Hendi Ungkap Sejarah Kepulangan Gerilyawan Perang Jadi Tonggak Hari Keluarga Nasional

Nusantara  SELASA, 31 JULI 2018 , 15:38:00 WIB | LAPORAN: PARWITO

Hendi Ungkap Sejarah Kepulangan Gerilyawan Perang Jadi Tonggak Hari Keluarga Nasional

Foto/RMOL Jateng

RMOLJateng. Hari Keluarga Nasional yang jatuh pada tanggal 29 Juni mungkin tidak sepopuler peringatan hari-hari nasional yang lainya seperti Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan yang jatuh pada 17 Agustus mendatang atau Hari Anak Nasional yang barusan diperingati pada 23 Juli lalu.

Untuk itu, pada kesempatan acara Hari Keluarga Nasional yang ke-XXV yang sering disebut Harkanas kali ini, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang akrab disapa Hendi  memperingatinya dengan berbagai macam lomba dan dibarengi dengan Lounchingnya Kampung KB. Langkah ini sebagai upaya membentuk keluarga harmonis dan keluarga terencana, untuk menghasilkan generasi penerus berkualitas.

"Peringatan Hari Keluarga Nasional, tepatnya jatuh pada tanggal 29 Juni. Lounching kampung KB, nek Pak Hendi belum sempat KB, mudah-mudahan generasi muda Kota Semarang supaya ikut KB supaya Kotanya lebih hebat lagi," tegas Hendi mengawali cerita sejarah ditetapkanya Harkanas oleh Pemerintah RI yang diperingati di Pendopo Kantor Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kota Semarang di Jalan Prof Sudarto Nomor 116, Kota Semarang Selasa (31/7).

Hendi pun mengungkapkan, jika pada tahun 1945 dimana para gerilyawan yang berjuang di medan pertempuran untuk mempertahankan dan merebut Kemerdekaan RI, pada Agersi Militer ke II terjadi. Untuk pertama kalinya, para pejuang dan gerilyawan bisa pulang kembali ke keluarganya.

Pada saat itulah, Hendi menyatakan jika negara RI menyatakan pada 29 Juni ditetapkan sebagai Hari Keluarga Nasional (Harkanas) yang sampai sekarang ini diperingati oleh rakyat Indonesia.    

"Dulu sekali pada saat invasi Belanda ke Yogya, tepatnya tahun 1945, Belanda akhirnya pergi dari Yogya tanggal 29 Juni dan itulah pertama kalinya gerilyawan-gerilyawan yang punya Indonesia bisa kundur (pulang) ke rumah dan (kembali menyatu dan bertemu) keluarganya," tuturnya.

Hendi menyatakan, kepulangan para gerilyawan yang sudah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun hidup jauh dari keluarga karena berjuang untuk Kemerdekaan RI itulah sebagai tonggak diperingatinya Harkanas.

"Kumpul dengan keluarga, hidup normal lagi dan diperingati Hari Keluarga Nasional. Pesanya dari cerita itu apa? Pak Dandim, kalau panjenengan kerja, kalau sore pulang ke rumah. Jangan keasyikan kerja sampai malam pulang, anak sudah tidur, nyonya sudah tidur, gerilyawan itu dulu juga memperingatinya dengan baik," ujarnya.

Hendi pun menghimbau, di era sekarang ini kesibukan kerja jangan dijadikan alasan untuk meninggalkan keluarganya di rumah. Sesibuk apapun, keluarga harus menjadi prioritas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

"Jangan kemudian, seolah-olah hidup itu untuk kerja, kerja dan kerja. Tapi ada sebuah sisi dimana kita tidak boleh lupa dengan namanya keluarga," ungkapnya.

Hendi berharap ada upaya untuk saling mendukung dari sesama anggota keluarga.  

"Keluarga itu mendukung semua aktifitas kegiatan yang ada di dalam keluarga. Misalnya, seorang suami pada saat berkarir, dia akan didukung istri dan anak-anaknya. Seorang istri, pada saat dia menjadi bagian dari kelompok masyarakat akan didukung suami dan anaknya. Seorang anak, pada saat dia ingin berprestasi di dunia pendidikan, pasti akan didukung seorang suami dan istri,"  harapnya.

Bahkan, Hendi berpesan hubungan keluarga jauh lebih penting dibanding dengan hubungan pertemanan atau status hubungan yang lainya.

"Di keluarga hubunganya jauh lebih kental di pertemanan ataupun hubungan yang lain. Sehingga ini menjadi penting saya mengingatkan kepada seluruh keluarga yang ada di Kota Semarang khususnya, jangan kemudian anda meninggalkan keluarga anda, hanya untuk sebuah alasan yang namanya sibuk, hanya untuk sebuah alasan kerja dan yang lain-lain," pesanya.

Sesibuk apapun, Hendi menambahkan, harus sebisa mungkin berkomunikasi dengan keluarga sehingga benteng terakhir pertahanan bagi anak-anak, istri dan suami jika ada persoalan di masyarakat.

"Sesibuk apapun kita, kita sempatkan untuk bisa berkomunikasi dengan keluarga agar bisa menjadi erat, lebih akrab dan ini menjadi benteng terakhir kita, pada saat kita mempunyai sebuah keinginan untuk meraih sukses," pungkasnya. [jie]  

Komentar Pembaca
Panen Musim Pancaroba

Panen Musim Pancaroba

MINGGU, 07 OKTOBER 2018 , 10:57:00

Foto:Roadshow Bus KPK Di Semarang

Foto:Roadshow Bus KPK Di Semarang

SABTU, 13 OKTOBER 2018 , 13:18:00

Foto : Pemberangkatan Tim Porpov Tim Semarang

Foto : Pemberangkatan Tim Porpov Tim Semarang

JUM'AT, 19 OKTOBER 2018 , 16:10:00