Ratu Kalinyamat Membawa Jepara Dalam Masa Keemasannya

Nusantara  MINGGU, 14 APRIL 2019 , 10:25:00 WIB | LAPORAN: TAKHRODJIE

Ratu Kalinyamat Membawa Jepara Dalam Masa Keemasannya

Lestari Moerdijat

RMOLJateng. Perempuan sebagai pemimpin dan kepala pemerintahan merupakan langkah besar yang dilakukan dalam kehidupan Islam dan Nusantara.

Hal tersebut disampaikan Lestari Moerdijat sebagai apreasiasi dalam proses penobatan Ratu Kalinyamat sebagai Pahlawan Nasional.

Menurut Korwil Nasdem Jateng-DIY ini, dalam beberapa catatan sejarah, Islam mencatat seperti Ratu Syajaratuddur dalam Dinasti Mamalik (Mamluk) yang menjadi pemimpin perempuan di Mesir.

"Bahkan al-Quran melegitimasi keabsahan pemimpin perempuan seperti Ratu Bilqis sebagai pemimpin yang adil, bijaksana, dan bertanggung jawab penuh di negeri Saba yang termasuk wilayah Yaman semasa zaman Nabi Sulaiman AS," ujar Mbak Rerie, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (14/4/2019).

Oleh karena itu lanjut Lestari Moerdijat, tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan dan pemilihan Ratu Kalinyamat sebagai pemimpin perempuan di daerah pesisir pantai Jawa bagian Utara bukan hanya semata-mata karena beliau adalah putri Raja Demak, Sultan Trenggana, dan cucu perempuan dari Pendiri Demak, Raden Patah.

"Penempatan Ratu Kalinyamat sebagai pemimpin Jepara lebih didasarkan karena kemampuan dan keahliannya dalam bidang perdagangan, militer, kelautan dan budaya (ukir). Sehingga Ratu Kalinyamat mampu membawa Jepara ke puncak kejayaan," tambahnya.

Pada masa Ratu Kalinyamat, Jepara menjadi pusat perdagangan ekspor impor. Implikasinya terlihat dari pembangunan pelabuhan utama dan pelabuhan pendukung di sekitar Jepara.

"Armada militer di laut yang kuat masa kepemimpinan Ratu Kalinyamat mampu menjaga jalur-jalur pelayaran utama di Nusantara seperti di Selat Sunda, Selat Malaka, Selat Kalimantan, Selat Makasar dan Selat Maluku," terangnya lagi.

Kekuatan armada lautnya cukup disegani oleh kerajaan-kerajaan sekitarnya yang menjadi sahabat Ratu Kalinyamat. Sehingga pada saat wilayah Malaka diduduki oleh Portugis, Ratu Kalinyamat tidak sungkan-sungkan membantu Sultan Johor dan Sultan Aceh dengan prinsip mempertahankan dan mengamankan jalur pelayaran untuk perdagangan Nusantara.

Menurut Lestari Moerdijat, catatan sejarah yang dipersiapkan Tim Naskah Akademik yang digawangi oleh dirinya  memperlihatkan bahwa bagi Ratu Kalinyamat, laut adalah pemersatu Nusantara dan penghubung antar kerajaan, sehingga perlu dijaga keamanan dan dipertahankan keberlangsungannya.

"Sebagai penerus Pati Unus, Ratu Kalinyamat memperluas kapal Jong yang mampu mengangkut barang dan manusia dalam kapasitas besar," tambahnya.

Atas dasar keyakinan bahwa Nusantara adalah suatu negara maritim, keberadaan jalur-jalur pelayaran utama di Selat Sunda, Selat Malaka, Selat Kalimantan, Selat Makasar dan Selat Maluku yang telah dijaga dan dipertahankan oleh Ratu Kalinyamat, masih bertahan hingga sekarang.

Apalagi lautan sebagai jantung kehidupan bagi seluruh wilayah Nusantara dan memiliki potensi ekonomi yang berkelanjutan yang tidak pernah habis-habisnya.

"Jepara telah populer sebagai pusat budaya ukir Nusantara semasa Ratu Kalinyamat. Catatan sejarah memperlihatkan ukiran Jepara bermula dari Masjid Mantingan yang notabene berdiri di masa Ratu Kalinyamat memimpin Jepara. Sehingga sampai saat ini Masjid Mantingan dan ukiran-ukirannya menjadi rujukan akademis bidang budaya dan seni yang empiris," tandasnya.

Lebih lagi lanjut Lestari, pengembangan ukiran Jepara ternyata menyentuh dalam berbagai cabang seni lainnya seperti seni tari, seni drama, seni lukis, dan seni batik khas Jepara.

"Sampai saat ini ekspor ukiran asal Jepara tetap menjadi primadona bagi penggemar dan pencinta seni," pungkasnya. [jie]





Komentar Pembaca
MIK Semar Gelar Aksi Simpatik

MIK Semar Gelar Aksi Simpatik

KAMIS, 16 MEI 2019 , 18:03:00

Salat Jenazah Ustad Arifin Ilham

Salat Jenazah Ustad Arifin Ilham

JUM'AT, 24 MEI 2019 , 13:12:00

Kiriman Bunga untuk KPU Jateng

Kiriman Bunga untuk KPU Jateng

JUM'AT, 24 MEI 2019 , 19:04:00