Lebaran, Mudik, dan Jokowi

Catatan Jayanto  SELASA, 19 JUNI 2018 , 16:55:00 WIB | OLEH: JAYANTO ARUS ADI

Lebaran, Mudik, dan Jokowi
Lebaran baru saja usai. Sepekan sudah perhelatan paling akbar di republik ini berangsur reda. Hiruk pikuk mudik tak lagi menghiasi perbincangan rutin di mana mana, sebab kini kampung berangsur kembali dengan orisinalitasnya, sebagai desa wilayah perdikan yang khas dengan segala corak yang menggoreskan banyak kisah dan kenangan. Aneh tapi nyata tetapi itulah sebuah realitas dari wajah budaya negeri ini. Tidak ada kemeriahan, gegap gempita yang melahirkan tsunami perhatian meliputi banyak ragam, mulai dari spiritual, kultural, ekonomi, politik, keamanan, dan seterusnya dan seterusnya.

Ya itulah mudik, tradisi yang tak dapat dijangkau oleh pemahaman awam, tanpa kita mencoba memahami pernik pernik kultural, spiritual dan simbol lain dari sebuah terminologi keberagaman yang luar biasa. Banyak pertanyaan ikutan yang bisa ditarik panjang, atau diperlebar dimensinya terkait dengan dimensi mudik ini. Siapa sesungguhnya yang menjadi pelaku di balik perhelatan mudik ini?? Kalau merelasikan dengan Lebaran sebagai muara Ramadhan, mudik adalah sebuah mega ibadah dari umat Islam. Tapi tidak sesederhana itu, ini adalah pesta semua manusia yang meleburkan banyak multi secara etnis, religi dan juga kultural.

Secara sederhana mudik, adalah panggung kolosal dari persembahan adi budaya bangsa Indonesia yang melibatkan segenap warga pertiwi.. Ada militansi, melebihi kesadaran sosial manapun mencermati sebuah kehebohan yang bernama mudik. Bayangkan saja Jakarta misalnya menjadi sepi dan lenggang karena 'penghuninya pergi - mudik ke kampung halamana. Sungguh aneh tapi nyata.

Dan Jakarta pun menjadi berubah. Kemacetan sirna, aktivitas berubah drastis, pendeknya Jakarta seperti tidak lagi menjadi sebuah Megapolitan yang digdaya.

Di sinilah satu misteri terjawab, ternyata Jakarta tidak ada apa apanya ketika penopang keriuhan atau mungkin lebih tepat, wajah kebesaranya memilih rehat mudik ke kampung halaman kecil. Ya kampung halaman kecil dari berjuta juta masyarakat Jakarta yang sebelumnya menjadi warga dari sebuah kampung besar, benama Jakarta ini sedang bermigrasi untuk sementara waktu. .

Yang terjadi kemudian adalah perjalanan panjang, safari mengular sepanjang jalur keluar dari ibukota. Pantura adalah adalah saksi mata setiap kehebohan mudik berlangsung, dan entah sudah berlangsung berapa tahun, mungkinkah mudik telah terjadi berabad lamanya??

Tidak hanya Pantura, namun hampir setiap pintu keluar Jakarta, ke Jawa Barat, dan penjuru mana pun nyaris penuh oleh mereka yang akan merayakan lebaran di kampung kecil, menjadi bagian dari tsunami mudik.

Nah, dari sisi inilah saya tak ingin memberi penjelasan panjang, tetapi pemerintahan ini telah bertindak tepat memberikan dukungan bagi mereka yang mudik. Mimpi buruk tragedi Brebes Exit (Brexit) tahun 2016 tidak lagi menjadi monster yang menakutkan. Langkah memanfaatkan trase tol sebagai jalur fungsional untuk mendukung infrastruktur mudik adalah sebuah keputusan cerdas nan bijak.

Kali ini pemudik seperti merasakan mimpi yang menjadi kenyataan. Umpatan dan keluhan karena infrastruktur mudik yang tak manusiawai mulai menunjukkan indeks yang tak menyeramkan lagi. Sebaliknya kegembiraan terpancar dari mereka yang berkonvoi, melakukan safari ratusan kilometer menuju kampung halaman. Pantura tak lagi menjadi neraka, meski tentu masih harus ditingkatkan lagi. Karena secara rasional, ketika semua stakeholder bersinergi benang kusut mudik secara obyektif dapat diurai, dan dipecahkan jalan keluar terbaik.

Hanya saja selama ini rezim demi rezim yang berkuasa sebelumnya seperti tidak punya kepekaan atau concern untuk mencarikan jalan keluar. Bayangkan republik yang telah memasuki tujuh dasa warsa lebih, dan itu berlangsung secara rutin setiap tahunnya, tetapi infastruktur mudik nyaris tidak pernah digarap, dan ditangani secara serius juga tuntas.

Baru sekarang ini saya melihat kesungguhan pemerintah itu ada, jelas dan fokus. Meski maaf catatan ini tidak ada tendensi untuk memuji Jokowi, tetapi goodwillnya terkait dukungan mudik Jokowi adalah presiden dengan prestasi terbaik.

Ya sedemikian memagnetnya soal mudik ini, masyarakat seperti jadi lupa dan tak begitu perhatian dengan agenda pestasi demokrasi di Jawa Tengah itu sendiri. Aneh tapi nyata 27 Juni mendatang warga Jawa Tengah akan punya hajatan Pemilihan Gubernur untuk menentukan dan memilih lurahnya Jawa Tengah lima tahun mendatang.

Lazimnya jelang perhelatan seperti ini hiruk pikuk uda mulai terjadi. Seperti yang terjadi di DKI beberapa waktu lalu, luar biasa dinamiknya. Sampai sampai demo berjilid jilid digelar untuk memberikan pesan juga tekanan terkait dukung mendukung kandidat yang berlaga. Jadi ini sangat kontras dengan yang terjadi di Jawa Tengah. Betapa tidak tahapan pilgub yang sudah berjalan memasuki pelaksanan kampanye, ternyata sepi sepi dan adem, bahkan cenderung anyep (tidak ada gregetnya). Pertanda apakah ini, apakah karena Pilgub memang jadi sebuah jualan yang tak menarik.

Padahal dua pasang kandidat yang berlaga juga pendekar yang cukup punya reputasi. Ganjar Pranowo sang petahana berpasangan dengan Gus Yassin dan satu lagi Sudirman Said berpasangan dengan Ida Fauziah. Siapa tidak kenal atau mengetahui nama besar dari dua pasangan itu. Tapi entah apa yang terjadi, Pilgub Jateng bukan lagi sekadar sepi, tetapi lebih tepat anyep. Ya mudah mudahan setelah Lebaran ini ada greget yang lebih terasa. Pilgub Jateng sebagaimana Tagline dari KPU Jateng sebagai penyelenggara yang melebelkan sebagai pesta demokrasi yang Guyub Tur Nyenengke, bukan Pilgub yang anyep anyepe, sepi. Semoga.


Jayanto Arus Adi

 



Komentar Pembaca
Langkah Ahimsa Seorang Sri Puryono

Langkah Ahimsa Seorang Sri Puryono

SABTU, 26 OKTOBER 2019

Mboten Ngapusi, Mboten Korupsi

Mboten Ngapusi, Mboten Korupsi

RABU, 18 SEPTEMBER 2019

Me-(l)-rapor Gubernur Ganjar

Me-(l)-rapor Gubernur Ganjar

MINGGU, 25 AGUSTUS 2019

Duuuh, Gubernur Ganjar

Duuuh, Gubernur Ganjar

MINGGU, 04 AGUSTUS 2019

Assalamualaikum Prof Yos, Jos Johan Utama
Setiap Zaman Ada Pemimpinnya, Setiap Pemimpin Ada Zamannya
Pameran Dirgantara Penerbad Semarang

Pameran Dirgantara Penerbad Semarang

JUM'AT, 08 NOVEMBER 2019 , 10:58:00

Kirab Budaya Lereng Gunung Prau Temanggung

Kirab Budaya Lereng Gunung Prau Temanggung

MINGGU, 10 NOVEMBER 2019 , 13:30:00

Aktifitas Petani Tembakau

Aktifitas Petani Tembakau

SABTU, 19 OKTOBER 2019 , 07:44:00