Bulan Sura Bukan Bulan Mistis

Budaya  SELASA, 11 SEPTEMBER 2018 , 18:55:00 WIB | LAPORAN:

Bulan Sura Bukan Bulan Mistis

Foto/RMOL Jateng

TANGGAL 1 Sura (Muharam) sering kali dianggap sebagai tanggal mistis oleh sebagian masyarakat. Banyak yang beranggapan bila selama Bulan Suro tidak boleh menggelar hajatan baik menikah atau sunat.

Untuk menepis anggapan itu, warga Perumahan Argopeni, Kelurahan Kutorajo, Kecamatan Kutoarjo, mengadakan khitan massal gratis bagi warga kurang mampu hari ini, Minggu (11/9/2018)

Sejak pagi hingga siang hari, suasana ceria, tawa, atau sedikit tangisan anak-anak yang dikhitan beriringan dengan suara musik rebana yang mengalun di depan masjid Al Jihad Perum Argopeni, Sejumlah anak yang rata-rata berusia SD itu menjalani khitan di rumah-rumah warga yang ditata layaknya ruang medis.

Raut bahagia anak dan orang tua pendampingnya tampak karena selain dikhitan, mereka juga menerima 1 stel pakaian muslim, uang saku, serta uang kontrol.

Suasana seperti itu bukan hanya kali ini terjadi. Warga yang dikomandoi Takmir Masjid Al Jihad rutin mengadakan sunatan massal sejak 7 tahun silam.

Untuk pendanaannya, warga bergotong-royong dan didukung penuh oleh seorang kontraktor yang berdomisili di Perum setempat, Drs H Sugito. Sementara petugas medis didatangkan dari tim RS PKU Muhammadiyah Kutoarjo dan Puskesmas terdekat.

Dari tahun ke tahun, antusias masyarakat terus meningkat. Peserta khitan tidak hanya dari wilayah sekitar Argopeni, melainkan juga berbagai wilayah se-Kabupaten Purworejo. Bahkan, pada tahun 1440 Hijriyah ini ada sejumlah peserta yang berasal dari Magelang.

"Tahun lalu sekutar 137 anak, tahun ini yang nendaftar sebanyak 153 anak. Padahal target kami hanya 150 anak," kata ketua panitia, H Pudjiono yang juga Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Purworejo.

Menurut Pudjiono, 1 Muharram dipilih menjadi hari pelaksanaan khitanan massal untuk mengubah persepsi sebagian masyarakat bahwa 1 Muharram atau 1 Suro merupakan hari menakutkan dan harus dihindari untuk melakukan aktivitas. Padahal di dalam Islam, Muharram merupakan bulan penuh berkah dan pertolongan Allah SWT.

Muharram ini bulan yang baik, bukan mistis. Seperti kita tahu bahwa dulu banyak nabi yang mendapatkan pertolongan dari Allah pada bulan ini. Umat Islam harus bangga dengan Muharram,” ungkapnya.

Adanya khitanan pun massal dinilai mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pemahaman tersebut. Hal itu dibuktikan dengan tingginya antusias masyarakat mengikuti khitanan massal.

Dampak positif dari kegiatan ini sangat kelihatan, bahkan sudah meluas hingga ke tingkat kKabupate dan luar daerah,” kata Lurah Kutoarjo, Ahmadi Sunawar SSos.

Selain khitanan massal, pada malam hari sebelumnya warga Argopeni juga menggelar pengajian akbar dengan pembicara KH Muhammad Mabrur dari Kebumen.

Sesuai tema yang diangkat, penyelenggara berharap bahwa momentum tahun baru Islam dapat mendorong masyarakat menyucikan hati dan menguatkan tekad untuk menggapai hari yang lebih baik dengan penuh Ridha Illahi.

Sekitar tahun 1970-an, saya ikut sunatan massal dan keluarga merasa sangat terbantu. Karena itu sekarang saya merasa terketuk untuk mengadakan sunatan massal,” ucap H Sugito.

Salah satu orang tua peserta khitan, Muh Lukman, dari Desa Megulung Kidul, Kecamatan Pituruh mengaku terbantu dapat melakukan khitan gratis bagi anaknya, Dwi Yoga Wardana. [jie]




Komentar Pembaca
Arus Lalin Di Tol Kalikangkung Semarang

Arus Lalin Di Tol Kalikangkung Semarang

RABU, 28 OKTOBER 2020 , 18:16:00

Tradisi Maulid Nabi Di Kaliwungu Kendal

Tradisi Maulid Nabi Di Kaliwungu Kendal

RABU, 28 OKTOBER 2020 , 19:39:00

Suasana Pusat Oleh-Oleh Khas Semarang Saat Libur Panjang