Radikalisme Menyusup Dalam Dunia Pendidikan, Kampus Favorit Jadi Sasaran Utama

Opini  SENIN, 02 DESEMBER 2019 , 16:18:00 WIB

Radikalisme Menyusup Dalam Dunia Pendidikan, Kampus Favorit Jadi Sasaran Utama

Ilustrasi/net

MENGUAK setiap aksi radikalisme yang terjadi di Indonesia, praktis pendidikan digugat sebab dianggap sebagai salah satu penyebab utama.

Isu radikalisme yang mengintai kampus favorit di Indonesia ditengarai tidak hanya menyusup pada fakultas agama atau kegiatan rohani saja.

Tetapi juga masuk ke fakultas eksakta misalnya kedokteran dan kimia. Model pembelajaran yang terlalu membebankan siswa dengan penguasaan materi, kompetensi guru yang tidak memadai antara lain dianggap menjadi penyebabnya.

Selain itu ketidakpuasan mahasiswa terhadap kinerja pemerintah menjadi salah satu manifestasi mudahnya disusupi paham radikalisme ditambah lagi mahasiswa cenderung labil dan memiliki sifat ingin tahu yang tinggi.
 
Perguruan tinggi sebagai induk lahirnya pendidik dan aneka profesi lainnya sangat rawan terhadap penyebaran aliran radikal. Hadirnya aliran radikal dalam institusi pendidikan tentu tidak sekadar faktor eksternal.

Sangat sulit menghadirkan pendidikan berkualitas ketika guru sendiri memiliki pemahaman rumpang dan menjebak sebab menurut Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta 2018, ada 53,6% guru memiliki pandangan yang intoleran dan radikal.

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Hamli mengatakan hampir semua perguruan tinggi negeri (PTN) di Jawa dan di luar Jawa ternyata tidak steril dari paparan paham radikalisme.

BNPT membeberkan di Indonesia sejumlah PTN terkenal, seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (UA), dan Universitas Brawijaya (UB) sudah disusupi paham radikal.
 
Kondisi itu membuat Presiden Jokowi mewacanakan agar pemilihan rektor langsung berada di bawah kontrolnya. Adalah tugas rektor, dosen, dan guru untuk lebih mampu menawarkan alternatif kegiatan dan sosialisasi nilai-norma sosial yang selalu konformitas pada tatanan sosial yang penuh toleransi dan menghargai perbedaan.

Tentu saja percepatan pengikisan habis aksi radikalisme menjadi salah satu targetnya. Mengapa aliran radikal begitu mudah menyelinap masuk bidang pendidikan?
 
Paham radikal masuk melalui berbagai cara, yang paling sering terjadi melalui pengajian di masjid kampus. Masjid kampus yang disasar untuk melakukan penetrasi dan ajaran keagamaan melawan negara yang dilakukan kepada mahasiswa baru.

Hal tersebut terjadi pada mahasiswa baru yang tengah aktif-aktifnya dilingkungan kampus. Radikalisme juga tersebar melalui media kampus berbasis pamflet yang dibagikan secara cuma-cuma.

Mahasiswa-mahasiwa baru apalagi yang masuk ke universitas favorit akan sangat mudah disusupi pemahaman radikal dimana mereka masih asyik dengan dunia kampus dan ingin terlibat lebih intens terhadap segala urusan yang berorientasi kemahasiswaan.  

Kilas balik beberapa tahun lalu bukti bahwa mahasiswa cukup dalam terlibat radikalisme. Pada 2010, dua mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, dijatuhi vonis 4,5 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan karena terbukti menyembunyikan teroris pelaku bom JW Mariot dan Ritz Carlton.

Setahun berikutnya seorang alumni UIN Syarif Hidayatullah juga ditangkap terkait upaya pengeboman jalur pipa gas di Serpong. Sementara puluhan mahasiswa lainnya dalam sejumlah laporan di media nasional disebutkan menghilang setelah direkrut dan dibaiat masuk ke dalam jaringan Negara Islam Indonesia atau NII.
 
Lembaga pendidikan yang notabene merupakan habitat bagi perkembangan pemikiran ilmu pengetahuan modern dan literasi kritis peserta didik perlu disterilkan dari berbagai pengaruh buruk yang memungkinkan pelajar mengembangkan sikap yang salah.

Kaum yang pandai tidak akan mudah terpengaruh, kecuali kalau hal itu sudah diakui, diyakini, dan diterima sebagai sebuah kebenaran. Mereka akui, ajaran yang mereka terima telah mencapai tingkatan kesempurnaan yang nyaris digugat, apalagi ditolak.

Revitalisasi Nilai-nilai Pancasila

Pada sisi lain, kaum 'radikal' akan selalu mengukur kualitas kebenaran ide dari transformasi kehidupan yang disajikan yang sudah dilakukan.
 
Merevitalisasi proses pembelajaran nilai-nilai Pancasila yang lebih sesuai dengan karakteristik generasi digital ialah tantangan yang menjadi PR bagi lembaga pendidikan saat ini.

Revolusi mental pun diperlukan untuk menangkis masuk dan berkembangnya radikalisme di Indonesia. Melawan paham radikal tidaklah mungkin dilakukan hanya dengan mengandalkan pada pendekatan yang sifatnya kuratif dan punitif.

Di luar peran aparat, yang tidak kalah penting ialah bagaimana lembaga pendidikan mampu menawarkan counter culture yang efektif untuk melawan penyusupan paham radikal.

Bila muara akhir ialah kebaikan, jumpa antara pendidikan dan aksi radikalisme akan menjadi positif. Di satu pihak, pendidikan menjadi kian humanistis karena dilandasi kesadaran manusiawi bahwa selagi berada di bawah kaki langit, manusia masih akan terus mencari. Karena itu, dialog dan kebersamaan mencari merupakan media yang perlu dilewati. [***]
 
Nanda Rizka Billah
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang





Komentar Pembaca
Pameran Dirgantara Penerbad Semarang

Pameran Dirgantara Penerbad Semarang

JUM'AT, 08 NOVEMBER 2019 , 10:58:00

Kirab Budaya Lereng Gunung Prau Temanggung

Kirab Budaya Lereng Gunung Prau Temanggung

MINGGU, 10 NOVEMBER 2019 , 13:30:00

Aktifitas Petani Tembakau

Aktifitas Petani Tembakau

SABTU, 19 OKTOBER 2019 , 07:44:00