Anak Dibawah Umur Merokok Dan Mabuk, Salah Siapa ?

Opini  SELASA, 04 DESEMBER 2018 , 15:57:00 WIB

Anak Dibawah Umur Merokok Dan Mabuk, Salah Siapa ?

Ilustrasi/net

MASIH hangat diperbincangkan sebuah video viral dari Kalijaga kecamatan Aikmel Lombok Timur, bocah dibawah umur yang sempat menjadi perbincangan banyak orang akibat perbuatannya yang tidak lazim di usianya yaitu merokok dan mabuk.

Dalam video youtube yang banyak beredar di dunia maya, memperlihatkan anak tersebut ditanya oleh orang yang lebih tua dalam keadaan mabuk dan merokok.

Ketika melihat video tersebut, muncul beberapa pertanyaan, bagaimana bocah dibawah umur bisa mabuk dan merokok ? Apakah orang tuanya tidak tahu ?.

Sudah biasa kita melihat sekelompok anak muda baik itu anak sekolah ataupun anak yang tidak sekolah, beberapa di antara mereka pasti merokok dan bahkan ada yang meminum minuman keras. Yang lebih parah, anak-anak SD dan SMP sudah banyak yang melakukan hal itu.

Faktor yang menyebabkan hal ini mungkin hanya hal yang sepele. Mungkin berawal dari orang tua yang sering menyuruh anaknya untuk membelikannya rokok dan pengaruh lingkungan mereka yang bebas tidak dikontrol orang tua.

Padahal anak dibawah umur rasa ingin tahunya sangat tinggi tidak heran lagi jika mereka dibebaskan maka akan masuk kedalam pergaulan yang salah. Awalnya mereka hanya coba"coba karena penasaran tapi karena ketagihan mereka jadi keterusan dan tidak bisa berhenti.

Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemkes Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan,  akibat rokok pengeluaran makro negara lebih besar dari cukai yang diperoleh. Per tahunnya, negara mengeluarkan sebesar Rp 254,41 triliun, sedangkan pendapatan negara dari cukai hanya Rp 55 triliun.

Hal ini menunjukkan bahwa pengeluaran makro akibat rokok di Indonesia lebih besar dari cukai yang didapat,” katanya.  

Sementara, kata dia, lebih dari 60 juta penduduk Indonesia adalah perokok. Sebanyak  60% pria dan 4,5% perempuan merokok. Terdapat 97 juta warga Indonesia jadi perokok pasif, dan 43 juta di antaranya adalah anak-anak.
Sedangkan berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 mengungkapkan umur mulai minum alkohol terutama pada usia 15-19 tahun pada pria sebesar 70 persen dan wanita 58 persen. Sementara pada usia 20-24 tahun, pria yang mengonsumsi alkohol sebanyak 18 persen dan wanita 8 persen.

Dampak dari merokok dan alkohol sangat lah berbahaya, Melakukan kebiasaan merokok terlalu dini dapat menyebabkan gangguan pada pertumbuhan serta perkembangan paru pada anak-anak dan remaja, hal ini mengakibatkan paru-paru berhenti untuk tumbuh.

Gangguan ini dapat menimbulkan masalah kesehatan yang kronis hingga ia beranjak dewasa. Pada anak di bawah usia 15 tahun, Bila anak minum alkohol, dampaknya bisa terasa dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek, anak bisa keracunan alkohol hingga menyebabkan kematian. Sedangkan dalam jangka panjang, ada kemungkinan anak menjadi seorang pecandu alkohol.

Melihat dari kejadian tersebut, Keluarga mempunyai peran penting menjauhkan anak dari rokok dan minuman ber alkohol. Di mulai dari kebiasaan di dalam rumah tentunya akan menjadi kebiasaan di luar rumah.

Belum lagi pengawasan orang tua yang tidak bisa penuh selama 24 jam menambah kemungkinan anak di bawah umur untuk merokok dan meminum alkohol. Faktor lingkungan juga mempengaruhi hal ini.

Lingkungan sekolah dan bermain anak-anak juga harus diperhatikan. Tidak jarang setelah pulang sekolah anak"anak akan diajak nongkrong dengan orang yang lebih dewasa dari situ lah muncul rasa penasaran anak"anak dengan apa yang dilakukan orang dewasa contohnya merokok dan meminum minuman beralkohol.

Melihat hal itu, mungkin peraturan batas minimal usia perokok harus lebih diperhatikan. Padahal sudah banyak iklan di televisi maupun di media cetak. Namun yang terjadi di lapangan bertolak belakang.

Para pedagang rokok seolah-olah tidak mempedulikan hal tersebut. Anak-anak dibuat mudah mendapatkan rokok. Selain itu juga larangan menjual minuman keras secara ilegal masih sering dilanggar oleh pedagang sehingga para remaja mudah mendapatkan minum minuman keras di warung " warung kecil.

Dampak psikologis bagi anak dibawah umur yang merokok dan meminum alkohol adalah ketidakseimbangan fungsi otak yang membuat menjadi ketergantungan.

Kebanyakan dari mereka sebenarnya menyadari bahaya rokok dan minuman keras tapi mungkin karena terlambat menyadari sehingga mereka sudah terlanjur tercandu oleh itu, dan tidak ada niat kuat untuk berhenti.

Banyak pihak yang ingin mengurangi jumlah perokok dan peminum alkohol tetapi tidak akan terwujud tanpa kerjasama dari berbagai pihak. Entah itu itu dari orang tua, para pedagang rokok dan minuman keras dan pemerintah. Karena apa bila tidak ada kerja sama dari pihak-pihak itu tidak mungkin akan tercapai semua itu. [***]


Hana Sifakhatin
Mahasiswa Kurikulum Dan Teknologi Pendidikan UNNES Semarang






Komentar Pembaca
Masih Adanya Fenomena Salah Jurusan Di Kalangan Mahasiswa
Masyarakat Yang Sering Membuang Sampah Sembarangan
Micin Membuat Kamu Bodoh?

Micin Membuat Kamu Bodoh?

JUM'AT, 14 DESEMBER 2018

Permasalahan Pendidikan di Indonesia

Permasalahan Pendidikan di Indonesia

JUM'AT, 14 DESEMBER 2018

Jasa Jual Caption, Kritik Terhadap Apresiasi Masyarakat Indonesia Tentang Karya Tulis
LGBT Dan Pancasila

LGBT Dan Pancasila

JUM'AT, 14 DESEMBER 2018

Memperingati 7 Tahun Kematian Kim Jong Il

Memperingati 7 Tahun Kematian Kim Jong Il

JUM'AT, 14 DESEMBER 2018 , 21:00:00

Anak Milenial Mesti Ikut Lokomotif Perubahan

Anak Milenial Mesti Ikut Lokomotif Perubahan

JUM'AT, 14 DESEMBER 2018 , 13:00:00

Jegal OSO Nyaleg, KPU Bisa Kena Sanksi Etik Dan Pidana
Harimau Bonbin Semarang Terlepas

Harimau Bonbin Semarang Terlepas

RABU, 05 DESEMBER 2018 , 19:34:00

Foto : Pemberangkatan Tim Porpov Tim Semarang

Foto : Pemberangkatan Tim Porpov Tim Semarang

JUM'AT, 19 OKTOBER 2018 , 16:10:00

Wisata Tour TKCI Indonesia Di Magelang

Wisata Tour TKCI Indonesia Di Magelang

SABTU, 24 NOVEMBER 2018 , 15:13:00