Natal Sebagai Ekspresi Spiritualitas

Opini  SENIN, 24 DESEMBER 2018 , 18:25:00 WIB

Natal Sebagai Ekspresi Spiritualitas
ENTAH apa yang ada di dalam benak Lew Wallace sewaktu menulis novel klasik yang terkenal berjudul Ben-Hur: A Tale of the Christ, yang meminjam setting sejarah kelahiran Kristus di Tmur Tengah.
Novel itu termasuk salah satu buku terlaris sepanjang masa yang mengalami cetak ulang dalam berbagai bahasa dunia bahkan sempat difilmkan oleh MGM dan menjadi salah satu film terlaris sepanjang masa.

Di salah satu kisah, Lew menceritakan kehadiran tiga orang majus dari Persia yang jauh-jauh datang ke Bethlehem hanya untuk menyembah Yesus dan membawa persembahan kepadaNya. Kisah tersebut, sekalipun fiksi, seakan menjadi sumber non-kanonik dari cerita sebenarnya dari Injil tentang kedatangan tiga raja dari Timur.

Menghebohkan Yerusalem

Hiruk pikuk tentang Yerusalem memang tidak pernah selesai.  Bahkan hingga hari ini, pergolakan politik dan ancaman kekerasan bahkan bayang-bayang perang, terus terjadi seakan jika tanpa semua itu, Yerusalem menjadi seakan menjadi kota sepi yang ditinggalkan penghuninya.

Tetapi itu semua hanya angan-angan. Tidak ada satupun yang atas kemauannya sendiri meninggalkan Yerusalem. Bahkan, kalau perlu berada di sana, menancapkan kuku sebagai penguasa dan menabuh genderang perang untuk tetap bertahan di kota tua itu. Tidak boleh ada yang lain. Kalau melihat konflik Arab Israel, semakin jelas bagi kita, bahwa hidup berdampingan menjadi kemustahilan.

Hal seperti itulah yang dulu terjadi sewaktu para Majus, yang awalnya menuju Bethelehem, yang hanya sepelempar batu” dari Yerusalem, tiba-tiba tersesat ke Istana Herodes. Di lima belas kilometer terakhir sebelum tiba di Bethelehem, para Majus itu menyimpang ke istana sang penguasa yang sangat paranoid.

Di sana ada penguasa Yerusalem, Raja Yudea yang menjadi perpanjangan tangan Romawi dari tahun 37 SM hingga 4 M. Kekuasaan memang sangat menarik. Tidak memberi tempat bagi pesaing apalagi nomor dua.

Semua yang berada di dalam kekuasaan selalu ingin menjadi nomor satu dan satu-satunya. Menggenapi adagium kuno orang Inggris yang ternyata masih dipraktekan hari ini di dunia sekuler, Second doesn’t count! Itulah yang menyebabkan semua orang berebut menjadi nomor satu.

Herodes tidak rela. Dia raja. Bagaimana mungkin orang asing tiba-tiba nyelonong” masuk istananya yang megah dan bertanya tentang raja kepada raja ! Herodes marah. Yerusalem gempar. Raja yang dinantian itu sudah lahir.

Kehebohan Yerusalem semakin memuncak dengan kematian anak kecil di seluruh Bethlehem. Orang majus tidak kembali kepadanya di-istana. Mereka pulang lewat jalan lain. Herodes melampiaskan kemarahannya dengan membunuh semua anak kecil.

Berharap Kristus ikut katut” di dalam pembunuhan itu. Tetapi lagi-lagi kita melihat bahwa kekuasaan selalu senang melegitimasi dirinya dengan korban. Tidak peduli apakah itu mengorbankan nyawa, yang penting kekuasaan tetap langgeng.

Humana

St. Hieronimus adalah seorang biawaran yang memberikan konsep kesederhanaan dari kelahiran Kristus. Seperti apapun Herodes berupaya mempertahankan kekuasaannya, Kristus tetap Raja di atas segala raja.

Kekuasaan di dunia tidak pernah abadi. Untuk apa mengejarnya dan membawa korban? Pertanyaan ini seolah menjadi misteri di sepanjang sejarah kekuasaan. Tetapi tetap saja setiap orang terpancing untuk berkuasa.

Biarawan yang memilih menjadi tua di sebuah groto di Bethelehem ini, berjasa menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa latin. Dialah yang pertama kali menggunakan kata humana (Latin) di dalam terjemahannya, untuk menjelaskan hal-hal biasa yang dialami manusia secara natural.

Jika diterjemahkan menjadi sama artinya dengan kata ‘manusia fana’. Kekuasaan memang fana. Dia akan pergi secepat datangnya. Orang yang tidak siap akan mengalami post power syndrome.  

Kristus datang ke dunia ini bukan merepresentasi kekuasaan di dalam versi Herodes. Dia lebih tinggi dari Herodes dan kekuasaanNya meliputi realm yang terlihat dan tak terlihat.

Tetapi anehnya, kedatangan Kristus yang lahir di palungan (tempat makanan domba yang lazim ditemui di setiap kandang di Timur Tengah kala itu) mengagetkan Herodes dan seisi istananya.

Lahir di kandang domba dan dibaringkan di dalam palungan. Jelas sekali, peristiwa itu menegaskan bahwa kekuasaan yang sejati bukanlah posisi dan kedudukan tetapi fungsi dan kebermaknaan.

Herodes gagal memaknai implementasi humana di dalam sejarah kepemimpinannya. Maka ketika Kristus lahir, dalam balutan kesederhanaan, muncul sikap reaktif.

Pelajaran penting bagi kekristenan sebetulnya telah dipaparkan di dalam narasi natal itu sendiri. Disini kita mengerti makna ‘demonstratif’ yang dipakai Walikota Malang menyikapi perayaan Natal di wilayah kekuasaannya.

Natal bukanlah arogansi kekuasaan seperti Herodes. Bukan kemeriahan yang hingar bingar sehingga melewatkan maknanya. Esensi natal adalah kesederhanaan. Natal adalah humana karena ketika Kristus lahir di Bethlehem hal tersebut yang ditampilkannya.

Bukan kemewahan yang bisa membuat orang lain iri dan tidak nyaman. Bukan sesuatu yang eksklusif dan demonstratif di tengah kerukunan umat beragama. Natal adalah ekspresi spiritualitas.

Mengutip kalimat Romo Hauken SJ dalam bukunya Spiritualitas Kristiani, spiritualitas adalah cara mengamalkan seluruh kehidupan sebagai seorang beriman yang berusaha merancang dan menjalankan hidup ini semata-mata seperti Tuhan menghendakinya. Selamat natal ! [***]

Dr. Sonny Eli Zaluchu
Pendeta dan Dosen Teologi di Program Pascasarjana STBI Semarang

Komentar Pembaca
Foto: Kapal Panorama Nusantara Terbakar

Foto: Kapal Panorama Nusantara Terbakar

SENIN, 18 FEBRUARI 2019 , 16:17:00

Pembukaan Museum OHD Magelang

Pembukaan Museum OHD Magelang

SABTU, 26 JANUARI 2019 , 17:25:00

Hari Peduli Sampah Nasional 2019

Hari Peduli Sampah Nasional 2019

KAMIS, 21 FEBRUARI 2019 , 10:59:00