Gerindra Jateng : Milik Politisi, Media Mainstream Sering Tabrak Kode Etik Jurnalistik

Politik  SENIN, 13 AGUSTUS 2018 , 21:30:00 WIB | LAPORAN:

Gerindra Jateng : Milik Politisi, Media Mainstream Sering Tabrak Kode Etik Jurnalistik

Sriyanto Saputro/RMOL Jateng

RMOLJateng. Sekretaris DPD Partai Gerindra Jawa Tengah Sriyanto Saputro mengungkapkan dirinya optimistis Jawa Tengah akan tetap kondusif meski ada gelaran Pemilu 2019 yang merupakan pesta demokrasi terbesar di Indonesia.

Namun, Sriyanto menyatakan, media mainstream yang cenderung menampilkan sesuatu yang tidak mendidik disebabkan karena masih adanya media mainstream yang dimiliki politisi atau berafiliasi ke parpol tertentu.

Pernyataan itu disampaikan oleh Sriyanto dalam acara diskusi publik bertema "Pemilu 2019 Tanpa Isu SARA, Black Campaign, dan Hate Speech" yang digelar oleh Radio Elshinta di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Tengah Jalan Veteran, Kota Semarang, Senin (13/8). 

Hadir dalam dikusi selain Sriyanto diantaranya;  Ketua KPU Jawa Tengah Joko Purnomo; Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPD PDIP Jawa Tengah Bambang Haryanto dan Pengamat Politik dari Universitas Diponegoro (Undip) Teguh Yuwono.

Sriyanto yang juga mantan Ketua PWI Jateng menyatakan jika banyak kode etik jurnalistik tetap dilanggar hanya karena media tersebut berafiliasi dengan salah satu parpol atau kepentingan politik tertentu dan sampai saat ini masih terjadi.
 
Saya paham betul, kode etik ditabrak. Saya dulu wartawan, juga pernah di Ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jawa Tengah,” kata Sriyanto.

Untuk pendidikan politik, Sriyanto mengatakan sekarang ini tentunya harus bisa dioptimalkan lagi. Salah satunya, adanya APBD yang lebih besar. Untuk parpol, kata Sriyanto, soal anggaran yang didapat, 60 persennya untuk pendidikan politik.

Pendidikan politik terus kami lakukan, termasuk di internal. Misalnya; tentang media sosial dan Undang-Undang ITE yang bisa berkonsekuensi pidana. Istilahnya jempolmu harimaumu. Adanya media sosial ini adalah konsekuensi kemajuan teknologi,” pungkas Sriyanto yang juga duduk di Komisi A DPRD Jawa Tengah.

Sementara itu, Bambang Haryanto menyebut, paskareformasi terjadi lompatan demokrasi yang luar biasa di Indonesia. Termasuk perkembangan teknologi sosial media yang juga digunakan untuk sarana kampanye.

Saya sepakat itu adalah konsekuensi demokrasi (adanya medsos jadi ajang kampanye). Perkembangan teknologi (yang jadi sarana penyebaran konten negatif saat kampanye), akan sangat bisa diminimalisir,” pungkas  Bambang yang juga duduk di Komisi A DPRD Jawa Tengah ini. [jie]


Komentar Pembaca
Pra Rekontruksi Perampokan di Kawasan Barito Semarang
Bulan Keselamatan Untuk Para Pekerja

Bulan Keselamatan Untuk Para Pekerja

KAMIS, 28 JANUARI 2021 , 08:37:00

Penyuntikan Vaksin Tahap Dua

Penyuntikan Vaksin Tahap Dua

KAMIS, 28 JANUARI 2021 , 13:48:00