patrick Tjhang ini menuai banyak pujian dari para juri dan peserta atas kemasan dan ceritanya.

Patrick Tjhang, sutradara film Dragon Dance, menjelaskan, awalnya cukup sulit untuk menentukan konsep film apa yang akan dibuat. Tim pun akhirnya menentukan pilihan untuk mengangkat kearifan budaya lokal yakni barongsai.

Kenapa kami memilih film tentang Barongsai, karena barongsai merupakan kearifan budaya lokal yang menunjukkan sikap toleransi antar umat beragama. Di Kudus, teman-teman juga ikut dalam kesenian barongsai,” jelasnya.

Siswa kelas 3 SMP Keluarga Kudus ini, menambahkan, kesenian barongsai dibawakan secara beregu dengan memainkan 10 tongkat pada badan naga.

Para pemainnya bergerak membentuk gelombang nan harmonis, sesuai karakter makhluk naga yang banyak tersebar dalam mitos-mitos di masyarakat.

Main barongsai itu nggak mudah, butuh kekompakan dan kerjasama antar pemain sehingga membentuk keharmonisan. Keharmonisan inilah yang membuat kita tertarik untuk membuat filmnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Patrick tak menyangka karyanya dan teman-temannya bisa lolos sebagai nominasi di ajang ini.

Alhasil, Patrick dan Michael Vincentzo sebagai juru kamera diundang menghadiri workshop dan Malam Anugerah GKFP 2018 di Jakarta pada 22-24 November 2018.

Patrick dan Michael pun mendapat kesempatan emas berbagi pengetahuan dengan sineas " sineas besar Tanah Air seperti Christine Hakim, Reza Rahadian hingga Ernest Prakasa.

Saya jadi makin termotivasi untuk membuat film lagi yang lebih bagus. Saya dan Michael pengen buat film science-fiction seperti Pacific Rim,” ujarnya.

Warih Bayu Wicaksana, Guru SMP Keluarga Kudus, mengatakan, lolosnya film tersebut di ajang GKFP 2018 diharapkan bisa memompa motivasi para siswa lainnya untuk menghasilkan karya " karya yang lebih baik lagi.

Dengan pencapaian Dragon Dance masuk sebagai nominasi di GKFP 2018, pihak sekolah optimsitis dan yakinnantinya akan muncul karya-karya lain yang lebih baik,” ujarnya. [jie]





Komentar Pembaca
Penangkapan Tersangka Pengedar Uang Palsu Di Semarang
Peluncuran UKMmu Oleh OJK Jateng

Peluncuran UKMmu Oleh OJK Jateng

JUM'AT, 27 NOVEMBER 2020 , 18:31:00

Desakan #2021BalikJatidiri

Desakan #2021BalikJatidiri

SENIN, 21 DESEMBER 2020 , 11:00:00