Batik Ciprat, Ikon Batik Produksi Anak Difabel Intelektual

Budaya  SENIN, 28 JANUARI 2019 , 10:57:00 WIB | LAPORAN: MARNIE UTAMINING

Batik Ciprat, Ikon Batik Produksi Anak Difabel Intelektual
RMOLJateng. Beberapa orang berkebutuhan khusus, terlihat asyik menggoreskan kuas di atas sehelai kain berwarna putih.

Mereka adalah penderita difabel intelektual yang tergabung dalam yayasan DIRI (Difabel Intelektual Restu Ibu) binaan Ngadirin dan istrinya, Darminah.

Yayasan yang beralamat di Dusun Sebelik RT 2 RW 1, Desa Banyuasin Kembaran, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo ini memiliki anak asuh sebanyak 14 orang.

Dari 14 anak difabel intelektual, hanya 10 orang yang aktif berkegiatan di sini. Setiap hari mereka kami ajari membatik,” kata Darminah mengawali percakapan, Senin (28/1/2019).

Rumah yang sekaligus dijadikan tempat produksi batik ini, berada sekitar 100 meter dari kantor Kecamatan Loano. Mereka memberi nama batiknya dengan sebutan Batik Ciprat.

Setiap kain batik hasil produksi anak-anak difabel tersebut selalu ada ‘cipratan’ warna abstrak yang tak berbentuk.

Untuk menghasilkan satu kain batik ciprat yang bagus, butuh waktu sekitar 2 hari hingga finishing. Perlu pengunci warna agar warna tidak luntur dan mudah pudar dengan cara dijemur terlebih dahulu,” lanjut Darminah.

Sebelum diwarnai, kain mori yang menjadi bahan dasar, dicap terlebih dulu dengan gambar ciri khas Kabupaten Purworejo seperti manggis dan durian. Kemudian anak-anak difabel mewarnainya dengan pewarna khusus, remasol.

Menurut Darminah, jenis pewarna tersebut khusus dan aman bagi anak-anak difabel intelektual, karena bukan terbuat dari bahan kimia.

Satu lembar kain batik ciprat dijual seharga Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu tergantung tingkat kesukitan mewarnainyam.

Produksi kami masih bergantung dari pemesanan. Belum berani membuat banyak. Kendala ada di pemasaran, selama ini hanya dari mulut ke mulut saja belum online karena terbatasnya SDM,” ujar ibu yang anaknya juga menderita difabel intelektual ini.

Darminah dan Ngadirin mulai mengajarkan membatik sejak tahun 2015 lalu. Anggota Yayasan DIRI adalah eks panti rehab di Temanggung.

Karena khawatir setelah rehab tidak ada kegiatan, maka orang tua berfikir bagaimana memberi anak-anak spesial tersebut kesibukan.

Kesulitannya ya pasti dalam mengajari mereka harus sabar danbtelaten. Karena emosi mereka tidak stabil, sering marah. Kalau mereka pengen berhenti, ya langsung berhenti tidak bisa dipaksa. Usaha kami sudah mendapat ijin usaha mikro,” lanjut Darminah.

Dimas, salah satu pelanggan yang datang untuk membeli batik menceritakan awal mula perkenalannya dengan batik ciprat.

Saya kenal dengan Ibu (Darminah) sejak empat bulan lalu. Waktu itu saya diorder untuk fashion show pembukaan Romansa Kuliner. Saya ingat Beliau kemudian saya kontak untuk menyediakan kain batik produksi anak-anak difabel,” tambahnya.

Setelah mendapat kain dengan corak yang diinginkan, Dimas kemudia mendesain dan menjahitnya menjadi pakaian yang diperagakan saat pembukaan pusat kuliner tersebut.

Pria yang berprofesi sebagai MUA ini mengaku banyak orang yang suka dengan corak batik yang dipakainya.

Sebenarnya banyak batik lain, namun tujuan saya ingin membantu mengenalkan batik ciprat yang spesial ini. Spesial karena dibuat oleh anak-anak difabel intelektual. Supaya hasil mereka dilihat orang banyak dan bisa menjadi ikon batik Purworejo,” tandas pria alumni SMKN 3 Purworejo ini. [jie]





Komentar Pembaca
Melihat Aktivitas Bongkar Muat Kapal Laut

Melihat Aktivitas Bongkar Muat Kapal Laut

SABTU, 23 NOVEMBER 2019 , 09:51:00

Festival Kampung Gunung Telomoyo Magelang

Festival Kampung Gunung Telomoyo Magelang

JUM'AT, 29 NOVEMBER 2019 , 10:02:00

Lukisan Mural Rumah Peribadatan

Lukisan Mural Rumah Peribadatan

RABU, 27 NOVEMBER 2019 , 17:15:00