Pentingnya Penguatan Pendidikan Karakter Di Sekolah Untuk Keberhasilan Pendidikan

Opini  KAMIS, 04 JULI 2019 , 18:14:00 WIB

Pentingnya Penguatan Pendidikan Karakter Di Sekolah Untuk Keberhasilan Pendidikan
MENURUT UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan susasana belajar dan proses pembelajaran  agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Di era ini nampaknya kebanyankan orang tua masih selalu berpikiran bahwa anak-anaknya sukses dalam  bidang pendidikan berdasarkan nilai-nilai angka yang dicapai, contohnya berpacu pada rangking dan nilai pada mata pelajaran yang di UN kan.

Dari situ kebanyakan orang tua juga sibuk mencarikan tempat les tambahan di tempat ternama supaya bisa meraih nilai yang bagus tersebut, akan tetapi hal yang tak kalah penting disini  yang masih sering terlupakan yaitu tentang pendidikan karakter serta perilakunya terhadap lingkungan sekitar.

Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini nampaknya pembelajaran mengenai moral atau akhlak kini mulai pudar dalam dunia pendidikan dan lingkungan keluarga.

Jika melihat kondisi yang terjadi saat ini nampaknya bangsa kita sedang dilanda krisis moral. Fenomena penyimpangan akhlak siswa terhadap teman, keluarga, dan guru di sekolah masih sering terjadi di dunia pendidikan akhir-akhir ini.

Contoh kasus yang belum lama terjadi yaitu kasus seorang murid aniaya guru di Gresik, dikutip dari TribunJatim.com (2019/02/11) viralnya tindakan siswa SMP di Wringinanom Gresik yang merokok di kelas hingga melakukan tindakan kekerasan dan tidak sopan pada gurunya merupakan salah satu wujud adanya krisis moral di sejumlah anak sekolah dikutip dari TribunJatim.com.  

Kasus tersebut merupakan satu dari banyak kasus yang masih sering terjadi dalam dunia pendidikan kita saat ini.
Sebuah sekolah pada dasarnya menjadi tempat atau wadah para siswa untuk mencari ilmu, megasah atau membentuk sebuah karakter yang baik dan bertabat.

Tetapi jika tidak didukung dan peran aktif dari orang tua maka cita-cita untuk membentuk generasi yang baik nampaknya hanya angan-angan semata.

Pentingnya pendidikan karakter memang perlu digalakkan di setiap sekolah, bukan hanya sebagai suatu formalitas saja tetapi memang harus direalisaikan untuk nilai-nilai karakater yang perlu ditanamkan pada diri siswa sejak dini.

Di Indonesia pun pendidikan karakter sebenarnya bukan hal yang baru lagi. Saat ini program penguatan pendidikan karakter di Indonesia sedang digalakkan. Penguatan karakter menjadi salah satu program prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Dalam nawa cita disebutkan bahwa pemerintah akan melakukan revolusi karakter bangsa. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengimplementasikan penguatan karakter penerus bangsa melalui gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang digulirkan sejak tahun 2016, dikutip dari kemdikbud.go.id (2017/07/17).

Bila melihat pada Perpres No 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter  bertujuan sebagai berikut: a) membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia tahun 2045 dengan jiwa Pancasila dan pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan, b) mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan pendidikan sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik dengan dukungan pelibatan publik yang dilakukan melalui jalur formal, non formal, dan informal dengan memperhatikan keberagaman budaya Indonesia, dan c) merevitalisasi dan memperkuat potensi dan kompetensi pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik, masyarakat, dan lingkungan keluarga dalam mengimplementasikan PPK.

Saat ini kurikulum yang diterapkan di Indonesia yaitu kurikulum 2013, kurikulum 2013 yang dijadikan sebagai rujukan proses pembelajaran pada satuan pendidikan perlu mengintegrasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Yang dimaksud dalam integrasi tersebut bukan sebagai program tambahan atau sisipan, melainkan sebagai cara mendidik dan belajar bagi seluruh pelaku pendidikan di satuan pendidikan.
Dalam Perpres No 87 Tahun 2017 yang terdapat pada Pasal 1 Ayat 1 tentang PPK mendefinisikan PPK sebagai Gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi oleh hati, olah rasa, dan olah raga dengan pelibatan dan kerjasama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental".

Walaupun sebuah program sudah dirancang dengan baik, namun apabila di dalam implementasinya masih terdapat banyak kendala ataupun hambatan serta masih kurangnya kerjasama dengan berbagai pihak maka program tersebut tidak akan berjalan secara maksimal sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Jika berkaca pada sistem pendidikan di Jepang, pendidikan karakter di Jepang diajarkan melalui pendidikan moral atau dalam bahasa Jepangnya disebut dengan doutoku yang diberikan pada setiap jenjang sekolah mulai dari SD sampai SMA.

Melalui pendidikan moral atau pendidikan moral ini tercipta karakter bangsa Jepang yang terkenal sebagai bangsa yang ulet, pekerja keras, gigih, jujur, memiliki rasa toleransi, dan rasa kesetiakawanan yang tinggi.

Pendidikan moral ini diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam mata pelajaran lainnya (Mulyadi, 2014).
Kurikulum pendidikan di Jepang terdiri atas tiga kategori: (1) mata pelajaran akademik (Wajib dan pilihan), (2) pendidikan moral, dan (3) kegiatan khusus.

Pada dasarnya yang paling menentukan keberhasilan pembentukan karakter masyarakat Jepang dalam lembaga pendidikan formal adalah ada pada implementasinya dalam kehidupan nyata para siswa.

Penddiikan moral di Jepang tidak hanya diajarkan teorinya saja seperti pendidikan moral yang diajarkan di Indonesia, tetapi Jepang lebih mengutamakan realisasi dari pengajaran moral dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan karakter di sekolah-sekolah Jepang banyak diajarkan dalam bentuk praktek langsung. Pendidikan moral di sekolah-sekolah SD dan SMP di Jepang tidak diajarkan sebagai sebuah mata pelajaran khusus seperti di Indonesia, tetapi diintegasikan dalam semua mata pelajaran.

Yang bertanggung jawab secara langsung adalah wali kelas. Pendidikan moral di Jepang diantaranya diajarkan dalam pelajaran seikatsu atau life skill atau pendidikan kehidupan sehari-hari.

Dalam pelajaran itu siswa SD diajari tatacara menyebrang di jalan, adab di dalam kereta, yang tidak saja berupa teori, tetapi guru juga mengajak mereka untuk bersama naik kereta dan mempraktekkannya langsung (Murni, 2008).

Pendidikan karakter di suatu lembaga formal di Jepang lebih diutamakan di tingkat SD dan SMP dengan menitik beratkan pada pendidikan moral yang diintegrasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari siswa.

Sedangka di tingkat SMA pendidikan moral dirubah menjadi pendidikan kewarganegaraan. Pendidikan prinsip dasar hidup yang kuat inilah yang membuat kedisiplinan dan keteraturan dalam masyarakat Jepang.

Jika menengok dari pengalaman negara Jepang, bahwa sebenarnya di Indonesia sudah menerapkan penguatan pendidikan karakter, akan tetapi dalam pengimplementasiannya masih terdapat banyak kendala, salah satunya masih terdapat guru yang berperan dalam memberikan pemahaman tentang karakter itu masih kurang.

Jika pembelajaran di kelas pun seorang guru sebaiknya tidak hanya fokus terhadap materi yang diajarkan saja akan tetapi juga memberikan suatu pemahaman tentang pendidikan moral dan memberikan contoh yang secara langsung.

Serta dengan peran serta  orangtua di rumah untuk bekerja sama dalam memberikan pemahaman serta contoh secara konkret dalam bersikap dengan baik sehingga tidak merugikan orang lain dan mampu mensukseskan pendidikan yang berkarakter dan bermoral karena keberhasilan suatu pendidikan yakni mampu melahirkan siswa yang bermoral, berkarakter mulia serta bermanfaat untuk lingkungan sekitarnya.

Dan tidak lupa juga peran penting dari pemerintah dalam meningkatkan program penguatan pendidikan karakter tersebut harus memberikan sosialisasi secara jelas kepada semua pihak agar tujuan yang ingin dicapai dapat berhasil sesuai dengan yang diharapkan. [***]



Linda Putri Palupi
Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Semarang



Komentar Pembaca
Pameran Dirgantara Penerbad Semarang

Pameran Dirgantara Penerbad Semarang

JUM'AT, 08 NOVEMBER 2019 , 10:58:00

Kirab Budaya Lereng Gunung Prau Temanggung

Kirab Budaya Lereng Gunung Prau Temanggung

MINGGU, 10 NOVEMBER 2019 , 13:30:00

Aktifitas Petani Tembakau

Aktifitas Petani Tembakau

SABTU, 19 OKTOBER 2019 , 07:44:00