Gender Equality Dalam Pendidikan Dengan Aksi Lecturing and Babysitting

Opini  MINGGU, 15 DESEMBER 2019 , 11:02:00 WIB

Gender Equality  Dalam Pendidikan Dengan Aksi <i>Lecturing and Babysitting</i>

Ilustrasi/net

KODRAT seorang manusia salah satunya yakni  melanjutkan keturunan,  tentunya dengan ikatan yang sah sesuai dengan peraturan agama dan negara yang ada , selayaknya seorang pasangan suami istri pada umumnya hal yang dinanti-nanti ialah hadirnya buah hati mungil dan lucu berada ditengah-tengah mereka.

Namun terkadang karena adanya satu dan lain hal hadinya bayi cukup membuat repot terutama bagi sang ibu, karena untuk memberikan asupan ASI yang nomor satu dan perawatan yang terbaik bayi tidak bisa untuk ditinggal lama-lama jauh dari ibunya,  apalagi bagi seorang ibu yang masih menempuh pendidikan.

Dilansir dari halaman kemenpppa.go.id pada dasarnya wanita memiliki 5 hak diantaranya ialah (1) Hak dalam ketenagakerjaan ,(2)  hak dalam bidanng kesehatan, (3) hak yang sama dalam pendidikan, (4) hak dalam perkawinan dan keluarga , (5) hak dalam kehidupan publik dan politik.

Hak yang sama dalam pendidikan ini masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa laki-laki lebih unggul namun setereotip seperti hal tersebut harus mulai dihilangkan dan mulai memahami bahwasanya setiap manusia memiliki kesamaam mengenyam pendidikan dari tingkatan dasar hingga Universitas tanpa membedakan gender.
 
Seringkali  perempuan terhambat karena terbebani akan tugas rumahtangga sehingga perempuan tidak bisa menunjukkan perannya secara optimal, lingkup terpenting dalam pendidikanpun perempuan  tidak mendapatkan kesamaan.

Belakangan ini muncul postingan di Media Sosial yang diunggah oleh Abdul Gafar Karim, tentang Lecturing and Babysitting why not. Seorang pendidik harus punya kendali penuh atas proses belajar bukan ?. Yaitu seorang dosen yang  menggendong seorang bayi mahasiswinya ketika kegiatan belajar mengajar ( Liputan 6, 13 Desember 2019)  seorang dosen bernama Abdul Gaffar Karim membagikan pengalamanya ketika mengajar di sebuah kelas pasca sarjana.

Seorang mahasisswinya meminta izin untuk presentasi terlebih dahulu lantaran harus keluar kelas secepatnya, ketika ditanya oleh sang dosen penyebabnya ialah mahasiswa tersebut membawa bayinya yang berusia 4 bulan dan telah menungguinya diluar kelas bersama ibunya.

Ungahan Abdul Gafar ini membuka mata kita bahwasanya bayi bukanlah penghambat maupun penganggu dalam kegiatan pembelajaran, adapun aksi yang dilakukan oleh Abdul Gaffar tidaklah menganggu proses kegiatan pembelajaran asal dalam pengasuhan dan perlakukan yang akademisi semua hal dapat berjalan dengan serasi.
 
Postingan diatas yang dilakukan oleh Abdul Gaffar Karim yang dilakukan oleh seorang dosen terhadap mahasiswinya mencerimankan Equality Gender dalam pendidikan dengan aksi Lecturing and Babysitting.

Mentri Negara Pemberdayaan Perempuan (2001) Gender Equality atau Kesataraan gender adalah keadaan bagi perempuan dan laki-laki menikmati status dan kondisi yang sama untuk merealisasikan hak asasinya secara penuh dan sama-sama berpotensi dalam menyumbangkanya dalam pembangunan, dengan demikian kestaraan gender adalah penilaian yang sama oleh masyarakat terhadap persamaan dan perbedaan oerempuan dan laki-laki dalam berbagai peran yang mereka lakukan.
 
Sedangkan butir-butir refleksi pengertian guru dari Redaksi Sinar Grafika, 2009  adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Seorang guru yang profesionl dapat tercermin dalam pengabdian kepada masyarakat, tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian penyampaian baik dalam materi maupun metode pembelajaran dengan peserta didik yang memiliki karakter, sifat dan latarbelakang yang beragam juga menjadi tantangan bagi seorang pendidik untuk merapkan metode yang paling bijaksana.

Masyarakat dan budaya yang dapat melemahkan wanita sekiranya anggapan-anggapan ini dapat dihilangkan. Apa yang dilakukan oleh Abdul Gafar merupakan suatu aksi yang patut untuk diberi apresiasi dan dapat menjadi contoh bagi pengajar lain di negeri ini.

Abdul Gaffar memberikan ruang atau space bagi perempuan dan bayinya untuk dapat mendapatkan haknya, yakni tetap melaksanakan peranya sebagai ibu dan sebagai makhluk profesional, bahwasanya wanita dapat berkarya baik di domestik maupun diruang publik tanpa harus takut adanya deskriminasi gender. [***]
 

Alna Srohfiah
Universitas Negeri Semarang


 
 



Komentar Pembaca
Melihat Aktivitas Bongkar Muat Kapal Laut

Melihat Aktivitas Bongkar Muat Kapal Laut

SABTU, 23 NOVEMBER 2019 , 09:51:00

Festival Kampung Gunung Telomoyo Magelang

Festival Kampung Gunung Telomoyo Magelang

JUM'AT, 29 NOVEMBER 2019 , 10:02:00

Lukisan Mural Rumah Peribadatan

Lukisan Mural Rumah Peribadatan

RABU, 27 NOVEMBER 2019 , 17:15:00