Perahu Kuno Di Punjulharjo Rembang Bukti Otentik Aktivitas Pelayaran Masa Lampau

Pariwisata  SELASA, 17 MARET 2020 , 14:35:00 WIB | LAPORAN: DARYONO

Perahu Kuno Di Punjulharjo Rembang Bukti Otentik Aktivitas Pelayaran Masa Lampau
RMOLJateng. Temuan perahu kuno di Desa Punjulharjo, Kecamatan/Kabupaten Rembang menjadi salah satu bukti otentik bahwa aktivitas pelayaran sebagai interaksi antar pulau dan suku-suku di Nusantara sudah ada sejak dulu.

Dari banyak peninggalan cagar budaya bawah air di berbagai wilayah di tanah air,  perahu kuno yang ditemukan di Punjulharjo menambah refesensi penting untuk membuka tabir teka-teki gambaran kehidupan penduduk Nusantara saat itu.

Menurut para pakar dari berbagai perguruan tinggi, Balai Arkeologi Yogyakarta dan Direktorat Jendral Cagar Budaya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, perahu kuno di Punjulharjo memiliki arti penting bagi ilmu pengetahuan, sejarah dan kebudayaan.

Dari banyak temuan perahu atau kapal, perahu kuno Punjulharjo diidentifikasi terlengkap di Asia Tenggara.  Sehingga keberadaannya dilindungi UU RI No 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

Perahu dengan panjang 15 meter dan lebar 4,6 meter ini pembuatannya menggunakan teknologi penyambungan antar papan, teknik papan ikat dan kupingan pengikat.

Berdasarkan pertanggalan "radiocarbon" perahu ini berasal dari abad VII-VIII (660-780) yang merupakan temuan perahu satu-satunya di Asia Tenggara yang paling komplit dan utuh.

Mengingat pentingnya keberadaan perahu kuno di Punjulharjo, maka Direktorat Jendral Purbakala Kementerian Pendidikan dam Kebudayaan bekerja sama dengan Balai Arkeologi Yogyakarta sepakat melakukan konservasi terhadap perahu tersebut.

Konservasi akhirnya dilakukan selama tujuh tahun (2011-2018). Kondisi bahan baku perahu, yakni kayu ulin sudah lapuk, maka dalam proses konservasi dilakukan secara hati-hati dan menggunakan bahan yang bermutu tinggi.

Bahan untuk mengembalikan kekuatan kayu dengan mengisi pori-pori kayu menggunakan bahan polyethylene glycol (peg) bahan penguat yang akan menggantikan air dalam sel-sel kayu. Dengan demikian setelah kering, kayu tidak mengkerut dan bahkan semakin kuat.

Untuk melakukan perendaman perahu s Rt lama tiga tahun,  menghabiskan PEG sebanyak 26 ton atau 60 drum. Hasilnya sangat memuaskan. Kini kayu perahu menjadi kuat.

Agar kualitas kayu perahu tetap baik, dalam perawatan pasca konservasi,  harus dilakukan dengan standar purbakala. Antara lain,  tingkat suhu udara harus terjaga secara konsisten.  

"Pembukaan pintu ruang, harus kami atur sesuai kondisi udara. Saat panas menyengat, seluruh pintu harus kami tutup, namun pada saat udara dingin dan lembab, sebagian pintu kami buka. Artinya pintu yang banyak ini punya fungsi," ujar Iksan (54) salah satu penjaga musium perahu kuno Punjulharjo, saat ditemui RMOLJateng, Selasa (17/3), siang.

Iksan mengaku, senang ditugasi oleh pemerintah menjaga dan memelihara perahu kuno Punjulharjo. "Selain ikut berpartisipasi menjaga kekayaan budaya bangsa, juga banyak mendapat pengetahuan, pengalaman dan berinteraksi dengan para orang pintar di bidang cagar budaya dari berbagai perguruan tinggi di tanah air," tutur Iksan.

Menurut perhitungannya rata-rata situs perahu Punjulharjo dikunjungi antara 400-500 orang baik dari lokal Rembang maupun dari berbagai kota bahkan ada yang datang dari luar negri.

Untuk mengunjungi situs perahu kuno Punjulharjo sangat mudah. Lokasinya berada di sekitar 4 km sebelah timur kota Rembang. Berada di sebelah utara jalur nasional pantai utara (Pantura). Persisnya berada sekitar 500 meter dari pantai Punjulharjo dan berada disebelah barat pantai Karangjahe, Punjulharjo. [hen]



Komentar Pembaca