Meningkatnya Penderita HIV/AIDS Di Indonesia

Opini  SELASA, 11 DESEMBER 2018 , 06:50:00 WIB

Meningkatnya Penderita HIV/AIDS Di Indonesia

Foto/net

VIRUS HIV adalah virus yang menyerang tubuh inangnya dengan cara menyerang sistem kekebalan tubuhnya. Bila sistem kekebalan tubuh sudah rusak atau lemah, maka seseorang akan dengan mudahnya terserang berbagai penyakit yang ada di sekitar kita seperti TBC, diare, sakit kulit, dll.

Kumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh kita itulah yang disebut AIDS. AIDS adalah stadium akhir dari infeksi virus HIV. Proses penularannya pun dapat melalui beberapa jalur; hubungan seksual (vaginal, anal atau oral) tidak aman dengan berganti-ganti pasangan atau pasangan yang terinfeksi HIV/AIDS, transfuse darah yang terkontaminasi virus HIV, penggunaan jarum suntik atau instrument lainnya yang terkontaminasi, dan penularan melalui ibu ke bayinya selama kehamilan, kelahiran dan menyusui. Tentunya mencegah lebih baik dari pada mengobati. Begitu pula dengan kasus HIV/AIDS.

Pada tahap ini, sistem kekebalan di dalam tubuh sudah lemah untuk melawan infeksi yang masuk. Oleh karena itu, sampai sekarang belum ada obat untuk menyembuhkan penyakit HIV/AIDS ini.

Akan tetapi ada obat untuk menghambat menyebarnya virus ini di dalam tubuh.Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, selama tahun 2016 terdapat lebih dari 40 ribu kasus infeksi HIV di Indonesia.

Sedangkan angka penderita HIV di Bekasi sangat mengkhawatirkan. Pada 2017 lalu jumlah penderita HIV/AIDS di wilayah setempat mencapai 1.363 kasus. Saat ini jumlahnya naik 13,7 persen menjadi 1.551 kasus yang terdiri atas 884 laki-laki dan 667 perempuan yang terinfeksi virus HIV/AIDS.

Sekarang Penderita HIV/AIDS tidak hanya terjadi di kalangan orang dewasa, namun merambah hingga ke balita. Bayi yang belum lahir  sudah di serang penyakit ini saat masih berada di kandungan si ibu dengan kategori Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).

Sehingga, saat lahir si anak otomatis terkena virus HIV/AIDS melalui tali pusar ketika berada di dalam kandungan ibunya.

Saat ini, penularan virus HIV/AIDS paling banyak melalui hubungan seks yang tidak aman atau kerap berganta-ganti pasangan. Apalagi mereka tidak menggunakan alat pengaman seperti kondom, sehingga virus dengan cepat menular melalui cairan.

Kita ketahui bahwa di Indonesia sudah ada  98 peraturan daerah (Perda) penanggulangan HIV/AIDS baik tingkat provinsi (21), kabupaten (54) dan kota (23) serta 10 peraturan (pergub 4, perbup 5 dan perwali 1). Tapi, perda-perda itu hanyalah macan kertas” yang tidak berguna karena pasal-pasal penanggulangan sama sekali tidak menyentuh akar persoalan.

Saya berharap pada 2030 mendatang kasus HIV dan AIDS bisa hilang. Paling tidak, angka mematian yang disebabkan virus tersebut bisa hilang. Bagaimanapun mereka adalah saudara-saudara kita yang harus selalu kita support, sebab kebanyakan dari mereka itu tidak mengetahui terinveksi virus tersebut.

Sejauh ini, saya mengetahui bahwa pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya dalam menangani kasus tersebut. Di antaranya dengan melakukan pemeriksaan dini secara berkala di kalangan para pekerja seks komersial (PSK).

Bahkan pemerintah juga mengadakan program penyuluhan secara langsung kepada masyarakat untuk menghindari perilaku seks bebas dan penggunaan narkoba guna menekan jumlah penderita virus ini. Lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan ikut serta juga dalam membantu mengatasi masalah tersebut.

Upaya pencegahan melalui sosialisasi dan pemeriksaan yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Bekasi sudah dilakukan. Misalnya dengan melibatkan penggiat-penggiat HIV-AIDS yang ada di Kota Bekasi.

Perlindungan dari ancaman HIV/AIDS sudah sewajarnya dilakukan kepada seluruh elemen manusia, baik yang sehat, rentan tertular maupun yang sudah tertular HIV/AIDS.

Setiap manusia yang sehat berhak mendapat proteksi dari ancaman HIV/AIDS dan setiap pesakitan HIV/AIDS juga berhak mendapatkan kehidupan yang layak, tanpa adanya stigma negatif dan diskriminatif di tengah masyarakat.

Upaya pencegahan dan pengobatan harus dilakukan bersama-sama pemerintah dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, tokoh masyarakat dan lembaga kemasyarakatan.

Kasus ini memang memberikan tugas kepada kita semua untuk mencari obatnya. Bagaimana pun juga kasus HIV-AIDS itu seperti gunung es. Bukannya berkurang, tetapi malah bertambah karena ini perubahan perilaku yang dilakukan masyarakat.

Kita berharap agar masyarakat tidak menganggap virus tersebut adalah hal yang tabu, sehingga untuk memeriksakan diri harus tertutup. Oleh karena itu, ini adalah tugas Dinkes dan pendampingan masyarakat agar sama-sama mensosialisasikan agar memeriksakan, baik itu yang merasa sehat atau yang terjangkit agar diperiksakan dengan yang sudah. [***]

AHMAD MAHARDIKA
Mahasiswa UNNES Kurikulum Dan Teknologi Pendidikan

Komentar Pembaca
Generasi Golkar Kehilangan Sentuhan Soeharto

Generasi Golkar Kehilangan Sentuhan Soeharto

MINGGU, 22 SEPTEMBER 2019 , 21:46:52

Ace Hasan Syadzily: Manuver Bambang Soesatyo Biasa Saja
PASANG SURUT CALON KETUA UMUM PAN

PASANG SURUT CALON KETUA UMUM PAN

KAMIS, 19 SEPTEMBER 2019 , 22:10:26

Ngopi Bareng bersama Kapolda Jateng Dan Pangdam IV/ Diponegoro
Pasar Tunjang Karang Moncol Terbakar

Pasar Tunjang Karang Moncol Terbakar

SABTU, 24 AGUSTUS 2019 , 23:04:00

Festival Audisi Tari Ratoh Jaroe

Festival Audisi Tari Ratoh Jaroe

MINGGU, 25 AGUSTUS 2019 , 10:37:00