Pertamax juga Menjadi Pilihan Pengemudi Ojek Daring

Pertamax sebagai bahan bakar minyak beroktan tinggi ramah lingkungan menjadi pilihan pengemudi ojek daring yang mendukung kinerja lebih baik untuk kendaraan bermotor.


Contohnya, pengemudi daring Kota Semarang Lutfi (32), telah merasakan manfaat menggunakan Pertamax. Lutfi biasa mengisi bahan bakar Rp30 ribu untuk tiga hari tergantung mobilitas hari tersebut. 

"Kapasitas tangki 3,5 liter, jadi paling isi Rp25 .000 sampai Rp30.000 sana untuk tiga hari," ujarnya. 

Meski saat ini permintaan sedang sepi, namun Lutfi enggan untuk menggunakan bahan bakar dengan RON lebih rendah. Apalagi, selisih harga Pertamax dengan BBM di bawahnya tidak terlalu signifikan.

"Pertalite sekarang Rp7.850, selisihnya sama Pertamax cuma Rp1.350. Kalau pakai 3-4 liter, selisihnya cuma Rp4.000, tapi di mesin kan lebih aman," katanya. 

Pengalaman serupa diungkapkan, pengemudi ojek daring di Kota Semarang Joko (45). Menurut Joko, mobilitas tinggi mengharuskan untuk menggunakan Pertamax, agar kondisi mesin motor lebih prima dan tidak terlalu banyak memakan biaya saat servis.

"Dari dulu pakai Pertamax, karena tarikan di motornya enak, jadi kerja juga lebih cepat dan tidak khawatir dengan mesin," ungkapnya. 

Kendaraan Yamaha Aerox yang digunakannya telah memiliki kompresi yang tinggi, sehingga minimal harus menggunakan Pertamax. Manfaat yang dirasakan sangat efisien dalam perawatan mesin, karena tidak harus selalu melakukan servis berat untuk motornya. 

"Harga memang mahal sedikit, tapi sebanding dengan manfaat yang diperoleh," katanya. 

Diakui, saat belum menggunakan Pertamax, ia kerap melakukan servis motor sebulan sekali. Bahkan setiap servis selalu ada saja yang harus diganti. 

"Kalau sekarang pakai Pertamax, servis paling dua bulan sekali, dan itupun hanya servis standar," ujarnya

Sementara itu, Ketua Sedulur GRAB Area Semarang, Hariyadi (47) menyatakan, mendukung penggunaan bahan bakar ramah lingkungan seperti Pertamax pada kalangan ojek online. Namun demikian, pihaknya menyerahkan kembali pemilihan penggunaan BBM kepada masing-masing driver.

"Pemilihan bahan bakar kembali menjadi keputusan masing - masing driver. Namun demikian, saat ini para driver sudah sadar bagaimana memilih bahan bakar yang tepat bagi kendaraan yang digunakan untuk kerja," ungkapnya. 

Dikatakan, meski pilihan bahan bakar kendaraan itu jadi keputusan masing-masing driver, tapi ia yakin para driver ojek sadar bahwa performa kendaraan menjadi nomor satu karena sebagai sarana cari uang. Para driver ojek pun sudah pandai berhitung, bagaimana efek penggunaan BBM RON tinggi pada motornya. 

"Pertamax kan RON 92, jadi otomatis pembakaran bagus dan ramah lingkungan. Ya...kami mendukung, walau saat ini belum semua pakai Pertamax," tukas Haryadi

Hariyadi menambahkan, pemerintah perlu mendukung penggunaan Pertamax di kalangan pengemudi ojek online, salah satunya menyediakan shelter khusus di SPBU. Dengan shelter itu, maka akan lebih mudah bagi pemerintah menjalankan program BBM ramah lingkungan lebih tepat sasaran.

"Kalau ada shelter khusus, kan program subsidi atau pemberian voucher khusus bagi ojek online untuk menggunakan Pertamax bisa tepat sasaran," pungkas Hariyadi.