Peran Pendidikan Di Finlandia Dalam Mencegah Hoax

Opini  SELASA, 02 JULI 2019 , 11:14:00 WIB

Peran Pendidikan Di Finlandia Dalam Mencegah Hoax
LITERASI, makin hari kata ini makin sering digaungkan dimana-mana terutama dimedia sosial. Salah satu alasannya makin banyaknya berita bohong/hoax yang bertebaran.

Masyarakat kita masih mudah percayanya dengan konten-konten settingan yang sudah direncanakan pihak-pihak yang akan mengambil keuntungan dari konten itu. Menyebalkannya beberapa orang pecaya dan meyakini hal itu dan sering war dikolom komentar.

Makin sering konten itu dibagikan dan dibicarakan maka konten itu semakin viral. Si pembuat konten makin mendapat banyak perhatian dan mungkin saja akan mendapat keuntungan, sedangkan orang-orang yang ribut tadi hanya menghabiskan kuota untuk hal-hal yang kurang berguna.
Hoax yang mampu mengegerkan banyak masyarakat khususnya warganet contohnya hoax remaja yang katanya” dikeroyok, hoax operasi plastik, siapa yang tidak tahu hoax yang sangat drama dan greget ini. Yang tidak kalah lucu, beberapa hari yang lalu sempat menjadi trending topic yang hangat dibicarakan adalah illuminati.

Ternyata warga Indonesia masih banyak yang mengaminkan bersama tentang teori-teori konspirasi yang sudah dipopulerkan sejak jaman kita masih SD, simbol segitiga, mata satu, keberadaan ufo dan kawan-kawannya.
Dari berbagai peristiwa yang terjadi, betapa bahayanya sebuah informasi yang belum pasti kebenarannya bisa membuat kacau dan meresahkan masyarakat. Menurut saya, kita semua tidak bisa menghapus hoax dengan total. Si pembuat konten hoax akan terus ada karena ia memiliki kepentingan dan misi tertentu.

Lalu bagaimana tindakan yang tepat agar kita bisa mengerem penyebaran hoax? Yang paling penting adalah kita harus punya ilmu untuk menangkalnya. Pikiran kita harus dibekali dengan sebuah ilmu. Bagaimana cara memperoleh ilmu? Banyak, paling populer pasti sekolah.

Kalau kata pepatah buku adalah jendela ilmu. Sumber ilmu yang mudah kita temui, buku. Jaman yang sudah canggih ini, buku tidak hanya berbentuk fisik, tapi juga disajikan dalam bentuk digital, bahkan kini didesain sedemikian rupa dengan visualisasi yang menarik.

Berdasarkan peringkat  yang dirilis Studi World Most Literate Nations (WMLN) tahun 2016, negera kita berada diperingkat 60, sedangkan peringkat pertama diduduki Finlandia sebagai negara paling literat.

Dilansir dari Akurat.co, pendidikan di Finlandia membiasakan anak-anaknya untuk berpikir kritis, saking aware pada bahayanya hoax, bahkan kini di Finlandia ada pelajaran penanggulangan berita palsu”. Pada pelajaran tersebut disajikan materi tentang bagaimana mengidentifikasi berita, gambar, atau video palsu yang beredar di media sosial atau website. Mereka harus bisa memilah informasi mana yang merupakan fakta, serta informasi mana yang merupakan hoaks.
Pelajaran tersebut sudah dilaksanakan sejak 2014. Pelajaran 'anti hoaks' ala Finlandia ini saking pentingnya akhirnya bukan hanya ditujukan bagi siswa tapi juga politikus, jurnalis bahkan warga umum. Harapnya bisa membuat warganya mengenali mana berita bohong bahkan hingga padalevel mengapa berita bohong tersebut bisa viral.
Beberapa tahun yang lalu, pemerintah kita telah berupaya dengan  menggulirkan sebuah program dibidang pendidikan yaitu Gerakan Literasi Sekolah. Kebanyakan pelaksanaannya di lapangan masih sebatas dengan membaca buku beberapa menit.

Namun saya rasa, budaya membaca kita mulai ada perubahan ke arah yang lebih baik. Kini banyak anak muda yang mulai tertarik dengan buku. Banyak penulis-penulis muda yang mempublikasikan karyanya melalui sosial media dengan visualisasi yang sedap dipandang membuat ketertarikan tersendiri.
Tak mengapa banyak kawula muda yang sering mengunggah momen senja, kopi dan sajak-sajak puisi dan tak perlu dinyinyiri,  menurut saya ini fenomena yang cukup memberi efek positif, setidaknya menjadi awal gemar membaca.Membaca tidak harus buku-buku ilmu pengetahuan, namun membiasakan membaca novel, buku kumpulan cerpen, maupun buku-buku puisi bisa jadi awal dalam meningkatkan minat baca. Lapak-lapak toko buku online juga mulai ramai pembeli.

Namun, rasa-rasanya kita perlu mengambil sedikit ilmu pada Finlandia, bagaimana mereka membiasakan masyarakatnya selektif menyikapi informasi-informasi yang ada. Literasi bukan sebatas membaca buku, namun juga bagaimana kita mampu mengakses, menganalisis, merefleksi dan menyikapi secara bijak apa yang telah dibaca, didengar dan ditonton dari berbagai media baik cetak maupun digital.
Di era digital, arus informasi yang makin mudah dan cepat, kita harus lebih kritis juga selektif mensikapi berbagai informasi dan jangan dengan mudah membagikan informasi yang belum jelas kebenarannya. Sejak dini budaya literasi mulai dibiasakan.

Pendidikan memang dirasa menjadi sebuah jalan penting yang bisa membuat masyarakat kita agar memiliki kemampuan diatas. Namun, untuk memerangi hoax bukan pekerjaan yang instan dan mudah. Bukan hanya dijalan pendidikan formal namun juga mesti dilakukan oleh berbagai pihak. Mari cerdas berliterasi bersama-sama. [***]


Ratih Kusuma Wardani  Mahasiswa Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Semarang

Komentar Pembaca
Pameran Dirgantara Penerbad Semarang

Pameran Dirgantara Penerbad Semarang

JUM'AT, 08 NOVEMBER 2019 , 10:58:00

Kirab Budaya Lereng Gunung Prau Temanggung

Kirab Budaya Lereng Gunung Prau Temanggung

MINGGU, 10 NOVEMBER 2019 , 13:30:00

Aktifitas Petani Tembakau

Aktifitas Petani Tembakau

SABTU, 19 OKTOBER 2019 , 07:44:00