Layung Sore, Realitas Kehidupan Manusia Dalam Panggung Teater Emka

Budaya  MINGGU, 26 MEI 2019 , 03:52:00 WIB | LAPORAN: PRABOWO

Layung Sore, Realitas Kehidupan Manusia Dalam Panggung Teater Emka
RMOLJateng. Dendam Sulastri, buruh pabrik yang pernah hamil lantaran diperkosa Sugani sepuluh tahun lalu akhirnya bisa dia luapkan.

Sulastri berteriak sejadinya, emosinya meluap melihat sosok Sugani, pria yang dulu berprofesi sebagai tukang ojek kini datang kembali sebagai karyawan PT. Terus Maju untuk menggusur kontrakan milik Ibu Sutras tempat dia tinggal.

Karena tak mampu menahan emosi, Sulastri menangis dan menampar Sugani. Siksaan batin yang menderanya kini dia tumpahkan kepada Sugani.

"Kau datang lagi mau menggusur tempat ini? Setelah sepuluh tahun lalu kau memperkosaku. Kamu tau, aku hamil akibat perbuatanmu. Kini anakku harus kuurus sendiri. Dia tidak perlu tahu siapa bapaknya," geram Sulastri kepada Sugani disaksikan Sutras dan Yati, tetangganya.

Tak lama kemudian, datang tetangga Sulastri, Lek Noto pontang-panting berlari pulang untuk memberitahu jika suami Yati, Darso ditangkap polisi saat merampok toko emas. Yati yang saat itu tengah hamil tua terkejut dan menangis sejadinya.

Penghuni kontrakan Sutras itu langsung sibuk menolong Yati yang sedang shock, dan hendak melahirkan. Mereka meninggalkan Sugani dalam keremangan langit sore berwarna merah muram.

Lamat-lamat, cahaya merah matahari meredup. Saat gelap, puluhan penonton melepaskan tepukan tangan mengakhiri pentas laboratorium bertajuk 'Layung Sore' oleh Teater Emper Kampus (Emka) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Pementasan besutan sutradara, Maya Karta itu mengangkat realita sosial yang terjadi di masyarakat.

Pimpinan Produksi pementasan, Ryan, mengatakan jika pentas tersebut merupakan bagian dari kehidupan rakyat kecil yang penuh dengan liku-liku.

"Mulai dari kesusahan bayar kontrakan, susah mencari uang, hingga rencana penggusuran oleh perusahaan properti besar," kata Ryan kepada RMOLJateng  usai pentas,  di gedung FIB Undip Semarang, Sabtu (25/5) malam.

Ryan menerangkan pentas ini melibatkan anggota Teater Emka angkatan 2018. Kata dia, setiap angkatan memiliki tanggung jawab untuk menggelar pementasan.

"Sebelum pentas, pastinya kami lakukan riset masalah yang ada di masyarakat. Kami juga mencari naskah yang kuat seperti 'Layung Sore' karya Tentrem Lestari ini," imbuhnya.

Sementara itu, pembina Teater Emka, Khothibul Umam, mengatakan pentas ini adalah proses regenerasi teater Emka. Kata dia, proses ini menjadi awal bagi tiap angkatan di dalam Teater Emka untuk saling belajar tentang kesenian teater.

"Inilah proses regenerasi Teater Emka. Dibalut dalam laboraturium naskah," kata dia. [jie]





Komentar Pembaca
Ngopi Bareng bersama Kapolda Jateng Dan Pangdam IV/ Diponegoro
Pasar Tunjang Karang Moncol Terbakar

Pasar Tunjang Karang Moncol Terbakar

SABTU, 24 AGUSTUS 2019 , 23:04:00

Festival Audisi Tari Ratoh Jaroe

Festival Audisi Tari Ratoh Jaroe

MINGGU, 25 AGUSTUS 2019 , 10:37:00