PKL Tahu Gimbal Taman Indonesia Kaya Keberatan Berjualan Dengan Styrofoam

Ekonomi  SENIN, 29 OKTOBER 2018 , 17:59:00 WIB | LAPORAN: PARWITO

PKL Tahu Gimbal Taman Indonesia Kaya Keberatan Berjualan Dengan Styrofoam

Foto/RMOL Jateng

RMOLJateng. Ketua Paguyuban Pedagang Kaki Lima (PKL) Tahu Gimbal Taman Indonesia Kaya (TIK) Purwanto mengucapkan terimakasih atas perhatian dari Pemkot Semarang yang telah memberikan ruang bagi mereka untuk masih tetap bisa berjualan di sekitar Kawasan TIK, Kawasan Menteri Supeno, Mugassari, Kota Semarang. 

"Saya mewakili PKL Tahu Gimbal mengucapkan terimakasih kepada Pemkot Semarang yang dipimpin Pak Hendi bahwa kami saat ini masih bisa eksis di sekitar Taman KB (Sekarang Taman Indonesia Kaya). Kedua dengan Dinas Perdagangan Pak Fajar, beliau sangat baik sehingga kami di lindungi, tidak pernah ada garukan dengan  Satpol PP dan benturan dengan manapun," tegas Purwanto kepada RMOLJateng usai mengikuti sosialisasi PKL di TIK yang dilakukan oleh Dinas Perdagangan Kota Semarang, Senin (29/10).

Purwanto mengungkapkan, untuk saat ini dirinya dan beberapa rekan PKL Tahu Gimbal lainya akan berupaya untuk menerima dan mulai berdagang di sekitar TIK sesuai dengan ijin dan perintah dari Dinas Perdagangan Kota Semarang dimulai pada Sabtu (10/11).

"Untuk masalah shelter baru, kami akan menerima dulu. Kita menerima kita uji coba, kalau satu Minggu nggak jalan kami akan cari solusi, kami sudah  bosen mengadakan demo, nggak ada titik temu. Paling tidak dengan pemerintah kalah, ya kita cari solusi piye," ujarnya.

Meski demikian, secara terbuka Purwanto mengaku pihaknya bersama rekanya merasa keberatan jika PKL Tahu Gimbal harus bisa menerapkan sistem berjualan dengan menggunakan styrofoam, sesuai dengan usulan Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu atau yang akrab disapa Mbak  Ita. Pasalnya, ciri khas kuliner khas Kota Semarang ini harus disajikan dengan piring dan dalam kondisi panas. 

"Kita PKL lama, ortodok, masih pakai piring, ikon tahu gimbal khan gitu mas. Tapai kalau terus diubah pakai styrofoam, pakai gelas, tidak boleh nyuci piring kan gini tidak ada lesehan gimana? Mungkin kalau enam bulan, lambat laun, sebentar mungkin ini kami bisa menerima. Tapi kami berusaha mencoba dulu, kalau tidak mencari solusi. Sebagai binaan Dinas Perdagangan kami akan  minta solusi terbaik bagaimana," akunya.

Purwanto menambahkan, saat ini PKL Tahu Gimbal yang tadinya sebelum TIK dibangun ada sebanyak 48 shelter, kini sudah menjadi 42 shelter. Selain itu, ukuran antara luasnya shelter dan gerobak yang dipunyai PKL Tahu Gimbal tidak sesuai.   

"Kami PKL Tahu Gimbal ada 48, ada yang punya lebih dari satu, lebih dari tiga. Kalau kuota mencukupi Alhamdulillah, kemarin ada 42, dimana dicoreti yang punya lebih dari satu, ada yang tidak dipakai, ada yang tidak bertuan. Ukuran shelter untuk Jagung bakar 1,2 meter yang PKL  Tahu Gimbal ukurannya 1,5 meter, padahal gerobak kami itu panjang 1,75 meter, kami kendalanya besar sekali tapi kami tidak mengeluh dulu lah wong kami belum mencoba,"pungkas Purwanto. [jie]




Komentar Pembaca
Bunga untuk Veronica Tan

Bunga untuk Veronica Tan

KAMIS, 21 NOVEMBER 2019 , 17:00:04

Ingatkan Sukmawati, Sultan Tidore: Kita Semua Anak Pejuang
Rizal Ramli Tidak Setuju Ahok Pimpin BUMN

Rizal Ramli Tidak Setuju Ahok Pimpin BUMN

MINGGU, 17 NOVEMBER 2019 , 03:13:53

Pameran Dirgantara Penerbad Semarang

Pameran Dirgantara Penerbad Semarang

JUM'AT, 08 NOVEMBER 2019 , 10:58:00

Kirab Budaya Lereng Gunung Prau Temanggung

Kirab Budaya Lereng Gunung Prau Temanggung

MINGGU, 10 NOVEMBER 2019 , 13:30:00

Aktifitas Petani Tembakau

Aktifitas Petani Tembakau

SABTU, 19 OKTOBER 2019 , 07:44:00