Serangan Hama Tikus, Masa Tanam Sukoharjo Molor 2 Bulan

Ekonomi  SELASA, 14 JANUARI 2020 , 16:49:00 WIB | LAPORAN: ALMIRA NINDYA

Serangan Hama Tikus, Masa Tanam Sukoharjo Molor 2 Bulan
RMOLJateng. Serangan hama tikus sedang merajalela di area persawahan di kabupaten Sukoharjo. Akibatnya, masa tanam padi mundur, bahkan ada yang seharusnya mulai tanam bulan Nopember 2019, sampai pertengahan bulan Januari 2020 belum juga tandur.
 
"Akibat serangan hama tikus yang makin banyak, banyak petani takut tebar benih, jadi masa tanamnya molor. Banyak petani saling menunggu tanam,” kata Joko (60) petani kelurahan Banmati, kecamatan Sukoharjo, Selasa (14/1).
 
Joko mengaku serangan hama tikus mulai mewabah sejak bulan Desember 2019. Untuk meminimalisir serangan hama tikus, tiap malam ronda diarea persawahan, bersama dengan petani lain melakukan gropyokan.
 
"Kemarin sudah sempat tanam benih, dua hari habis dimakan tikus. Ini nyebar benih lagi, lahannya kita kurung dengan pastik ada juga yang pake seng, semoga aman,” imbuhnya.
 
Joko menilai, serangan hama tikus bukan karena hilangnya predator pemakan tikus, seperti ular dan burung. Karena ular pun masih banyak dijuampai di sawah.
 
"Wabah serangan hama tikus karena kemarau kemarin terlalu panjang dan sepertinya siklus musiman,” imbuhnya.
 
Tidak hanya di area persawahan di Banmati saja, tapi juga merata disejumlah daerah lain. Seperti di wilayah Polokarto dan Mojolaban. Bahkan secara mandiri warga petani rutin melakukan gropyokan.
 
Kepala Desa (Kades) Pranan, Jigong Sarjanto yang juga petani membenarkan banyak petani yang mengundur masa tanam, takut gagal.
 
"Di Pranan Polokarto, waktu tanam padi molor hingga tiga minggu. Agar tidak berkepanjangan, para perangkat desa bersama petani tengah menyiapkan gropyokan tikus. Kami rencanakan gropyokan tikus untuk mengurangi serangan hama tikus ini, agar petani bisa mulai menanam benih," terangnya.
 
Menurutnya, gropyokan tikus ini tidak bisa serta merta dilakukan. Hal ini dikarenakan harus ada persiapan agar gropyokan tikus lebih efektif.
 
"Karena, agar pesemaian aman maka tikus harus digropyok lebih dahulu. Untuk dapat nggropyok tikus olah tanahnya harus selesai, dengan mengolah tanah yang memerlukan air yang cukup," paparnya.

Jigong menambahkan, untuk Desa Pranan sendiri saat ini memiliki tanah persawahan seluas 125 hektar, hampir semua mendapatkan serangan hama tikus dengan jumlah yang berbeda. [jie]

Komentar Pembaca
Pasar Semawis 2020 Di Semarang

Pasar Semawis 2020 Di Semarang

JUM'AT, 17 JANUARI 2020 , 14:10:00

Suasana Alun-Alun Semarang

Suasana Alun-Alun Semarang

RABU, 22 JANUARI 2020 , 10:24:00

Demo Guru Swasta di Semarang

Demo Guru Swasta di Semarang

SENIN, 17 FEBRUARI 2020 , 16:10:00