Lenguh dan Kotoran Sapi, Menyulap Samirono Berdaulat Pangan dan Energi

Suasana Desa Samirono, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, yang asri, sejuk dan nyaman. Limbah kotoran sapi menyulap desa ini menjadi desa berdikari,  berdaulat pangan dan energi. foto: dok. Desa Samirono
Suasana Desa Samirono, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, yang asri, sejuk dan nyaman. Limbah kotoran sapi menyulap desa ini menjadi desa berdikari, berdaulat pangan dan energi. foto: dok. Desa Samirono

Hawa dingin yang membekap tubuh pagi itu, tak lagi dihiraukan Sobari (35), saat berkutat di kandang sapi miliknya. Tanpa jijik, laki-laki itu mengumpulkan gumpalan demi gumpalan kotoran dari bawah lima ekor sapi miliknya. Tangannya lincah mengambil sekop dan memindahkan kotoran yang menumpuk itu, lalu memasukkannya ke bak penampungan.


Kegiatan itu bagi Sobari dan warga Dusun Pongangan, Desa Samirono, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, menjadi ritual yang rutin dilakukan setiap pagi.  Setiap jam 06.00 WIB, selama setengah jam atau satu jam, warga membersihkan kandang, dilanjutkan lagi sore harinya sekitar pukul 16.00 WIB. Sejak 2019,  kotoran sapi yang melimpah ruah di desa itu dikembangkan menjadi biogas, dengan bantuan hibah reaktor atau digester (alat pembuat biogas)  dari Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jateng.

 “Dari setiap ekor sapi, kotoran yang terkumpul sekitar 30-40 kg. Kotoran sapi bercampur urin dan air ini kita masukan di bak penampungan dan dicampur air, setelah itu, gas dipisahkan dari ampas kotoran oleh digester, kemudian ampasnya disalurkan ke bak pembuangan,” ujar Sobari, kepada RMOL Jateng, Senin (27/6/2022).  Di belakang rumahnya terdapat 1 unit digester berkapasitas 6 meter kubik berupa dua bak dan satu tiang dari pipa.

Menurut Sobari, untuk menggerakkan digester berkapasitas 6 meter kubik cukup dari kotoran yang dihasilkan 2 ekor sapi atau setara dengan 50-70 kg, yang diisi setiap 2 hari sekali. Sejak memiliki digester biogas, praktis Sobari mengaku tak lagi membutuhkan elpiji melon (elpiji 3 kg) untuk keperluan memasak. Padahal, sebelum ada biogas, dalam sebulan dia membutuhkan 4-5 tabung elpiji melon.

Kehadiran biogas sangat membantu dia dan warga di desanya. Selain tidak lagi menggunakan kayu bakar, mereka juga dapat menghemat penggunaan elpiji.

“Sejak ada biogas, warga yang biasa membeli rata-rata empat elpiji melon sebulan, kini hanya membeli satu atau dua elpiji saja. Atau bahkan ada yang tak perlu membeli elpiji sama sekali, karena kebutuhannya sudah terpenuhi dari biogas,” ujar pria yang pernah menjabat kepala dusun Pongangan ini.

Jika dikalkulasi, penghematan warga cukup lumayan. Harga elpiji melon tiga kilogram Rp20 ribu. Jika warga membeli empat tabung elpiji, maka dalam sebulan membutuhkan biaya Rp80 ribu sebulan. Jika warga cukup membeli dua elpiji saja dalam sebulan, maka dapat menghemat Rp40 ribu. Tapi, jika ada warga yang tak membeli elpiji lagi, dapat menghemat Rp80 ribu.

Belum lagi, penghematan dari listrik PLN, karena mulai sore hingga malam hari selama 5-7 jam warga menggunakan biogas untuk penerangan. Jika listrik tiba-tiba padam, warga bisa mengaktifkan biogas untuk menyalakan petromaks dengan bahan bakar biogas.

“Kalau listrik padam, petromaks ini langsung kita nyalakan. Membantu anak-anak tetap bisa belajar di malam hari,” ujarnya. Dikatakan, biogas juga tak berbahaya. Jika pipa atau selang bocor, tak memicu kebakaran seperti elpiji. ‘’Paling hanya berbau kotoran sapi, itu pertanda ada yang bocor,’’ tambahnya.

Bagi warga desa yang sebagian besar merupakan petani dan peternak, pengeluaran biaya rumah tangga yang dapat dihemat berkat biogas tersebut, merupakan anugerah luar biasa yang sangat disyukuri.

Sobari (35) bersama Riyadi (kanan),  warga Dusun Pongangan, Desa Samirono, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, menyalakan kompor berbahan bakar biogas dari kotoran sapi. Masyarakat Desa Samirono yang sebagian besar peternak sapi, mengembangkan biogas komunal selama 18 tahun sejak 2002 silam. foto: Stefy Thenu

Sobari, yang pernah mengikuti bimbingan teknis biogas dari Kementerian ESDM di Bandung pada 2019 itu, mengatakan, digester biogas berfungsi untuk menampung gas metana hasil fermentasi kotoran sapi. Limbah organik sapi kemudian diubah oleh konsorsium mikro organisme anaerob menjadi biogas. Biogas kemudian dialirkan ke rumah-rumah dengan pipa untuk keperluan memasak dan penerangan.

Menurut Sobari, di dusunnya terdapat 54 unit digester biogas, dipakai oleh 78 KK, atau yang terbanyak dari lima dusun yang ada di Desa Samirono.

“Dusun kami lebih banyak digester, karena di sini yang paling banyak ternak sapinya. Ada 726 ekor sapi milik warga dan 643 ekor sapi potong milik pengusaha yang kandangnya ada di dusun ini,’’ ujar Sobari.

Sebanyak 54 unit digester biogas itu ada yang berkapasitas 100 meter kubik (m3), 50 m3, 20 m3, 10 m3, dan 6 m3.  Sobari menjelaskan, digester kapasitas 100 m3 dapat mengaliri kebutuhan gas dan penerangan untuk 20 rumah.

‘’Yang 50 m3 bisa menerangi 10 rumah, 20 m3 untuk 7 rumah, 10 m3 untuk 5 rumah, sedangkan kapasitas 6 m3 hanya untuk 1 rumah,’’ paparnya.

Dari 54 unit digester, kata Sobari, tinggal 49 unit yang aktif. Yang 5 lainnya tak berfungsi dengan baik. ‘’Ada yang tak digunakan lagi, karena pemiliknya sudah sepuh dan tak lagi memiliki sapi, ada pula yang betul-betul sudah rusak, dan belum diperbaiki,’’ imbuhnya.

Kepala Desa Samirono, Slamet Juriono mengungkapkan, Desa Samirono memiliki 800 KK dengan  2.527 jiwa. Kondisi geografis Samirono yang berada di lereng Gunung Merbabu, yang subur dan berudara sejuk menjadi lingkungan yang sangat ideal bagi budidaya sapi perah. Tak heran, di desa yang berada di ketinggian 1.086 mdpl ini memiliki jumlah sapi sebanyak 1.417 ekor.

Dikatakan, reaktor biogas pertama kali dibangun di desanya pada 1992 di rumah warga bernama Suyut. Pada 2002, mulai dikembangkan biogas komunal dengan membangun 9 unit digester biogas. Pada 2010-2012, bertambah lagi 4 unit bantuan dari pihak swasta.

“Tahun 2013, kami berhasil memenangkan Lomba Desa Mandiri Energi tingkat Provinsi Jawa Tengah,” ujar pria yang menjabat Kades dua periode sejak 2014 ini.

Tahun 2016, Desa Samirono masuk nominasi Penghargaan Energi Tingkat Nasional yang diselenggarakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI. Pada 2017, mendapat tambahan 2 unit digester dari Dinas ESDM Provinsi Jateng. Setahun kemudian, menerima lagi 2 unit dari Dinas ESDM. Pada 2018, total ada 41 unit yang digunakan oleh 152 KK. Pada 2019, dibangun lagi 5 unit digester biogas di Dusun Pongangan dan Kendal.

Seiring waktu, digester generasi pertama banyak yang rusak, sehingga saat ini, tersisa 49 unit, dengan total volume 722 meter kubik dan kapasitas produksi mencapai 290 meter kubik per hari, yang digunakan 115 KK. Selain bantuan hibah dari pihak swasta dan Pemda, menurut Juri, pihaknya juga mengalokasikan dana desa untuk pembuatan digester secara swadaya. Pada 2018, diberikan dana stimulan Rp5 juta untuk setiap KK yang akan membangun digester. Pada 2019, dialokasikan Rp10 juta untuk biaya perawatan seluruh unit digester. Tahun 2021, Pemerintah Desa Samirono mendapat bantuan 20 unit digester berkapasitas 6 meter kubik ke Dinas ESDM Provinsi Jateng.

Kedaulatan Energi

Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko mengatakan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong dan mendukung pembangunan reaktor atau digester biogas komunal di provinsi ini. Hal itu sebagai upaya menjadikan energi baru terbarukan (EBT) sebagai bagian dari Rencana Strategis (renstra) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mewujudkan kedaulatan di bidang pangan, air dan energi. “Kami terus mengembangkan EBT sebagai bagian dari upaya mewujudkan kedaulatan energi di Jawa Tengah,” ungkap Sujarwanto.

Pihaknya terus membangun reaktor biogas di banyak tempat. Bukan hanya yang berbahan baku kotoran sapi, melainkan yang bersumber dari limbah produksi tahu tempe dan limbah produksi pati onggok (tepung dari batang pohon aren). Di Klaten, misalnya, energi biogas hasil pengolahan limbah cair pati onggok di Desa Daleman, Kecamatan Tulung, digunakan lagi untuk proses produksi soun, hunkwe dan dawet dari bahan baku pati onggok tersebut. Pengolahan limbah ini didanai Pemerintah Kerajaan Denmark dan Pemprov Jateng senilai Rp13 miliar.

Tahun 2020, pihaknya membangun 36 unit reaktor biogas di 17 kabupaten dan kota dengan anggaran Rp2 miliar.  Lokasinya tersebar di berbagai tempat, antara lain di sentra-sentra ternak sapi di Getasan Kabupaten Semarang, Sragen, Boyolali dan Wonogiri. Pada 2019, dibangun 8 unit digester biogas total kapasitas 96 meter kubik, untuk pesantren di Purworejo, Pati dan Magelang. Hingga 2019, telah terbangun 20 unit biogas melalui mekanisme Dana Alokasi Khusus ke pemerintah kabupaten dan 111 unit melalui APBN ke Kementerian ESDM. Untuk pengadaan digester biogas, Dinas ESDM Provinsi Jateng mengucurkan anggaran, yakni hibah 10 unit pada 2018 Rp484.467.000, berikutnya 17 unit Rp999.330.000 (2019), dan pada 2021, dikucurkan Rp4,87 miliar untuk pengadaan 98 unit.

UMKM Bergairah, Berdaulat Pangan

Sekretaris Desa Samirono, Didik Mustofa (40) mengatakan, sebagian besar warga desa bekerja sebagai petani/pekebun dan peternak.

‘’Di desa kami, terdapat 3 warga yang bekerja sebagai pengepul susu sapi, selain itu ada pula 3 warga lainnya yang bertugas keliling untuk membeli dan menjual kembali susu sapi milik warga,’’ ujar Didik.

Memiliki lahan seluas 333,99 hektare (ha),  sebagian besar lahan Desa Samirono merupakan  lahan perkebunan/pertanian, yakni 262,04 ha. Petani di desa ini menanam aneka tanaman sayur-sayuran segar, yang menjadi komoditas pertanian penting untuk dijual ke kota-kota di sekitarnya.

Adanya digester biogas di desa ini, diakui Didik, juga memberikan keuntungan lain bagi warga, yakni pupuk organik sisa pembuatan biogas untuk pertanian. “Ampas kotoran sapi hasil pengolahan biogas, dapat langsung digunakan untuk memupuki sayuran milik warga. Ampas yang masih basah maupun yang sudah kering, bisa langsung digunakan sebagai pupuk karena sudah aman, tidak ada kandungan gas. Tanah makin subur dan tanaman tak gampang mati. Keuntungan lain, udara dan lingkungan menjadi bersih, tidak berbau,” ujar Didik.

Didik menjelaskan, untuk meningkatkan ketahanan pangan, Tahun anggaran 2022 ini, Pemerintah Desa Samirono mengalokasikan anggaran untuk  bantuan hibah tanaman alpukat bagi seluruh rumah tangga atau 635 kepala rumah tangga, dimana setiap rumah menerima 2 bibit pohon alpukat. Ada pula bantuan hibah kambing sebanyak 27 ekor melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Samirono.

‘’Rencananya, pada triwulan ketiga atau keempat tahun ini, kami akan membangun rumah pengolah pupuk organik di Dusun Tawang,’’ tambahnya.

Pihak Pemdes juga aktif mendukung dan membantu permodalan bagi UMKM.  Melalui Dana Desa, sejak 2 tahun terakhir, Pemdes Samirono menganggarkan bantuan modal usaha bagi 3 usaha produktif, dimana setiap usaha mendapat bantuan modal Rp1,5 juta. Tak heran, pelaku UMKM di desa ini kian bergairah, sehingga usaha-usaha baru terus lahir, yang hingga kini mencapai 80 UMKM.

Eko Susanto, merupakan salah satu warga yang bergairah menjalankan bisnis Kue Bakpia "Berkah" miliknya. Usaha produksi yang dirintis pemuda warga Dusun Pongangan RT 004 RW 001 ini masih berbasis usaha mikro serta sudah mengantongi izin NIB dengan nomor pendaftaran 0220203301737.

Eko Susanto, warga Desa Samirono pemilik usaha Kue Bakpia "Berkah". foto: dok. Desa Samirono.

Usaha kue bakpia yang dirintis sejak 2 Januari 2018 ini dikemas dalam pilihan kemasan bungkus plastik, mika, dan toples. Produk yang memiliki tiga varian rasa yaitu cokelat, keju, dan kacang ijo dijual dengan harga mulai dari Rp5 ribu hingga Rp20 ribu. Pembeli dapat order via nomor whatsapp dan akun IG pia_berkahgetasan dan e-Commerce Shopee, Pia Berkah. Berkat kerja kerasnya, usaha kue bakpianya terbilang sukses.

‘’Dalam sebulan, omzet bisa mencapai kurang lebih Rp7,5 juta,’’ kata Eko Susanto.

Masih di Dusun Pongangan, ada lagi, Roti Kacang K♥RTU  M-91, yang menjadi oleh-oleh Khas Desa Samirono.  Roti kacang ini diproduksi Eti Yanuarneni. Ibu dari tiga anak ini, memulai usaha membuat roti kacang mulai 2014. Ada berbagai pilihan kemasan plastik mulai dari ukuran ½ kg dan 1 kg. Bagi yang ingin praktis tersedia juga kemasan toples 200 gram, 300 gram, dan 400 gram. Produk ini dijual mulai dengan harga spesial Rp 27.500, dan untuk kemasan toples mulai dari Rp 30 ribu. Untuk pemesanan dapat datang langsung ke rumahnya di Pongangan RT 003 RW 001, atau melalui pemesanan online ke Nomor WA 0857 1336 6714.

Bergeliatnya UMKM yang didukung Pemdes, praktis mendongkrak tingkat kesejahteraan dan perekonomian warga. Terbukti, banyak warga desa yang mampu menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang pendidikan tinggi di Semarang, Solo, Salatiga dan Yogyakarta. 

"Di desa kami, jumlah sarjana mencapai 68 orang, dan yang masih berstatus mahasiswa 23 orang," ungkap Didik.

Desa Toleran

Selain berdaulat pangan dan energi, Desa Samirono juga dikenal dengan keindahan toleransinya. Di desa ini, warga desa yang menganut empat agama, yakni Islam, Kristen, Katolik, dan Budha hidup berdampingan dengan aman dan damai.  

‘’Di sini, kami hidup berdampingan dengan damai, tak ada perbedaan atas nama agama atau keyakinan. Prinsip hidup damai dan harmonis itu sudah berlangsung bertahun-tahun silam yang diwariskan para pendahulu, orang tua kami,’’ kata Didik, yang menyebutkan terdapat 7 masjid, 1 mushola, 4 gereja dan 1 vihara di desanya.

Salah satu kegiatan warga Desa Samirono yang menunjukkan harmoni dan toleransi. foto: dok Desa Samirono.

Sobari mengakui, sejak kecil toleransi itu diwarisi secara alami oleh orang tuanya. ‘’Alhamdulilah, tak pernah ada konflik atas nama agama. Kami semua, baik Islam, Kristen, Katolik dan Budha meski berbeda keyakinan hidup bersatu dengan damai, dan itu sudah terjadi selama puluhan tahun,’’ ungkapnya.

Ya, suara lenguhan sapi telah memberi warna tersendiri bagi Desa Samirono. Limbah kotoran sapi terbukti pula mampu menyulap Desa Samirono menjadi desa berdikari, yang berdaulat pangan dan energi. Bukan itu saja, kedaulatan pangan dan energi itu membangkitkan kearifan lokal: kehidupan warga Samirono jadi teladan dan inspirasi bagi masyarakat lain di sekitarnya, untuk hidup toleran, berdampingan secara damai dan terus memelihara harmoni, meskipun berbeda keyakinan.