Jembul Tulakan Potensial Jadi Wisata Budaya Jepara

Budaya  SENIN, 16 JULI 2018 , 20:30:00 WIB | LAPORAN: MUHAMMAD OLIEZ

Jembul Tulakan Potensial Jadi Wisata Budaya Jepara

Foto: Net

RMOLJateng. Tradisi Jembul Tulakan ala Desa Tulakan Kecamatan Donorojo Kabupaten Jepara potensial dikembangkan sebagai wisata budaya di Kota Ukir. Selain unik dan khas, tradisi yang sudah berjalan turun temurun itu juga memiliki akar sejarah dengan pendiri Kabupaten Jepara, Ratu Kalinyamat.

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengatakan kisah yang mengiringi lahirnya tradisi maupun prosesi Jembul Tulakan sangat khas dan tak ada di tempat lain. Oleh karena itu, tradisi ini layak diangkat dalam kalender even wisata di Kota Ukir.
"Kalau dikemas dengan baik bisa menjadi daya tarik wisata budaya. Makanya tradisi ini harus terus dilestarikan dan dikembangkan," kata Marzuqi saat mengikuti tradisi Jembul Tulakan, Senin (16/7/2018).

Menurut Marzuqi, jika Jembul Tulakan bisa menjadi  destinasi wisata budaya maka akan berimbas positif bagi warga Desa Tulakan. Wisatawan akan mendatangi desa yang lokasinya tak jauh dari wilayah Kabupaten Pati ini. Dan proses itu memunculkan efek berantai yang positif bagi warga desa.

"Desa Tulakan berada dalam deretan tempat menarik untuk dikunjungi di Kabupaten Jepara," ujarnya.

Tradisi Jembul Tulakan berdasarkan cerita turun temurun ihwal sumpah dari Ratu Kalinyamat seiring kematian suaminya, Sultan Hadlirin di tangan Aryo Penangsang. Tekad penguasa Jepara untuk mencari keadilan dengan ritual bertapa ini menjadi simbol perlawanan atas kesewenang-wenangan.

Warga Desa Tulakan rupanya terpanggil dan bergerak ikut mendukung upaya Ratu Kalinyamat untuk menegakkan kebenaran. Caranya dengan menggelar ritual Jembul Tulakan yang rutin digelar setiap Senin Pahing bulan Apit dalam penanggalan Jawa.

"Jembul Tulakan ini juga sarana sedekah bumi, yang melambangkan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rahmat dan karunia-Nya,” ucap Kepala Desa Tulakan, Sutrisno.

Jembul Tulakan diarak oleh puluhan lelaki. Ada dua jenis jembul yang diarak, yaitu Jembul Wadon” (perempuan) dan Jembul Lanang” (laki-laki). Jembul Wadon berukuran lebih kecil dan tidak menjulang, sedangkan Jembul Lanang sebaliknya lebih besar dan menjulang (menggunung).

Selain itu, ada juga yang mengarak makanan dengan ditempatkan pada anyaman bambu dengan cara dipikul. Terdapat pula barisan ibu-ibu dan penampilan kesenian tradisonal, serta puluhan warga di bagian paling belakang. Arak-arakan jembul diarak dari empat dusun yang ada di Desa Tulakan, yakni Krajan, Ngemplak, Winong, dan Drojo. Jembul diarak menuju halaman rumah kepala desa.  Kesenian tradisional tayub ikut memeriahkan prosesi tersebut.

"Ke depan kita coba kembangkan agar tradisi ini bisa dikembangkan agar lebih menarik," tandasnya. [hen]



Komentar Pembaca
Andi Arief Mencambuk Prabowo

Andi Arief Mencambuk Prabowo

SENIN, 15 OKTOBER 2018 , 15:00:00

Golkar: PKS Pakai Segala Cara

Golkar: PKS Pakai Segala Cara

SENIN, 15 OKTOBER 2018 , 13:00:00

Rumah DP 0 Rupiah Resmi Diluncurkan

Rumah DP 0 Rupiah Resmi Diluncurkan

JUM'AT, 12 OKTOBER 2018 , 17:00:00

Panen Musim Pancaroba

Panen Musim Pancaroba

MINGGU, 07 OKTOBER 2018 , 10:57:00

Foto Dampak Kenaikan Dolar Terhadap Harga Pangan

Foto Dampak Kenaikan Dolar Terhadap Harga Pangan

JUM'AT, 07 SEPTEMBER 2018 , 16:34:00

Foto Rekor Muri Senam

Foto Rekor Muri Senam

SELASA, 04 SEPTEMBER 2018 , 11:45:00