Peran BK Dalam Menghadapi Body Shaming Pada Anak Di Sekolah

Opini  JUM'AT, 29 NOVEMBER 2019 , 10:46:00 WIB

Peran BK Dalam Menghadapi <i>Body Shaming</i> Pada Anak Di Sekolah

ilustrasi/net

Body Shaming kerap kali terdengar pada pergaulan masyarakat. Body Shaming merupakan kegiatan untuk mengomentari penampilan, fisik maupun perawakan seseorang. 

Body shaming bukan lagi hal tabu namun telah menjadi kebiasaan seseorang kepada individu lain untuk mengomentari fisiknya bagaimanapun keadaan yang dimilikinya.

Berdasarkan kamus psikologi (Chaplin, 2005) citra tubuh atau biasa disebut body image  adalah ide seseorang mengenai penampilannya di hadapan orang lain. Hal ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa namun kerap kali terjadi pada anak-anak.

Kasus bunuh diri pernah terjadi di Thailand pada 10 Agustus 2018. Karena kerap di panggil gendut dan merasa depresi remaja ini mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai 5 gedung sekolahnya. Hal tersebut sangat miris karena anak masih sangat labil ketika memasuki masa remaja. Di umur yang masih sangat belia ia sudah terluka secara emosional.

Basa-basi yang basi terkadang merujuk pada body shaming yang dilakukan kepada seseorang. Ucapan-ucapan seperti kamu kok iteman”, kamu gendut sekali” atau perkataan mengomentari fisik dalam hal ini bentuk badan, warna kulit, ukuran badan, dan sebagainya dengan tujuan untuk mempermalukan individu lain.

Penyebab adanya body shaming adalah persepsi tertentu seseorang tentang bentuk fisik atau penampilan orang lain. Adanya stigma tentang kriteria ideal yang beredar di masyarakat misalnya cantik itu harus putih, bertubuh langsing atau rambut lurus. Lalu, jika ada individu yang berbeda dari kriteria ideal  tersebut maka hal tersebut akan menjadi bahan olok-olokan. 

Namun pelaku tindak body shaming  dapat dijerat hukum atau dipidana dengan pasal 27 ayat 3, Pasal 45 ayat 3, UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), yang kini menjadi UU No 19 Tahun 2016.

Body Shaming kerap terjadi pada orang dewasa, tetapi sebagian individu dewasa menganggap hal tersebut merupakan suatu bentuk evaluasi diri. Namun, bagaimana jika hal tersebut terjadi pada anak-anak ? Perlakuan body shaming pada anak dapat mengakibatkan self blaming.

Self blaming merupakan kegiatan menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi pada diri individu tersebut. Self blaming juga mampu mengarah pada perkembangan anak tersebut yang dapat dikatakan bahwa anak akan menarik dirinya dari pergaulan sosialnya karena malu, membenci dirinya, depresi bahkan berujung pada suicide. Body shaming pada anak kerap kali terjadi pada lingkungan sekolah, dimana anak banyak menghabiskan waktu berada di sekolah.

Dilingkungan sekolah Bimbingan dan Konseling memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan anak. BK haruslah menjadi rumah” bagi anak-anak ketika di sekolah.

Konselor dalam hal ini juga mesti memiliki sifat peka terhadap lingkungan dan perkembangan anak. Melansir dari news.detik.com ada 966 kasus penghinaan fisik atau body shaming yang ditangani polisi dari seluruh Indonesia sepanjang 2018. Sebanyak 347 kasus di antaranya selesai, baik melalui penegakan hukum maupun pendekatan mediasi antara korban dan pelaku.

Bimbingan dan Konseling dapat berperan diantaranya dengan : Pemahaman terhadap individu, Bimbingan dan Koseling di sekolah harusnya mampu untuk membantu konsli dalam memahami dirinya dalam hal ini adalah apa potensi yang dimiliki dan bagaimana seorang konseli menghadapi lingkungannya.
Masing-masing pribadi anak memiliki karakter yang berbeda, tidak semua anak mampu untuk mengekspresikan apa yang ia rasakan.

Peran Bimbingan dan Konselinglah yang harusnya mampu untuk peka terhadap hal ini. Sebagian anak banyak memendam apa yang ia rasa hingga berarah pada depresi. BK dapat membuat pemetaan terhadap tumbuhkembang anak dan bagaimana anak bersosialisasi pada lingkungannya.

Kegiatan Preventif, dimana konselor mengantisipasi berbagai masalah yang akan datang. Dalam kasus body shaming pada anak di sekolah, maka peran BK adalah dengan memberikan pemahaman terhadap anak terkait body shaming, apa yang akan terjadi jika melakukan hal ini, dsb.

Dengan adanya komunikasi antara BK dan anak-anak di sekolah maka korban body shaming tidak akan merasa sendiri dan memendam gangguan tersebut dalam dirinya. Sehingga kemungkinan terburuk pada depresi yang anak hadapi dapat di tanggulangi. [***]

Afidatun Nisa
Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan 
Universitas Negeri Semarang



Komentar Pembaca
Pameran Dirgantara Penerbad Semarang

Pameran Dirgantara Penerbad Semarang

JUM'AT, 08 NOVEMBER 2019 , 10:58:00

Kirab Budaya Lereng Gunung Prau Temanggung

Kirab Budaya Lereng Gunung Prau Temanggung

MINGGU, 10 NOVEMBER 2019 , 13:30:00

Aktifitas Petani Tembakau

Aktifitas Petani Tembakau

SABTU, 19 OKTOBER 2019 , 07:44:00