Arkeolog : Makam Kranggan Komplek Makam Kuno

Nusantara  KAMIS, 05 DESEMBER 2019 , 16:27:00 WIB | LAPORAN: DARYONO

Arkeolog : Makam Kranggan Komplek Makam Kuno
RMOLJateng. Setelah melakukan penelitian dan kajian, tim arkeolog dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang menyimpulkan bahwa makam Kranggan di Desa Waru, Kecamatan Rembang Kota, Jawa Tengah, teridentifikasi sebagai komplek makam kuno.
 
Ketua tim arkeologi yang melakukan penelitian Retna Dyah Radityawati mengutarakan, di komplek makam Islam biasanya dikenal tiga komponen.

Yakni, nisan atau penanda yang biasanya di tempatkan dibagian kepala dan kaki, jirat atau badan makam yang merupakan struktur gundukan memanjang tubuh tokoh yang dimakamkan dan cungkup.
 
"Setelah kami lakukan analisa dan identifikasi sederhana, makam Syeh Mundhir Manan Alfarizi di komplek pemakaman umum Kranggan Desa Waru Rembang, tinggal batu nisan yang masih asli. Sedang jirat dan cungkup sudah dilakukan modifikasi," tutur Nana panggilan akrab Retna Dyah Radityawati,  Kamis (5/12) sore.
 
Dia menambahkan, batu nisan makam Syeh Mundhir Manan terbuat dari batu kapur berbentuk persegi dan pada sisi atasnya melengkung.
 
"Nisan makam-makam kuno biasanya terbuat dari bahan yang dekat dengan daerah asalnya. Seperti Rembang terkenal dengan hasil batu kapurnya, sehingga banyak nisan makam kuno terbuat dari bahan tersebut,” tandas Nana.

Nana menambahkan, nisan makam Syeh Mundhir Manan yang terbuat dari batu kapur dan secara fisik paling besar jika di banding nisan lain. Itu artinya bahwa Syeh Mundhir Manan memang menjadi pemuka atau pemimpin masyarakat pada saat itu.
 
Menurut referensi dan informasi Syeh Mundhir Manan wafat pada 27 Robiulawal 733 H. Dia merupakah salah satu tokoh ulama dari luar Nusantara seperti tokoh lain.  

Tim arkeolog Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rembang melakukan penelitian dan kajian di komplek pemakaman Kranggan Desa Waru atas permintaan tokoh dan pemerintah desa setempat.

Tim arkeologi  itu di minta melakukan penelitian dan kajiam untuk meyakinkan bahwa makam SyehMundhir Manan benar-benar pusara tokoh ulama penyebar agama Islam masa lampau di Desa Waru dan sekitarnya seperti yang di ungkap KH Nur Chamim dari Ponorogo yang menemukan makam Syeh Mundhir Manan sekitar 15 th lalu.

Belakangan makam yang sudah di haouli dan banyak di ziarahi tersebut memunculkan kontroversi di kalangan masyarakat Desa Waru.
 
Ada sebagian warga Desa Waru tidak percaya itu makam waliullaah. Atas kontroversi tersebut Pemdes dan sejumlah tokoh agama di Waru sepakat sowan Habib Lutfi Pekalongan.

Kemudian Habib Lutfi menyarankan dilakukan penelitin di Situs itu oleh lembaga yang kredibel. Yakni oleh arkeolog untuk memastikan bahwa Itu makam Syeh Mundhir Manan.

KH Abdul Jalil, salah seorang tokoh agama di Waru ketika di konfirmasi menyatakan, sebenarnya kontroversi  tersebut sudah muncul beberapa saat setelah makam itu di temukan KH Nur Chamim Adlandari Ponorogo.
 
"Setelah muncul pro kontra, sebenarnya saat itu para tokoh masyarakat sowan Habib Lutfi di Pekalongan dan saat itu Habib menegaskan bahwa makam itu boleh di bangun, di ziarahi dan boleh di haul,"  pungkas Abdul Jalil. [jie]

Komentar Pembaca
Melihat Aktivitas Bongkar Muat Kapal Laut

Melihat Aktivitas Bongkar Muat Kapal Laut

SABTU, 23 NOVEMBER 2019 , 09:51:00

Festival Kampung Gunung Telomoyo Magelang

Festival Kampung Gunung Telomoyo Magelang

JUM'AT, 29 NOVEMBER 2019 , 10:02:00

Lukisan Mural Rumah Peribadatan

Lukisan Mural Rumah Peribadatan

RABU, 27 NOVEMBER 2019 , 17:15:00