Masjid Bersejarah At-Taqwa Gogodalem, Kayu Bedugnya Sama Dengan Masjid Agung Demak

Budaya  SENIN, 16 SEPTEMBER 2019 , 17:23:00 WIB | LAPORAN: PRAMUDO WICAKSONO

Masjid Bersejarah At-Taqwa Gogodalem, Kayu Bedugnya Sama Dengan Masjid Agung Demak
RMOLJateng. Jejak penyebaran agama Islam di Kabupaten Semarang mempunyai akar sejarah yang kuat.

Hal ini terlihat dengan banyaknya masjid-masjid bersejarah yang ada di wilayah Kabupaten Semarang.

Salah satunya di Desa Gogodalem, Kecamatan Bringin, Kabupaten semarang. Masjid di desa yang berbatasan dengan wilayah Grobogan ini, sebagian masih mempertahankan konstruksi aslinya yakni kayu jati.


Masjid At-Taqwa, merupakan masjid tertua di Kabupaten Semarang.

Dilihat dari luar, bangunan masjid sudah mendapatkan sentuhan moderen berupa struktur dinding tembok. Namun bangunan inti masjid masih asli, termasuk bentuk limasan masjid juga masih asli hanya dilakukan pergantian genting saja.


"Kalau ditanya tahunnya, kami tak bisa menjawab. Tapi bangunan masjid ini masih asli dan sudah lama sekali berdirinya," kata Imam Masjid At-Taqwa, M.Ahsin, Senin (16/9).


Dengan bentuk bangunan Jawa kuno, Masjid At-Taqwa ini berupa joglo dengan empat soko guru. Menariknya umpak atau alas dari soko guru tersebut adalah balok kayu utuh.

Di salah satu sisinya, terdapat sebuah tangga kayu menuju puncak Mustaka.

Pada puncak mustaka inilah terdapat jendela pada keempat sisinya yang dulu berfungsi sebagai tempat mengumandangkan adzan.

Dia mengungkapkan, awalnya dinding masjid seluruhnya terbuat dari papan kayu jati. Namun sekarang sudah berganti menjadi tembok.

Sedangkan papan-papan kayu jati digunakan untuk plafon atau penutup genting ruangan mustaka masjid.

Wilayah Desa Gogodalem sejak dulu memang dikelilingi hutan jati, sehingga kayu menjadi unsur utama sebuah bangunan.

Seperti halnya Masjid Attaqwa, banyak kayu utuh atau lonjoran yang digunakan.

"Untuk blandar masjid ini lonjoran sebatang kayu tanpa sambungan dan uniknya tidak dipaku. Ini masih asli, termasuk mimbar juga masih asli," katanya.


Peninggalan lain yang ada di masjid ini adalah sebuah bedug berukuran besar. Bedug ini dibuat dari satu batang kayu jati yang dipotong menjadi tiga bagian.


Bagian pangkal menjadi bedug di sebuah masjid di Pringapus, Kabupaten Semarang dan bagian paling ujung menjadi bedug di Masjid Agung Demak.

"Bagian yang tengah, itu yang jadi bedug di Masjid Gogodalem ini," imbuhnya.

Lebih lanjut M. Ahsin menambahkan, keberadaan Masjid Attaqwa ini tidak lepas dari Simbah Wali Nitinegoro, seorang aulia yang menyebarkan agama Islam di Desa Gogodalem dan desa-desa sekitarnya.

Konon, Nitinegoro adalah putera dari Bupati Karewelangâ€"Kaliwungu Kendal yang silsilah keturunannya sampai kepada Sunan Kalijaga.

Dalam menyebarkan agama Islam, Simbah Wali Nitinegoro dibantu beberapa sahabatnya antara lain Simbah Jamaludin dan Simbah Marto Ngasono.

"Simbah Marto Ngasono merupakan ulama yang mewariskan Masjid Gogodalem, yang pada awalnya masjid inididirikan di pondok pesantrennya di daerah Kedung Larang, Kelurahan Wiru, Kecamatan Bringin, lalu di pindahkan Selo Miring, yang saat ini di sebut Gogodalem," jelasnya.

Simbah Jamaludin menulis Al Quran dengan tulisan tangan yang disebut sebagai Kitab Blawong.

Kitab suci Al Quran tulisan tangan ini diberi sampul kulit dan hanya dibuka serta dibaca setahun sekali, setiap 20 Sya'ban bersamaan dengan Haul Wali Nitinegoro.  

"Al Quran Blawong ini lebih tebal, sampulnya dari kulit. Dibacanya setiap tanggal 20 Sya'ban," katanya.


Selain ketiga nama ini, sosok lainnya yang berkitan dengan keberadaan Masjid Attaqwa adalah Raden Ayu Dewi Suni, dan kakaknya Raden Bagus Mertowongo, keduanya merupakan anak dari Simbah Marto Ngasono.


Konon ia adalah salah satu tokoh yang pernah bersingguhan dengan Sunan Kalijaga.

"Makamnya para aulia ini ada di bukit Sentono," ujarnya.

Masyarakat sekitar sangat menghormati tradisi dan peninggalan para wali ini. Salah satunya dengan mempertahankan struktur masjid lama, Kitab Al Quran Blawong, dan kompleks makam kuno di Bukit Sentono.

Kini, baik masjid maupun kompleks makam kuno Bukit Sentono menjadi salah satu bagian dari wisata religi Kabupaten Semarang.

Banyak peziarah, baik dari dalam maupun luar kota yang datang ke Desa Gogodalem untuk napak tilas dan mendapatkan berkah keramat dari para wali dan peninggalannya ini. [hen]

Komentar Pembaca
Prabowo Cocok Jadi Wantimpres

Prabowo Cocok Jadi Wantimpres

KAMIS, 17 OKTOBER 2019 , 14:25:41

Densus 88 Amankan Terduga Teroris di Gunungpati Semarang
Walikota Medan Terjaring OTT KPK

Walikota Medan Terjaring OTT KPK

RABU, 16 OKTOBER 2019 , 11:36:34

Ngopi Bareng bersama Kapolda Jateng Dan Pangdam IV/ Diponegoro
Pasar Tunjang Karang Moncol Terbakar

Pasar Tunjang Karang Moncol Terbakar

SABTU, 24 AGUSTUS 2019 , 23:04:00

Menolak RUUPKS Di Semarang

Menolak RUUPKS Di Semarang

SENIN, 23 SEPTEMBER 2019 , 11:52:00