Direktur RSI Sultan Agung Ajak Edukasi Kesehatan Lewat Tulisan

Direktur Umum dan Keuangan RSI Sultan Agung Munadharoh SE MM mengajak para wartawan, praktisi media dan penulis untuk terus mengedukasi warga masyarakat tentang kesehatan melalui tulisan di berbagai media.


''Peran wartawan, praktisi media dan penulis di era digital ini semakin penting. Karena melalui tulisan dan konten-konten positif masyarakat mendapat informasi tentang kesehatan yang baik dan benar. Berbahaya kalau tulisan hoaks menyangkut kesehatan sampai dipercaya sebagai kebenaran oleh masyarakat,'' katanya, Senin (1/8/2022).

Munadharoh atau yang akrab disapa Mbak Titut mengatakan hal itu di depan peserta Workshop Menulis di Media dan Sosialisasi Industri Hulu Migas di Pondok Pesantren Al-Hikmah 2, Benda, Sirampog, Kabupaten Brebes.

Workshop dan sosialisasi tersebut digelar dalam rangka memeriahkan Haul Ke-11 KH Masruri Mughni dan Haul Ke-26 Nyai  Adzkiya binti H Miftah. 

Selain diikuti para santri, workshop diikuti para kepala sekolah di lingkungan Al-Hikmah2, penyiar Radio Tsania FM, pengelola website, Fatayat NU dan Lembaga Bahstul Masail (LBM) Nahdlatul Ulama. 

Sebagai pembicara Agus Fathuddin Yusuf dari Suara Merdeka Semarang, Agustoto Widyatmoko Pemimpin Redaksi suaramerdeka.com dan Syamsul Huda wartawan senior dari NU-Online.

Melawan Hoaks

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikmah2 Benda, Sirampog, Brebes KH Sholahuddin Masruri ketika membuka workshop mengatakan, telah menyiapkan kader Nahdlatul Ulama (NU) untuk menepis hoaks dan informasi yang belum teruji kebenarannya dan bertebaran di media sosial yang  menyesatkan masyarakat.

Menurut Gus Sholah, kondisi tersebut sangat memprihatinkan dan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, karena hoaks dan informasi tidak benar menyesatkan masyarakat. 

"Karena itulah, Pesantren Al-Hikmah2 berupaya menghadirkan para santri dan kader NU agar memiliki kemampuan mengisi ruang-ruang media maya sehingga jagad medsos tidak dipenuhi informasi yang menyesatkan," katanya.

Dikatakan, Pesantren Al-Hikmah 2 bersama dengan Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang dan SKK Migas Jabanusa bergandengan tangan membekali keterampilan kepada santri agar mampu membuat konten bernarasi positif di jagad maya.

Dia berharap, paska workshop potensi menulis para peserta akan tumbuh dan semakin berkembang. Karyanya semakin berkualitas sehingga layak untuk dipublis di media umum, media internal, maupun medsos.

"Dari sekian banyak peserta diharapkan ada yang berhasil menjadi penulis atau produsen konten media yang berkualitas dan menyejukkan jagad media massa maupun media sosial," kata Gus Sholah.

Agus Fathuddin Yusuf seorang jurnalis mengajak santri untuk lebih produktif mengisi media sosial dengan konten-konten positif yang bersumber dari kitab-kitab salaf di pesantren. 

"Kalau medsos tidak diisi oleh para santri, maka jangan salahkan bila diisi oleh orang lain dengan konten-konten yang tidak produktif bahkan membahayakan,'' kata dosen FISIP Unwahas itu.

Jurnalis lainnya Agus Toto Widyatmoko menjelaskan, hoaks dalam Bahasa Indonesia berarti berita bohong, informasi palsu atau kabar dusta. 

"Menurut kamus bahasa Inggris, hoax artinya olok-olok, cerita bohong, dan memperdayakan alias menipu. Informasi yang direkayasa untuk menutupi informasi sebenarnya,'' katanya. 

Hoaks menurut Agus Toto bentuk penipuan yang tujuannya untuk membuat kelucuan atau membawa bahaya. Upaya pemutarbalikan fakta menggunakan informasi yang seolah-olah meyakinkan tetapi tidak dapat diverifikasi kebenarannya. 

"Tindakan mengaburkan informasi yang sebenarnya, dengan cara membanjiri suatu media dengan pesan yang salah agar bisa menutupi pesan yang benar. Masyarakat harus paham menghadapi hoaks ini,'' katanya.

Menurutnya, hoaks itu sesat dan menyesatkan, apalagi jika pengguna internet tidak kritis dan langsung membagikan berita yang dibaca kepada pengguna internet lainnya.