Kita Tidak Sedang Berperang

Opini  JUM'AT, 08 MARET 2019 , 11:49:00 WIB

Kita Tidak Sedang Berperang
FRASA perang Badar” dan perang total” sempat menjadi trending dalam ruang politik kita. Kedua frasa itu dianggap berimplikasi dengan kontestasi Pilpres 2019 yang akan segera digelar.

Frasa Perang Badar” menggema pasca Neno Warisman membacakan puisi di acara Munajat 212 pada hari Kamis (21/2) yang penggalan puisinya identik dengan do’a Rasulullah SAW saat perang Badar berkecamuk.

Meskipun Neno mengklarifikasi jika puisinya tidak berkaitan dengan Pilpres, tetapi puisi yang disampaikan dalam acara publik tersebut terlanjur mendapatkan sentimen negatif dari sebagian masyarakat, khususnya TKN Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Apalagi dengan kapasitas Neno Warisman yang juga merupakan Wakil Ketua BPN pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Sementara itu, sentimen negatif yang diarahkan kepada BPN Prabowo-Sandi segera direspon oleh BPN Prabowo-Sandi dengan mengungkit pernyataan Moeldoko selaku Wakil Ketua TKN yang pernah melontarkan frasa perang total” dan center of gravity dalam rapat pleno TKN Jokowi-Ma’ruf Rabu (13/2). Padahal, perang total” lazim didefinisikan sebagai perang yang mengabaikan hukum perang.

Seperti halnya Neno, Moeldoko juga melakukan klarifikasi. Menurut Moeldoko, frasa perang total hanya istilah bagi metode kampanye secara total di setiap daerah dengan menentukan pusat gravitasi dalam sebuah pertempuran.

Namun demikian, pemilihan kata perang” saat tensi politik memanas seperti sekarang tentu bukan sesuatu yang tepat, karena akan men-trigger sisi emosional masyarakat.

Keteladanan Elite Politik

Pemaknaan Pilpres sebagai sebuah perang oleh elite politik menimbulkan gejolak di kalangan masyarakat. Selain polarisasi yang menguat, diksi perang” ikut mengancam ikatan-ikatan sosial di masyarakat.

Masifnya narasi elite politik yang bernuasa konflik telah banyak mendorong putusnya simpul-simpul persaudaraan antar masyarakat. Bahkan, hal ini juga terjadi di lingkungan kerja dan keluarga.

Perang opini tentang siapakah Capres dan Cawapres terbaik memang sudah sampai pada level yang mengkhawatirkan. Fanatisme yang ditampilkan oleh para pendukung Capres dan Cawapres seperti yang disampaikan oleh Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsudin, kurang didasari literasi politik, informasi politik, dan pengetahuan. Akibatnya, kita terjebak oleh fanatisme absolut yang serba pokoe”.

Pihak yang seharusnya paling bertanggung jawab untuk kondisi ini adalah para elite politik. Sebagai aktor pendukung dalam Pilpres, para elite cenderung” menggunakan serangan-serangan destruktif terhadap kubu lain.

Hal itu yang kemudian diimitasi oleh simpatisan Capres dan Cawapres yang berasal dari masyarakat grassroots”. Dimulai dari permusuhan di dunia maya, hingga ke kehidupan nyata.

Ada poin krusial yang mesti dipahami oleh masyarakat, bahwa politik tidak berada di ruang hitam putih. Dikotomi hitam dan putih justru kontradiktif dengan realitas subjek politik yang masing-masing selalu memiliki nilai plus dan minus.

Oleh karena itu, elite politik berperan penting dalam memberikan keteladanan bagi masyarakat dengan membawa lokus perdebatan pada domain adu gagasan.

Kegembiraan Berdemokrasi

Jika ada hal yang kita lupakan pada ruang politik kita hari ini mungkin adalah tentang kegembiraan berdemokrasi. Pilpres bukan ajang perang, melainkan sebuah pesta yang harus dirayakan secara riang gembira.

Selayaknya sebuah pesta, maka kita bebas untuk memilih menu yang disajikan, lalu berjabat tangan ataupun berpelukan dan berharap dapat berjumpa kembali dalam pesta-pesta selanjutnya.

Menurut Mahfud MD, salah satu penggagas tagar 2019 Pilpres Ceria”, masyarakat harus menyikapi Pilpres dengan gembira, sebab mereka akan memilih dan memiliki pemimpin. Jadi, jangan sampai Pilpres yang merupakan ritual” politik lima tahunan justru mengoyak-koyak tenun kebangsaan yang telah lama diperjuangan oleh para pendahulu kita dengan susah payah.

Mengartikan Pilpres sebagai perang juga menjadi sesuatu yang irrelevant. Bangsa kita saat ini tidak sedang berperang, apalagi perang saudara. Di mata pepatah bijak, dalam perang, jika menang jadi arang, kalah jadi abu”. Sama-sama merugikan.

Dengan begitu, hendaknya kita menyehatkan nalar berpikir, bahwa perang yang sesungguhnya perlu kita lakukan adalah perang melawan kebencian.

Indonesia merupakan rumah yang harus kita jaga dan rawat bersama. Gus Dur pernah beradvis, Mengakui perbedaan dan memeliharanya tidak membuat orang atau bangsa menjadi lemah. Sikap lapang dada dengan menerima perbedaan serta ketidaksetujuan, justru membuktikan kita adalah sosok atau bangsa yang kuat.”

Jadi, mari kita saling menghargai pilihan politik dengan santun, tanpa permusuhan.


Arie Hendrawan
Mahasiswa Magister Ilmu Politik Undip





Komentar Pembaca
Revitalisasi Kota Lama Semarang

Revitalisasi Kota Lama Semarang

RABU, 27 MARET 2019 , 15:02:00

Festival Pameran Foto Semarang

Festival Pameran Foto Semarang

SELASA, 23 APRIL 2019 , 20:00:00

Uji Emisi Gratis

Uji Emisi Gratis

SELASA, 23 APRIL 2019 , 15:59:00