Nadiem Mendikbud, Kekhawatiran Terhadap Dissorientasi Pendidikan Kedepan

Opini  MINGGU, 08 DESEMBER 2019 , 10:09:00 WIB

Nadiem Mendikbud, Kekhawatiran Terhadap Dissorientasi Pendidikan Kedepan
KABINET Indonesia Maju Presiden Joko Widodo telah dirilis dan memamerkan Menteri-menterinya. Muncul nama-nama baru dan muda didalamnya.

Yang paling menjadi sorotan adalah penunjukan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Nadiem sendiri adalah pemuda dengan segudang prestasi, beliau peraih gelar BA jurusan Hubungan Internasional di Brown University (AS).

Dia juga memiliki gelar MBA dari Harvard Business School. Nama Nadiem mencuat setelah mendirikan Gojek Indonesia pada 2010 dan berhasil memimpin perusahaan itu hingga berstatus sebagai startup Decacorn. Nadiem adalah seseorang dengan latar belakang pebisnis dan pengembang startup.
 
Banyak dari publik sendiri yang menaruh harapan besar pada beliau, seperti Ridwan Kamil yang mengatakan Nadiem adalah figur yang pas karena segudang prestasinya dan Gojeknya mewakili visi yang terlaksana dengan baik.

Akan tetapi, perlu juga dipertanyakan juga kapabilitas dari Nadiem sendiri terhadap kepemimpinannya dalam hal pendidikan. Dikarenakan latar belakang beliau sebagai pebisnis dan pengembang startup jauh sekali menyentuh ranah kependidikan.
 
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang baru, Nadiem Makarim mengaku belum memiliki inovasi baru untuk menjalankan kementerian di bidang pendidikan.

Menurut Nadiem, karena ia merasa dirinya merupakan generasi milenial dan memiliki latar belakang teknologi, ia akan memastikan membawa perubahan Kemendikbud ke arah sana.

Padahal ketika berbicara mengenai pendidikan, bukan hanya berfokus pada hal teknologi saja. Teknologi hanyalah sebagian kecil saja dari pembahasan tentang pendidikan, sedangkan berbicara mengenai pendidikan adalah berbicara tentang sistem. Yang didalamnya berisi satu kesatuan menyuluruh, kompleks, dan komperhensif.

Tidak bisa kita hanya mengambil satu titik saja dibidang teknologi misal. Teknologi bisa dikatakan hanyalah media, bukan sistem.

Penunjukan Nadiem sebagai menteri baru juga bisa dikatakan belum punya nilai tawar yang kuat yang bisa ditawarkan ke publik.

"Saya suka ditanya apa rencana 100 hari Pak Nadiem. Saya tidak ada rencana 100 hari. Rencana saya 100 hari untuk duduk dan mendengar berbicara dengan para pakar yang telah berdampak pada pendidikan," kata Nadiem saat memberikan sambutan.  

Hal ini menunjukan bahwa nadiem belum memiliki program 100 hari kerja untuk mengurusi pendidikan di Indonesia. Ia justru mengaku akan berfokus belajar dan mendengar aspirasi di kantornya yang baru. Sedangkan kompleksitas permasalahan pendidikan perlu dipikirkan secara matang.

Alasan Jokowi memilih Nadiem adalah ingin mengarahkan dunia pendidikan kepada membangun sistem pendidikan yang berkesinambungan dengan dunia industri.

"Presiden selalu bilang link and match antara industri dan institusi pendidikan. Relevansi dari skill-skill tersebut yang kita pelajari harus relevan," kata Nadiem.
 
Jadi bisa diasumsikan dan disimpulkan bahwa orientasi pendidikan di Indonesia kedepan adalah industrialisasi. Yakni mengarahkan siswa kepada persaingan pasar kerja baik regional, nasional, ataupun global.

Jika sudah seperti ini nanti, kampus-kampus pun tidak ada bedanya lagi dengan pabrik. Pabrik yang mencetak produk, yakni robot-robot” yang siap diserap pasar.

Robot-robot” inilah yang disiapkan menjadi buruh-buruh. University for industry, itulah visi kampus sekarang. Hal ini menimbulkan suatu kekhawatiran baru, yaitu mengaburkan esensi kekhasan pendidikan di negara kita.

Pewarisan dan pelestarian budaya, nilai, moral yang harus ada di pendidikan kita semakin kabur dengan industrialisasi.

Padahal sejatinya pendidikan adalah untuk menjadikan manusia Indonesia seutuhnya, bukan melulu mementingkan kepentingan industri untuk mendongkrak perusahaan, korporasi, dan lain sebagainya. Pendidikan Moral dan pendidikan kebudayaan harus tetap tertanam dalam kurikulum nasional.
 
Persoalan pendidikan tidak hanya pada kebutuhan industri agar link and match, akan tetapi degradasi moral anak bangsa, kurangnya pengetahuan dan kecintaan terhadap budaya Indonesia itu juga merupakan PR menteri pendidikan dan kita semua.

Dengan mengarahkan dunia pendidikan dengan kiblat teknologi merupakan hal bagus, akan tetapi banyak sekali permasalahan pendidikan yang ada dan harus segera diberikan solusi.

Suatu pendidikan haruslah menghadirkan pendidikan yang berkarakter dan mengabdi untuk kepentingan bangsa sesuai dengan konstitusi. Pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan manusia (humanisasi). Demi masa depan Indonesia yang lebih baik. [***]
 
Amrul Fawwaz
Mahasiswa Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Universitas Negeri Semarang



Komentar Pembaca
Pro kontra Omnibus Law

Pro kontra Omnibus Law

RABU, 11 MARET 2020

Krisis dan Resesi, Hampir Pasti

Krisis dan Resesi, Hampir Pasti

SELASA, 03 MARET 2020

Presidential Treshold: Bentuk Lain Otoritarianisme Elit Politik
Kutukan Tahayul Presiden

Kutukan Tahayul Presiden

MINGGU, 16 FEBRUARI 2020

Perlu Kajian Mendalam Soal Pemulangan Anggota ISIS Ke Indonesia
Selamat Jalan, Pak Nug<i>!</i>

Selamat Jalan, Pak Nug!

RABU, 05 FEBRUARI 2020

Sertijab Pejabat Utama Polrestabes Semarang

Sertijab Pejabat Utama Polrestabes Semarang

SELASA, 10 MARET 2020 , 08:51:00

Demo Guru Swasta di Semarang

Demo Guru Swasta di Semarang

SENIN, 17 FEBRUARI 2020 , 16:10:00

Walikota Semarang Hendrar Prihadi Terima Kunjungan DPRD DKI Jakarta