Olah Raga Jadi Penanda

Catatan Jayanto  MINGGU, 08 JULI 2018 , 08:10:00 WIB | OLEH: JAYANTO ARUS ADI

Olah Raga Jadi Penanda
ADA ironi mencermati prestasi olah raga Indonesia belakangan ini. Mengapa dikatakan ironis, ya karena dari peristiwa itu muncul fenomena yang unik. Masyarakat olah raga dan juga warga bangsa ini dinilai kini telah dewasa. Penilaian itu entah datang dari mana, dan siapa melakukannya, namun semua kita memahami kerja keras stakeholder keolahragaan di negeri ini. Maaf tanpa bermaksud memuji, tapi Imam Nahrowi punya concern menjadi Menpora.

Setelah beberapa waktu nyaris terpuruk, belakangan geliat prestasi mulai terasa. Cabang klasik yang menjadi kebanggaan Indonesia Bulutangkis misalnya, meski belum pada prestasi terbaik, tetapi telah menyiratkan tapakan yang nyata. Cukup membanggakan bahkan, kini kita mempunyai duo minion, yakni Kevin Gideon dan Markus Sanjaya telah mampu menorehkan prestasi harum.

Ya prestasi prestasi duo minion Indonesia menandakan kita ada, duo olah raga yang jadi penanda.

Kini di tengah euforia itu, kita tengah menyiapkan perhelatan akbar Asian Game 2018. Dalam konteks ini bagaimana publik merespon atau memberi apresiasi apa yang sedang digelorakan pemerintah. Mundurnya Vietnam jadi tuan rumah Asian Game dan kenekadan Indonesia mengambil alihnya adalah langkah luar biasa. Tanpa bermaksud menepuk dada, langkah Indonesia adalah sebuah pilihan berani, berisiko, tetapi patut diapresiasi.

Begitulah pemimpin, tak perlu takut mengambil keputusan meski kadang panen hujattan. Dengan segala kekurangan yang pasti ada, duet Jokowi dan JK adalah kolaborasi kepemimpinan yang mempunyai catatan tersendiri.  Kiprah dua tokoh republik ini seperti menegaskan adagium, setiap masa punya pemimpin, dan setiap pemimpin ada masanya. Saat ini dua tokoh ini berada pada momentum yang pas.

Tahun-tahun terakhir ini Indonesia seperti sedang berada pada track yang monumental, tidak hanya di sektor infrastruktur, olah raga kita mulai bergerak ke arah yang benar. Kisruh sepak bola memasuki tahapan konsolidasi dengan manajemen organisasi yang lebih baik. Begitu pun cabang lain, Angkat Besi, Panjat Tebing, dan sudah pasti Bulu Tangkis.

Kini dengan perhelatan Asian Games yang sudah di depan mata publik mulai tak sabar. Benarkah akan lahir atau muncul prestasi baru, ataukah kita akan mendulang malu karena atlet atlet  kita tak  bisa menorehkan prestasi. Biarlah untuk menjawab itu semua kita tunggu saja perhelatan yang akan segera berlangsung.

Selama ini getir rasanya, terlebih melihat perkembangan negara-negara tetangga tampak semakin menanjak. Kita tidak perlu malu, dibandingkan negara-negara Asean saja, prestasi Indonesia boleh jadi paling bontot. Berat rasanya bersaing dengan Singapura, Thailand, Vietnam dan Malaysia. Indonesia paling-paling hanya bisa unggul menghadapi Myanmar dan Laos.

Ini bukan lagi mimpi, tetapi sungguh-sungguh realitas yang mencengangkan. Apa mau dikata kenyataan memang berbicara seperti itu. Mencermati fenomena ini sudah pasti ada yang salah dari pengelolaan negeri ini. Prestasi olah raga adalah penanda yang paling rasional untuk menakar dan mengukur bagaiman sebuah proses dijalankan secara benar. Menang dan kalah dalam olah raga adalah menang dan kalah itu sendiri tidak bisa ditafsir dalam pemaknaan yang lain.

Karena dalam perspektif olah raga prestasi itu diukur oleh indikator-indikator yang sangat obyektif dan tidak bisa ditekak-tekuk. Beranalagi saja, meski bola itu bundar, tetapi sekadar mengandalkan keberuntungan agaknya naif mengharapkan Timnas kita (baca Indonesia) mampu mengalahkan Timnas Brasil. Ada ukukuran-ukuran prestasi yang secara obyektif kita mengakui secara teknis memang kalah.Itulah yang dinamakan sportivitas.

Terhadap nilai-nilai sportivitas itu, bukan bermaksud memperolok tentang sistem pembinaan olah raga kita, namun mencermati atmosfir yang berkembang dalam kurun waktu satu dasar warsa terakhir secara jujur kita mengakui ada banyak hal yang mesti dikoreksi. Carut-marut ekonomi negeri ini, akibat krisis multidimensi membawa ekses pada pembinaan olah raga kita.

Kita terjebak dalam budaya instan. Padahal olah raga bukanlah politik, olah raga bukanlah klenik. Ada proses yang harus dilalui tahap demi tahap. Perlu atmosfir yang kondusif untuk mencetak seorang jawara. Prasyarat itu agaknya terlupakan, atau dilupakan oleh pembina-pembina olah raga kita karena terdistorsi oleh carut-marut krisis multimendsi yang mendera kita. Tak luput wabah budaya instan mengoyak dunia olah raga kita.

Lihat saja bagaimana kini organisasi-organisasi olah raga ikut-ikutan terjebak dalam pusaran permainan politik. Apa jadi seorang atlet mesti bicara politik. Sogok, suap dan komersialisme terjadi.  Yang demikian jelas merusak sendi-sendi olah raga yang menjunjung tinggi sportivitas dan idealisme. Rusak kalau idealisme seorang atlet sekadar diukur dengan nilai-nilai rupiah. Setiap kali PORDA, setiap kali PON bajak membajak atlet terjadi.

Carut-marut itulah yang membuat prestasi olah raga kita runtuh. Akhirnya kalau prestasi olah raga adalah penanda dari sebuah potret peradaban bangsa, maka kita layak berkabung atas kondisi yang mendera bangsa ini.


Jayanto Arus Adi



Komentar Pembaca
Inilah Reality Show yang Sesungguhnya

Inilah Reality Show yang Sesungguhnya

SENIN, 17 SEPTEMBER 2018

Assalamualaikum Gus Yassin

Assalamualaikum Gus Yassin

SELASA, 11 SEPTEMBER 2018

Lebaran, Mudik, dan Jokowi

Lebaran, Mudik, dan Jokowi

SELASA, 19 JUNI 2018

Ironi Ibu Pertiwi

Ironi Ibu Pertiwi

SENIN, 23 APRIL 2018

Nasionalisme Indonesia : Heroisme vs Hororisme
SBY Reborn, Kalkulasi Versus Spekulasi

SBY Reborn, Kalkulasi Versus Spekulasi

SELASA, 27 FEBRUARI 2018

#KataRakyat: Ulama Berpolitik, Emangnya Ngaruh?

#KataRakyat: Ulama Berpolitik, Emangnya Ngaruh?

RABU, 19 SEPTEMBER 2018 , 20:00:00

Airlangga Berpeluang Digarap KPK

Airlangga Berpeluang Digarap KPK

RABU, 19 SEPTEMBER 2018 , 15:00:00

Tak Ada Bukti Istana Terlibat Asia Sentinel

Tak Ada Bukti Istana Terlibat Asia Sentinel

RABU, 19 SEPTEMBER 2018 , 13:00:00

Foto Restorasi Candi

Foto Restorasi Candi

SELASA, 24 JULI 2018 , 19:07:00

Foto Memperbaiki Pipa Air

Foto Memperbaiki Pipa Air

SELASA, 24 JULI 2018 , 16:23:00

Foto Dampak Kenaikan Dolar Terhadap Harga Pangan

Foto Dampak Kenaikan Dolar Terhadap Harga Pangan

JUM'AT, 07 SEPTEMBER 2018 , 16:34:00