Drama Pemilihan Ketua Umum PSSI 2019

Opini  JUM'AT, 22 NOVEMBER 2019 , 09:37:00 WIB

Drama Pemilihan Ketua Umum PSSI 2019
Pemilihan Ketua Umum PSSI tahun 2019 yang baru saja dilaksanakan pada 2 November lalu mempunyai banyak sekali kontroversi.

Mulai dari tidak diadakannya debat antara calon ketua dan calon wakil ketua, kemudian ada juga masalah tanggal ditetapkannya kongres yang sebenarnya tidak sesuai agenda yang ada dalam FIFA, kemudian mundurnya ketujuh calon ketua umum saat kongres sedang berlangsung.
 
Menurut Vijaya Fitrayasa, mundurnya bersama calon ketua PSSI yang lain disebabkan karena dirinya dan rekan-rekan calon ketua PSSI yang lain ingin menyampaikan interupsi dan menyampaikan langsung kepada FIFA perihal keadaan PSSI saat ini, tetapi saat akan menyampaikan interupsi dirinya mendapat pengusiran yang membuat ketujuh calon PSSI ini mundur saat kongres sedang berlangsung. (Bola Stylo, 02/11/2019).
 
Menurut penuturan salah satu calon ketua umum yang mundur pada saat kongres yaitu Fary Francis, kongres PSSI tahun ini tidak transparan dan tidak adil, PSSI menjanjikan ada sosialisasi tata cara pemilihan, tetapi nyatanya tidak ada.

Kedua, masalah voters. Para calon yang mengundurkan diri pada saat kongres ingin menyampaikan masalah ini ke FIFA, AFC, dan komite eksekutif, tapi mereka tidak bisa. (Viva News, 02/11/2019).

Hasil Kongres PSSI sendiri membuat Iwan Bule resmi menjadi ketua PSSI untuk periode 2019-2023.

Iwan Bule meraih 82 suara dari total 85 suara voters, sementara 3 suara lainnya abstain saat berlangsungnya pemungutan suara.

Sementara untuk lawan Iwan Bule saat pemilihan yaitu Rahim dan Arif, tidak mendapat suara satupun dari voters. (CNN Indonesia, 02/11/2019).
 
Untuk hasil vote calon wakil ketua umum PSSI juga tidak berbeda jauh dengan hasil vote calon ketua PSSI, dimana Cucu Soemantri dan Iwan Budianto yang terpilih menjadi wakil ketua umum PSSI untuk periode 2019-2023 mendapat jumlah vote yang mempunyai rentang sangat jauh dari para pesaingnya.
 
Cucu Soemantri mendapatkan 81 suara sedangkan Iwan Budianto mendapatkan 74 suara. Keduanya unggul sangat jauh dari para pesaingnya, dimana para pesaingnya yaitu Esti, Hasnur, dan Yesayas hanya mendapatkan 2 suara sedangkan Djamal serta Hinca hanya mendapatkan satu suara dari total 163 suara sah dan ada 11 suara yang dinyatakan tidak sah. (CNN Indonesia, 02/11/2019).
Masuknya kembali Iwan Budianto kedalam tubuh PSSI, membuat para pecinta sepakbola di Indonesia kurang senang, karena pasalnya Iwan Budianto pernah terlibat kasus pengaturan skor, tetapi sekarang akhirnya dirinya terpilih menjadi wakil ketua umum PSSI untuk periode 2019-2023.
 
Untuk posisi Exco PSSI, wajah-wajah lama juga masih menghiasi anggota Exco PSSI periode 2019-2023.

Dari 12 anggota Exco yang terpilih, masih ada 5 nama yang merupakan wajah-wajah lama di Exco PSSI, mereka adalah Yoyok Sukawi, Dirk Soplanit, Juni Rahman, Pieter Tanuri, dan Yunus Nusi. Sedangkan sisanya merupakan orang-orang baru. (CNN Indonesia, 02/11/2019).
 
Para pecinta sepakbola di tanah air sebenarnya ingin kepengerusan PSSI yang sekarang sudah tidak ada lagi orang-orang lama ataupun orang yang pernah menjabat di PSSI pada periode sebelumnya, karena sudah terbukti pada periode sebelumnya kepengerusan PSSI bisa dibilang sangat kacau dan berdampak pada prestasi Timnas.
 
Hasil vote yang sangat jauh diantara para calon tentu membuat orang-orang berasumsi negatif terhadap kongres kali ini, karena sebelum kongres dilaksanakan berhembus kabar, bahwasannya suara voters bisa dibeli seharga 300 Juta untuk satu suara voters, ditambah lagi dengan hasil vote saat kongres yang terpaut sangat jauh dari masing-masing calon. Bisa dikatakan kongres kali ini adalah kongres yang penuh dengan drama.
 
Drama tersebut sebenarnya sudah dimulai dari awal saat masa-masa kampanye, dimana para calon ketua PSSI tidak diberikan kesempatan untuk melakukan debat tentang visi misi mereka, padahal sebelumnya PSSI menjanjikan akan mengadakan debat untuk para calon ketua dan wakil ketua PSSI di hadapan para voters.
 
Debat calon ketua dan wakil ketua PSSI sebenarnya akan sangat bermanfaat jika pada saat itu benar-benar diadakan, karena dari debat itulah para voters bisa menilai dan nantinya bisa menentukan pilihan, kepada siapa suara mereka akan diberikan.

Ini adalah salah satu kejanggalan dalam kengres PSSI tahun ini.
PSSI seharusnya juga harus bisa lebih transparan lagi jika mengadakan sebuah kongres, karena pada kongres kali ini, PSSI mengadakan secara tertutup, berbeda dengan kongres pemilihan ketua umum sebelumnya, dimana pada saat itu, kongres dilaksanakan secara terbuka dan media bisa meliputnya secara langsung.
 
Transparansi dari PSSI sekarang ini memang bisa dibilang sangat buruk, karena PSSI seperti menutup diri untuk diketahui oleh orang-orang luar. Jadi tidak heran jika para pecinta bola di Indonesia akhir-akhir ini selalu berpikiran negatif terhadap PSSI, bukan hanya karena kurang terbukanya PSSI, tetapi juga karena prestasi Timnas yang menurun. [***]

Haris Pribadi
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Semarang





Komentar Pembaca
Pameran Dirgantara Penerbad Semarang

Pameran Dirgantara Penerbad Semarang

JUM'AT, 08 NOVEMBER 2019 , 10:58:00

Kirab Budaya Lereng Gunung Prau Temanggung

Kirab Budaya Lereng Gunung Prau Temanggung

MINGGU, 10 NOVEMBER 2019 , 13:30:00

Aktifitas Petani Tembakau

Aktifitas Petani Tembakau

SABTU, 19 OKTOBER 2019 , 07:44:00