PPDB Sistem Zonasi Dan Penyerataan Kualitas Pendidikan

Opini  SABTU, 22 JUNI 2019 , 19:05:00 WIB

PPDB Sistem Zonasi Dan Penyerataan Kualitas Pendidikan
SISTEM zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) kini telah diterapkan di sekolah-sekolah sesuai dengan Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018. 

Dalam permendikbud tersebut dijelaskan bahwa, PPDB pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) menggunakan zonasi sebagai kriteria dengan urutan prioritas utama.

Sedangkan PPDB pada jenjang Sekolah Dasar (SD) terlebih dahulu memprioritaskan usia masuk sekolah, kemudian jarak tempat tinggal ke sekolah sesuai ketentuan zonasi.

Ketentuan zonasi yang dimaksud sesuai dengan Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 Pasal 16 yaitu sekolah wajb menerima calon peserta didik yang berdomisisli pada radius zona terdeka dari sekolah paling sedkit 90%, sekolah dapat meenerima calon peserta didik baru paling banyak 5%, dan jalur bagi calon peserta didik yang berdomisil diluar zona terdekat dari sekolah dengan alasan khusus paling banyak 5% dari jumlah keseluruhan yang diterima.

Pelaksanaan zonasi dengan sistem tersebut kini menuai pro dan kontra dari kalangan masyarakat, terutama pada calon siswa dan orang tua siswa.

Bahkan di beberapa daerah terjadi beberapa protes masyarakat yang timbul akibat diterapkannya sisem zonasi ini.

Salah satunya adalah protes dari orang tua siswa, dikutip dari cnnindonesia.com (2018/07/11) di Bandung, Jawa Barat, sekitar 100 orang tua  dan calon siswa menggelar demonstrasi di kantor Gubernur Jabar, Gedung Sate.

Ratusan orang tua dan calon siswa yang kompak mengggunakan pita merah menuntut kejelasan sistem PPDB 2018. 

Beberapa orang tua calon siswa khawatir bila anaknya tidak dapat masuk ke sekolah favorit. Hal ini demikian sebab sekolah favorit atau unggulan telah menjadi tradisi sejak dahulu, sehingga beberapa orang akan sulit menerima adanya sistem zonasi dalam PPDB karena cara pandang dan pola pikir mereka tekait sekolah favorit.

Padahal, jika dilihat dari tujuan diadakannya sistem zonasi adalah untuk memeratakan pendidikan sehingga tidak ada lagi fenomena sekolah favorit yang menerima input siswa-siswa pintar dan guru disekolah favorit akan lebih mudah mengarahkan siswanya).

Tujuan tersebut tentu saja dapat membawa dampak baik, karena dengan begitu, siswa-siswa yang tegolong dalam kategori pintar tidak akan tergabung jadi satu pada sekolah favorit tertentu.

Dikutip dari nusantara.news (2018/07/12) Muhadjir Effendy mengatakan tidak boleh ada favoritism. Pola pikir kastanisasi dan favoritisme  dalam pendidikan semacam itu harus kita ubah.

Seleksi dalam zonasi dibolehkan hanya untuk penempatan (placement). Untuk mencapai tujuan tersebut tentu membutuhkan waktu yang lama.
   
Berkaitan dengan adanya sistem zonasi, saat ini Jepang merupakan Negara maju yang menerapkan zonasi pendidikan terbaik.

Dilansir pada www.clair.jp siswa di Jepang bersekolah sesuai dengan daerahnya, ketika umur anak telah memasuki usia sekolah maka orang tua akan menerima surat pengantar untuk masuk ke sekolah tersebut.

Selanjutnya di dalam web www.nier.jp siswa di Jepang bersama-sama berjalan kaki berangkat ke sekolah.
   
Penerapan sistem zonasi akan menmbuat siswa bersekolah sesuai dengan zona nya. Dengan demikian, kedepannya dimungkinkan akses pada layanan dan kualitas pendidikan akan merata serta tidak ada lagi favoritism di sekolah.

Jarak sekolah yang dekat akan memungkinkan orang tua untuk lebih mudah mengawasi dan mengontrol anak-anak nya disekolah.

Selain memudahkan orang tua, letak sekolah dan rumah yang dekat juga memudahkan guru untuk berkomunikasi dengan orang tua siswa ketika siswa tersebut bermasalah di sekolah.

Jarak yang dekat ini juga memungkinkan kemudahan dalam transportasi juga. Kemudahan dalam transportasi ke sekolah akan nantinya akan meminimalisir jumlah siswa yang terlambat ke sekolah.
   
Saat ini, system zonasi yang bertujuan untuk pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia seharusnya perlu diimbangi dengan kualitas sarana prasarana dan guru yang setara pula antar sekolah.

Sebab apabila siswa telah tersebar sesuai zona namun sekolah-sekolah yang ada memiliki kualitas sarana prasarana dan guru yang tidak sama, misal sekolah A tidak memiliki fasilitas yang memadai atau kualitas guru yang kurang, berbeda dengan sekolah yang lain maka pendidikan akan sulit merata.

Salah satu caranya mungkin bbisa dilakukan rolling guru pada sekolah-sekolah dan penyediaan infrastruktur dan fasilitas yang memadai.

Selain itu juga perlu adanya peningkatan sosialisasi kepada masyarakat agar mengerti mengenai system zonasi ini.

Dengan setaranya sarana dan pembelajaran antar sekolah tersebut, maka akan membuat orang tua tidak khawatir jika siswanya tidak diterima di sekolah unggulan yang sudah menjadi tradisi dari dahulu. 

Hal ini dikarenakan keberhasilan suatu pendidikan tidak hanya dipengaruhi oleh siswa saja. Melainkan juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain didalamnya, seperti sarana prasarana dan guru. [***]


Rizka Ayu Octaviana Safitri
Mahasiswa Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Semarang






Komentar Pembaca
Ingatkan Sukmawati, Sultan Tidore: Kita Semua Anak Pejuang
Rizal Ramli Tidak Setuju Ahok Pimpin BUMN

Rizal Ramli Tidak Setuju Ahok Pimpin BUMN

MINGGU, 17 NOVEMBER 2019 , 03:13:53

Belum Jelas Kemana, Ahok Sudah Bikin Ramai

Belum Jelas Kemana, Ahok Sudah Bikin Ramai

JUM'AT, 15 NOVEMBER 2019 , 21:58:09

Pameran Dirgantara Penerbad Semarang

Pameran Dirgantara Penerbad Semarang

JUM'AT, 08 NOVEMBER 2019 , 10:58:00

Kirab Budaya Lereng Gunung Prau Temanggung

Kirab Budaya Lereng Gunung Prau Temanggung

MINGGU, 10 NOVEMBER 2019 , 13:30:00

Aktifitas Petani Tembakau

Aktifitas Petani Tembakau

SABTU, 19 OKTOBER 2019 , 07:44:00