Ditolak Sejumlah Sekolah, Sriyono Mampu Dirikan Sekolah Gratis

Pendidikan  RABU, 05 DESEMBER 2018 , 12:09:00 WIB | LAPORAN: M PUTRA ANANDA

Ditolak Sejumlah Sekolah, Sriyono Mampu Dirikan Sekolah Gratis
RMOLJateng. Tidak ada kata menyerah dan pantang mundur, itulah prinsip hidup yang dijalani Sriyono Abdul Qohar seorang penderita disabilitas tuna daksa dari Kabupaten Blora, Jawa tengah.

Meski keinginannya menjadi seorang guru selalu mendapat penolakan dari sejumlah sekolah, namun niatnya  mengabdikan diri untuk negeri tidak pernah luntur.

Bahkan tindakan diskriminatif yang ia alami seolah menjadi cambuk bagi dirinya untuk terus maju hingga akhirnya mampu mendirikan sekolah sendiri.

Paud KB Gembira Ria adalah nama sekolah tersebut. Berada di desa sendangmulyo kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, Paud KB Gembira Ria menjadi satu-satunya sekolah di desa kelahiran Sriyono.

Sriyono mengungkapkan, alasannya mendirikan sekolah bukan tanpa sebab. Pasalnya,  Keinginannya menjadi seorang pendidik seolah terhalang dengan kondisi fisiknya. Sudah banyak sekolah yang ia datangi, namun tidak ada satupun yang menerimanya.

"Saya lulusan sarjana pendidikan agama Islam. Lulus tahun 2009 dari STAIM Blora. Setelah lulus saya masukin lamaran di sejumlah sekolah, mulai MI, MTS, Hingga sekolah swasta lain. Tapi dari semua itu, Alhamdulillah saya belum diterima. Gak tahu kenapa, mungkin karena bentuk fisik saya,"  kata Sriyono saat ditemui di Paud KB Gembira Ria, Rabu (5/12).

Sriyono mengungkapkan rencana membangun sekolah muncul setelah adanya informasi dari bidan desa mengenai adanya pembangunan Paud dari pemerintah pusat.

Karena tertarik, lalu dirinya mengajukan proposal untuk mendirikan Paud.

"Dulu itu bidan desa kasih informasi kalau buat sekolah Paud saja. Tapi syaratnya harus dapat siswa 21, tapi waktu itu saya Alhamdulillah bisa dapat 23. Akhirnya saya langsung buat proposal dan langsung ACC,"  ungkapnya.

Setelah hampir 9 tahun berdiri, jumlah anak didik di Paudnya terus mengalami peningkatan. Tahun ini jumlah anak didiknya sudah mencapai 32 siswa. Sriyono pun tidak memungut biaya sepeserpun terhadap para siswanya.

"Kita sekolah gratis, tidak bayar sepeserpun. Para siswa hanya kita Bebani uang jajan 2 ribu setiap harinya. Uang itu nanti kita belikan jajan buat anak-anak dan sisanya kita gunakan untuk operasional sekolah," papar Sriyono.

Selain menjabat sebagai kepala sekolah, Sriyono pun tak segan ikut membantu mengajar anak didiknya. Dibantu 3 tenaga guru lainnya, Sriyono dengan sabar mendidik anak-anak warga desa.

Berkat kesabaran dan kedisiplinannya membuat para guru menaruh hormat kepadanya.

"Pak Sriyono ini orangnya bijaksana, juga sabar mendidik anak-anak. Padahal dia itu seorang bapak. Saya dulu sempat ragu kepada beliau, apakah mampu mengelola sekolah dengan kondisi fisiknya. Namun keraguan itu terbantahkan setelah saya 9 tahun mengajar disini. Dibalik kekurangannya ternyata mampu ia tutupi dengan kelebihannya," ujar Titik Suharni, salah satu guru. [jie]




Komentar Pembaca
Revitalisasi Kota Lama Semarang

Revitalisasi Kota Lama Semarang

RABU, 27 MARET 2019 , 15:02:00

Festival Pameran Foto Semarang

Festival Pameran Foto Semarang

SELASA, 23 APRIL 2019 , 20:00:00

Uji Emisi Gratis

Uji Emisi Gratis

SELASA, 23 APRIL 2019 , 15:59:00